Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini, dalam agenda Rapat Kerja Komisi VII DPR RI bersama Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana di Gedung Nusantara I, Senayan.|Foto: Farhan/Karisma
PARLEMENTARIA, Jakarta - Daya saing pariwisata Indonesia di kawasan Asia Tenggara dinilai tidak cukup diukur dari tingginya devisa maupun jumlah kunjungan wisatawan mancanegara. Penguatan konektivitas udara dan pemetaan posisi Indonesia dibanding negara kompetitor disebut menjadi langkah penting agar sektor pariwisata nasional lebih kompetitif dan berdampak merata.
Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini mengingatkan Kementerian Pariwisata agar tidak terjebak pada kepuasan atas capaian angka devisa dan kunjungan wisatawan asing tanpa mengukur secara objektif posisi Indonesia di tengah persaingan kawasan ASEAN. Pandangan tersebut mengemuka dalam agenda Rapat Kerja Komisi VII DPR RI bersama Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta pada Rabu (3/6/2026).
“Kita melihat banyak devisa yang masuk sepanjang tahun 2025 serta tingginya angka kunjungan wisatawan mancanegara. Namun, kita belum melihat bagaimana posisi Indonesia secara objektif di Asia. Ada rumor besar di ASEAN bahwa sektor pariwisata Vietnam saat ini sudah jauh melampaui Indonesia,” ujar Novita.
Legislator Fraksi PDI-Perjuangan dari Dapil Jawa Timur VII tersebut meminta Kementerian Pariwisata mulai menyajikan data komparatif dengan negara-negara tetangga pada pembahasan berikutnya. Menurutnya, langkah itu diperlukan agar efektivitas anggaran sektor pariwisata dapat diukur melalui indikator capaian yang jelas dan tidak sekadar habis untuk promosi rutin.
Dalam kesempatan itu, Novita juga menyoroti pentingnya penguatan air connectivity sebagai penopang pertumbuhan destinasi wisata di daerah. Sebab, tegasnya, promosi besar-besaran tidak akan optimal jika tidak diikuti ketersediaan penerbangan langsung menuju kawasan wisata potensial.
Ia mencontohkan perlunya pembukaan rute strategis menuju sejumlah daerah guna memperluas sebaran wisatawan dan mencegah penumpukan kunjungan pada destinasi tertentu. Dengan konektivitas yang lebih baik, pertumbuhan sektor pariwisata dinilai dapat menjangkau lebih banyak daerah dan menggerakkan ekonomi lokal.
“Promosi yang masif akan menjadi sia-sia kalau direct flight tidak tersedia. Jangan sampai wisata hanya menumpuk di titik tertentu dan memunculkan over-tourism,” tegasnya.
Novita berharap evaluasi terhadap belanja sektor pariwisata dilakukan secara lebih ketat agar menghasilkan dampak nyata bagi daerah. Menurutnya, penguatan daya saing pariwisata Indonesia harus diikuti dengan kebijakan yang mampu memperluas akses dan pemerataan manfaat ekonomi di berbagai wilayah. (uc/um)