
Anggota Komisi V DPR RI Erna Sari saat mengikuti kunjungan kerja spesifik Komisi V DPR RI meninjau sarana dan prasarana LRT Jabodebek Lintas Bekasi (Bekasi Line). Bekasi.|Foto: Runi/jk
PARLEMENTARIA, Bekasi — Anggota Komisi V DPR RI Erna Sari Dewi menekankan pentingnya menjaga aspek keselamatan, kenyamanan, keterjangkauan tarif, serta keberlanjutan layanan Light Rail Transit (LRT) Jabodebek seiring meningkatnya penggunaan moda transportasi publik tersebut. Penguatan sistem pemeliharaan dan kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat dinilai Erna, menjadi bagian penting untuk memastikan layanan LRT tetap aman dan andal dalam jangka panjang.
Politisi Nasdem itu juga mengatakan, aspek keselamatan menjadi perhatian utama mengingat LRT Jabodebek merupakan sistem transportasi yang beroperasi secara otomatis penuh tanpa masinis. Karena itu, pemeliharaan sarana dan prasarana harus terus ditingkatkan, tidak hanya melalui preventive maintenance, tetapi juga diarahkan pada pemeliharaan prediktif berbasis sensor dan pemantauan secara real-time.
“Yang pertama-tama, kunjungan kita ke LRT ini ingin memastikan pelayanannya. Apakah nyaman, aman bagi pengguna, dan apakah kedepannya bisa berkelanjutan. Saya menyoroti soal keamanan dan keselamatan, karena keselamatan yang terpenting,” ujar Erna saat mengikuti kunjungan kerja spesifik Komisi V DPR RI yang meninjau sarana dan prasarana LRT Jabodebek Lintas Bekasi (Bekasi Line), Bekasi, Jawa Barat, Jumat (2/10/2026).
Menurutnya, penerapan predictive maintenance diperlukan untuk mendeteksi potensi gangguan lebih dini sehingga risiko kecelakaan dapat dimitigasi. Hal tersebut menjadi semakin penting karena sebagian besar sistem LRT beroperasi secara otomatis dan berada pada jalur layang.
“Karena ini seluruhnya otomatis dan sebagian besar berada di jalur layang, tentu keselamatan harus tetap menjadi nomor satu,” tegasnya.
Selain sistem pemeliharaan, Erna juga mendorong pelaksanaan simulasi keselamatan dan evakuasi secara berkala. Simulasi tersebut perlu memperhatikan kebutuhan kelompok rentan, seperti lanjut usia, anak-anak, serta penyandang disabilitas.
Ia menilai simulasi tidak sekadar dilakukan sebagai formalitas, tetapi harus mampu mengukur secara konkret waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penyelamatan apabila terjadi gangguan, bencana, maupun kecelakaan.
“Simulasi-simulasi ini harus sering dilakukan sehingga bisa ditetapkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penyelamatan jika terjadi bencana atau kecelakaan pada LRT,” jelasnya.
Di sisi lain, Komisi V DPR RI mengapresiasi pertumbuhan jumlah pengguna LRT Jabodebek. Sepanjang Semester I 2026, LRT Jabodebek tercatat melayani 16.018.911 pengguna, meningkat sekitar 23 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 13.040.403 pengguna. Rata-rata pengguna mencapai 115.095 orang per hari kerja.
Hingga Agustus 2026, jumlah pengguna telah mencapai 21,81 juta orang, dengan target operator melampaui 30 juta pengguna hingga akhir 2026. Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin besarnya kebutuhan masyarakat terhadap angkutan umum massal sebagai alternatif kendaraan pribadi.
Meski demikian, Erna menilai peningkatan jumlah pengguna harus diikuti dengan konsistensi kualitas pelayanan. Kebersihan, kenyamanan, keamanan, hingga keterjangkauan tarif perlu dipertahankan agar masyarakat tetap memiliki kepercayaan terhadap transportasi publik.
“Jangan sampai sesuatu yang baru pada awalnya terjaga dengan baik, kemudian pada akhirnya pelayanannya semakin berkurang. Konsistensi ini perlu dijaga,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga keterjangkauan tarif LRT sebagai bagian dari pelayanan publik. Menurutnya, peningkatan jumlah pengguna maupun pengembangan jaringan LRT harus tetap dibarengi dengan perhatian terhadap kemampuan masyarakat dalam mengakses layanan tersebut.
Dalam kunjungan tersebut, Erna juga melihat kesiapan operator dalam melakukan pemeliharaan serta ketersediaan suku cadang untuk mendukung keberlangsungan operasional. Sistem pemantauan LRT yang dapat bekerja secara otomatis dan real-time juga dinilai menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keandalan layanan.
Ke depan, ia mendorong pengembangan LRT dilakukan secara terintegrasi dengan moda transportasi lainnya. Integrasi antarmoda, ketersediaan angkutan pengumpan (feeder), akses pejalan kaki, fasilitas parkir, serta pengembangan kawasan berorientasi transit (Transit Oriented Development/TOD) dinilai dapat meningkatkan potensi pengguna, khususnya di koridor Bekasi.
“Harapan saya dilakukan perluasan sehingga jalur-jalur LRT ditambah lagi dan lebih terintegrasi. Dengan begitu, masyarakat akan lebih mudah mencapai tempat tujuannya,” pungkas Erna. (rni/we)