Anggota Komisi VII DPR RI Samuel JD Wattimena dalam kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR RI di Desa Wisata Penglipuran, Bangli, Bali.|Foto: RSA/Mahendra
PARLEMENTARIA, Bangli - Anggota Komisi VII DPR RI Samuel JD Wattimena menilai Desa Wisata Penglipuran yang berada di Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, menjadi contoh keberhasilan desa wisata yang mampu mempertahankan identitas lokal di tengah berkembangnya sektor pariwisata. Menurutnya, keunikan yang tetap dijaga masyarakat justru menjadi kekuatan utama yang membuat Desa Wisata Penglipuran memiliki daya saing hingga tingkat global.
“Potensinya sangat besar karena desa ini mempertahankan keunikan dan memahami apa yang mereka miliki. Masyarakat menjadi pendukung utama dalam menjaga desa ini. Pariwisata adalah efek tambahan, tetapi mereka menjaga desa ini bukan dengan tujuan supaya menjadi pariwisata,” ujar Samuel kepada Parlementaria usai melakukan kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR RI di Desa Wisata Penglipuran, Bangli, Bali, pada Kamis (9/7/2026).
Politisi PDI-Perjuangan itu mengatakan, pendekatan yang diterapkan masyarakat Penglipuran layak menjadi contoh bagi desa-desa wisata lain di Indonesia. Di tengah persaingan destinasi wisata dunia, menurutnya, identitas lokal justru menjadi kekuatan yang mampu menarik perhatian wisatawan.
“Kalau kita sekarang menjadi pemain dunia, maka sesuatu yang lokal akan punya kekuatan global. Istilah dari saya local is the new global,” kata Samuel.
Samuel menjelaskan, kunjungan Komisi VII dilakukan agar para anggota dapat melihat secara langsung praktik pengelolaan desa wisata yang berhasil menjaga keseimbangan antara pelestarian adat dan pengembangan pariwisata.
“Beberapa anggota Komisi VII baru mendengar tentang Desa Penglipuran, tetapi belum pernah datang langsung. Karena itu kami merasa perlu mengunjungi desa ini supaya merasakan vibrasinya dan energinya. Ketika masuk ke desa yang masyarakatnya masih melindungi adat istiadat, itulah keunikan Nusantara yang harus dipertahankan,” ungkapnya.
Selain mengapresiasi keberhasilan Desa Wisata Penglipuran, Legislator Dapil Jawa Tengah I ini juga menilai masih terdapat ruang pengembangan, khususnya pada sektor UMKM. Ia mendorong agar produk yang dipasarkan kepada wisatawan lebih mencerminkan identitas Penglipuran sehingga menjadi daya tarik tersendiri.
Menurutnya, potensi tersebut dapat diwujudkan melalui pengembangan produk kerajinan, kuliner, maupun cendera mata khas yang hanya dapat ditemukan di Desa Penglipuran. Bahkan, tambah Samuel, aktivitas masyarakat seperti pembuatan anyaman dapat dikembangkan menjadi bagian dari pengalaman wisata.
“Orang datang ke sini sebaiknya bisa membawa pulang sesuatu yang benar-benar khas Penglipuran. Jangan hanya kaus atau topi bertuliskan Penglipuran. Bisa berupa kuliner, kerajinan, atau produk kreatif lainnya yang menjadi ciri desa ini. Itu akan menjadi magnet baru bagi wisatawan,” jelasnya.
Sementara itu, Kelian Desa Adat Penglipuran I Wayan Budiarta menyambut baik berbagai masukan yang disampaikan Komisi VII. Menurutnya, hasil evaluasi bersama tersebut menjadi dorongan bagi Desa Penglipuran untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan prinsip keberlanjutan yang selama ini menjadi kekuatan desa.
“Komisi VII mendorong agar Penglipuran tetap berkreativitas, menjaga eksistensi, kontinuitas, dan sustainability-nya. Ada beberapa saran untuk menambah aktivitas sehingga daya tarik wisata Penglipuran semakin meningkat,” ujar Wayan.
Wayan menambahkan pihaknya terus menggali berbagai potensi baru yang dimiliki desa, mulai dari pengembangan agrowisata, ekowisata berbasis pertanian, pemanfaatan lahan masyarakat yang belum produktif, kawasan hutan bambu, hingga wisata edukasi.
“Masih banyak potensi yang bisa kami kembangkan. Ke depan kami akan terus menggali potensi-potensi tersebut agar menjadi daya tarik baru bagi wisatawan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (rsa/aha)