
Anggota DPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) saat diskusi bersama jajaran akademisi dan peneliti S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU), Singapura.|Foto: Ist/jk
PARLEMENTARIA, Jakarta — Anggota DPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), menekankan pentingnya keberlanjutan kebijakan pembangunan, kepemimpinan visioner, dan penguatan kerja sama Indonesia–Singapura dalam menghadapi tantangan global. Menurutnya, pembangunan nasional membutuhkan perencanaan jangka panjang yang konsisten agar mampu meningkatkan daya saing dan kesejahteraan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Ibas dalam diskusi bersama jajaran akademisi dan peneliti S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU), Singapura, baru-baru ini. Diskusi bertema “Indonesia’s Strategic Outlook: Navigating Geopolitical Competition and Strengthening ASEAN Centrality” tersebut membahas dinamika geopolitik, tantangan pembangunan nasional, kebijakan ekonomi, serta peluang penguatan kerjasama strategis di kawasan ASEAN.
Dalam forum tersebut, Ibas menilai hubungan Indonesia dan Singapura memiliki arti penting bagi stabilitas kawasan dan pertumbuhan ekonomi. Kerja sama kedua negara perlu diperkuat melalui perdagangan, investasi, pendidikan, riset, pengembangan teknologi, serta peningkatan ketahanan pangan dan energi.
“Indonesia tidak bisa membangun masa depannya sendirian. Kita membutuhkan kerja sama dengan Singapura dan negara-negara ASEAN lainnya untuk memperkuat ketahanan kawasan, membuka peluang ekonomi, dan menjawab tantangan yang semakin kompleks. Kita harus bergerak maju bersama,” ujar Politisi Fraksi Partai Demokrat ini dalam keterangan tertulis kepada Parlementaria, di Jakarta, Selasa (13/10/2026)
Selain kerja sama regional, Ibas menyoroti pentingnya kesinambungan arah pembangunan nasional di tengah pergantian kepemimpinan. Menurutnya, rencana pembangunan jangka panjang, menengah, dan pendek harus saling terintegrasi agar agenda strategis nasional tetap berjalan. Ia juga menekankan pentingnya mekanisme checks and balances untuk menjaga akuntabilitas pemerintahan serta memastikan kebijakan dan penggunaan anggaran negara berpihak pada kepentingan masyarakat.
“Pemimpin datang dan pergi, tetapi bangsa ini harus terus berjalan maju. Kita memerlukan keberlanjutan kebijakan, tanpa kehilangan kemampuan untuk mengevaluasi, memperbaiki, dan beradaptasi terhadap perubahan zaman,” katanya.
Di bidang ekonomi, Ibas menegaskan bahwa pertumbuhan harus disertai pemerataan, penciptaan lapangan kerja, dan perlindungan terhadap kelompok masyarakat rentan. Ia menilai keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur melalui pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dan peningkatan investasi, tetapi juga perlu tercermin dalam peningkatan pendapatan, produktivitas, serta terbukanya kesempatan kerja yang layak bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Ibas juga mengingatkan pentingnya disiplin fiskal dan peningkatan kualitas belanja negara. Menurutnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus dikelola secara terukur dan berorientasi pada hasil, dengan mempertimbangkan kemampuan fiskal, risiko pembiayaan, serta dampaknya terhadap generasi mendatang. Pelaksanaan program pembangunan juga perlu didukung pengawasan, evaluasi, dan indikator keberhasilan yang jelas.
Dalam menghadapi ketidakpastian global, Ibas turut mendorong penguatan ketahanan pangan dan energi serta pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan. Ia melihat pengembangan energi bersih, ekonomi maritim, dan pemanfaatan sumber daya laut sebagai peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Kolaborasi regional dinilai dapat mempercepat transformasi tersebut dan memperluas manfaatnya bagi masyarakat.
Menutup diskusi, Ibas menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pembangunan nasional. Ia mendorong perluasan akses pendidikan, peningkatan kompetensi, serta pembukaan ruang partisipasi bagi anak muda dalam proses pengambilan keputusan publik.
“To lead is to listen. Untuk memimpin, kita harus mau mendengarkan. Dan untuk memimpin ke masa depan, kita harus memiliki visi yang jelas,” ungkapnya.
Pertemuan tersebut turut hadir mendampingi Edhie Baskoro Yudhoyono diantaranya Fathi, Hillary Brigita Lasut, Andry Hakim Founder & CIO Stockwise; Dr. David Sutyanto; Ilham Mendrofa; Renanda Bachtar; Jansen Sitindaon.
Sementara dari S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU), hadir H.E. Ambassador Ong Keng Yong, Executive Deputy Chairman RSIS; Nicholas Lim, Senior Fellow sekaligus Coordinator of Defence and Military Relations, RSIS; Alexander A. Arifianto, Senior Fellow sekaligus Coordinator of Indonesia Programme, RSIS; Leonard C. Sebastian, Senior Fellow, Indonesia Programme, RSIS; Adhi Priamarizki, Senior Associate Fellow, Indonesia Programme, RSIS; serta Muhammad Faizal Bin Abdul Rahman, Research Fellow, Regional Security Architecture Programme, RSIS.Bagi Ibas, kunjungan tersebut juga memiliki makna personal karena sekitar 19 tahun lalu dirinya pernah menempuh pendidikan di RSIS.
“RSIS selalu ada di hati saya. Sekitar 19 tahun lalu saya pernah belajar di sini. Karena itu, bagi saya, kembali ke RSIS bukan sekadar menghadiri pertemuan, tetapi juga kembali ke tempat yang memiliki arti dalam perjalanan pendidikan saya,” tuturnya. (rnm/rdn)