
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI dengan Perum Perumnas, di Senayan, Jakarta.|Foto: Farhan/Karisma
PARLEMENTARIA, Jakarta - Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade mengapresiasi transformasi yang dilakukan Perum Perumnas, khususnya melalui pengembangan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD) yang dinilai menjadi langkah strategis dalam penyediaan hunian layak dan terjangkau sekaligus mendukung Program Tiga Juta Rumah.
“Komisi VI DPR RI mengapresiasi langkah transformasi yang telah dilakukan Perum Perumnas termasuk pengembangan kawasan terintegrasi dengan simpul transportasi umum revitalisasi rumah susun serta restrukturisasi dan optimalisasi aset perusahaan,”ujar Andre saat membuka Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI dengan Perum Perumnas, di Senayan, Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Meski demikian, lanjutnya, pihaknya juga mencermati masih adanya tantangan terutama terkait tekanan kinerja keuangan, tingginya beban utang, dan keterbatasan permodalan yang perlu segera diatasi. Pasalnya, menurut Andre sektor perumahan memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Karena itu, Perumnas tidak hanya dituntut menjaga kinerja korporasi, tetapi juga menjalankan mandat sosial pemerintah, melalui penyediaan Hunian yang layak dan terjangkau bagi masyarakat serta mendukung program 3 juta rumah. Politisi dari Fraksi Partai Gerindra ini menilai keberhasilan Program Tiga Juta Rumah tersebut membutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan.
Menanggapi hal tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Perum Perumnas Imelda Alini Pohan menjelaskan, bahwa pengembangan kawasan TOD menjadi salah satu fokus utama perusahaan, dalam menghadirkan hunian yang terintegrasi dengan transportasi publik dan pusat aktivitas masyarakat.
"Salah satu fokus utama kami adalah membangun kawasan berbasis Transit Oriented Development atau TOD. Melalui konsep ini masyarakat tidak hanya memperoleh hunian tetapi juga kemudahan akses pada transportasi publik, pusat aktivitas ekonomi serta lingkungan yang lebih terintegrasi," jelas Imelda.
Ia mengatakan pengembangan TOD dilakukan melalui sinergi dengan PT KAI sebagai pemilik lahan di sekitar stasiun serta melibatkan BUMN Karya dalam proses pembangunan. Menurutnya, kawasan TOD tidak hanya ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke atas, tetapi juga menyediakan hunian subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
"Meskipun rumah subsidi, para penghuni tetap bisa menikmati kawasan, fasilitas dan kualitas lingkungan yang baik. Alhamdulillah respons pasar juga cukup baik, dengan tingkat penjualan kami sudah 80 sampai 90 persen. Ini menunjukkan bahwa masyarakat menerima dengan baik konsep hunian TOD ini dan kedepannya ini yang menjadi dasar kami untuk membangun TOD-TOD lainnya," ujar Imelda. (ayu/we)