
Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana saat RDPU tentang Sisdiknas di Ruang Rapat Komisi X DPR RI.
PARLEMENTARIA, Jakarta — Seiring dengan proses pembahasan RUU Sistem Pendidikan Nasional, sejumlah akademisi mengusulkan mata pelajaran geografi menjadi mata pelajaran wajib. Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana mengatakan usulan tersebut harus dipelajari terlebih dahulu sehingga tidak memberatkan siswa.
Ia mengakui penambahan mata pelajaran geografi menjadi wajib memang sesuai dengan perkembangan zaman. Menurutnya geografi berperan strategis dalam menumbuhkan cinta tanah air, literasi lingkungan, kesadaran kebencanaan, serta keterampilan berpikir kritis-kreatif.
“Bung Karno dan Bung Hatta paham betul soal geografi, bahkan dulu sekelas pendidikan dasar memang diajarkan ilmu geografi sehingga menghasilkan satu generasi politikus intelektual yang mempunyai kesadaran dalam geopolitik, bahkan Bung Karno dalam wawancaranya bersama wartawan asal Prancis ia menjelaskan betapa strategisnya posisi Indonesia dan ia sangat paham,” imbuhnya saat RDPU tentang Sisdiknas di Ruang Rapat Komisi X DPR RI, Rabu (8/4/2026).
Ia mengakui penguatan posisi geografi dalam kurikulum nasional bukan sekadar urusan akademik, tetapi langkah strategis untuk menjaga ketahanan bangsa. Selain itu, mengelola kekayaan alam, dan membangun generasi emas yang berdaya saing global sekaligus berakar kuat pada identitas kebangsaan.
“Saya setuju saja usulan ini saya akui memang geografi ini sangat penting dan harus dimasukan dalam kurikulum nasional, namun beban siswa juga harus diperhatikan jangan sampai murid menjadi terbebani dan bahkan mengakibatkan nilai akademiknya menjadi kurang karena begitu banyaknya mata pelajaran wajib,” tuturnya.
Di sisi lain, ia menyampaikan negara-negara maju seperti Jepang, Korea, Jerman, Inggris, Australia dan lainnya menempatkan Geografi sebagai mata pelajaran inti / wajib untuk memperkuat identitas nasional, literasi spasial, dan ketahanan lingkungan.
“Jadi gini apabila memang diterapkan mata pelajaran Geografi harus diatur berjenjang, jangan sampai anak SD disajikan ilmu Geografi dalam skala besar karena mereka belum siap, kemudian mempertimbangkan daya serap setiap anak sehingga tidak terbebani karena beban mata pelajaran yang begitu banyak,” katanya. (tn/aha)