
Anggota Komisi IV DPR RI Riyono Caping. |Foto: Mario/Karisma
PARLEMENTARIA, Jakarta — Penanganan kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa melalui pembangunan giant seawall (tanggul laut raksasa) perlu dirancang sebagai bagian dari pengelolaan kawasan pesisir secara terpadu, bukan sekadar membangun penghalang fisik terhadap banjir rob. Pernyataan ini disampaikan oleh Anggota Komisi IV DPR RI Riyono Caping saat ditemui oleh Parlementaria di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Pasalnya, pendekatan infrastruktur harus berjalan bersama dengan penguatan fungsi ekologis kawasan. Ia menerangkan konsep giant seawall yang akan diterapkan di Pantura perlu memperhatikan karakteristik wilayah pesisir dan ancaman perubahan iklim. Sebab itu, ungkapnya, pembangunan infrastruktur perlindungan pantai harus dipadukan dengan berbagai pendekatan lingkungan.
“Jangan dibayangkan hanya tembok beton yang kemudian menghadapi nanti kerasnya rob, kemudian juga perubahan iklim, kemudian juga ombak, tetapi akan berbentuk secara kompleks,” ujar Riyono
Dirinya menjelaskan, pengelolaan kawasan dalam konsep tersebut dapat mencakup pembangunan infrastruktur sekaligus penanaman vegetasi pesisir dan pengelolaan kawasan mangrove. Selain itu, tuturnya, aspek teknis seperti pengukuran batimetri juga perlu diperhatikan demi memastikan penanganan sesuai dengan kondisi kawasan.
“Mulai dari bangunan, kemudian ada tanaman di wilayah pesisir, pengelolaan kawasan mangrove, kemudian juga pengelolaan kawasan mulai dari pengukuran secara batimetri,” kata Politisi Fraksi PKS itu.
Menurut Riyono, pendekatan tersebut penting agar pembangunan tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga mempertahankan fungsi ekologis kawasan pesisir. Pun, ia menekankan pula pengelolaan masyarakat di sekitar kawasan juga harus menjadi bagian dari pendekatan yang perlu diperhitungkan.
Riyono menyebut konsep giant seawall ini meniru pendekatan yang sebelumnya diterapkan di sejumlah negara, termasuk Belanda dan Korea. Namun, penerapannya di Pantura Jawa harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan karakteristik wilayah Indonesia.
Ia menilai pengelolaan kawasan Pantura membutuhkan perencanaan jangka panjang agar infrastruktur yang dibangun mampu menghadapi ancaman rob dan perubahan iklim secara berkelanjutan. Karena itu, Riyono meminta BOP Pantura Jawa memastikan pembangunan giant seawall tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari sistem pengelolaan pesisir yang memadukan perlindungan fisik dan ekologis. (fa/um)