E-Media DPR RI – Referensi Berita Parlemen Terkini
BerandaBeritaBukuBuletinMajalahTVR ParlemenMedia Sosial DPRAgenda DPRWebsite DPRMagang di DPR
SEKRETARIAT JENDERAL DPR RI
PPID DPR RI
TRENDING:
Baleg|RUU Satu Data|RUU SDI|Komisi IV|Komisi V|RUU Satu Data Indonesia|Edhie Baskoro Yudhoyono|Komisi III|Komisi XII|Komisi II|RUU Perampasan Aset|petani|Petani Tebu
Jakarta:
Berawan
31°C
Terasa: 35°C
Lembab: 50%
Angin: 9 km/h
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Partner 1Partner 2

E-Media DPR RI

Biro Pemberitaan Parlemen Sekretariat Jenderal DPR RI - Gedung Nusantara II Lt.2, Kompleks Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jl. Jend. Gatot Subroto, Senayan Jakarta – Indonesia 10270

© 2026 E-Media DPR RI. All rights reserved.

E-Media DPR RI – Referensi Berita Parlemen Terkini
BerandaBeritaBukuBuletinMajalahTVR ParlemenMedia Sosial DPRAgenda DPRWebsite DPRMagang di DPR
SEKRETARIAT JENDERAL DPR RI
PPID DPR RI
TRENDING:
Baleg|RUU Satu Data|RUU SDI|Komisi IV|Komisi V|RUU Satu Data Indonesia|Edhie Baskoro Yudhoyono|Komisi III|Komisi XII|Komisi II|RUU Perampasan Aset|petani|Petani Tebu
Jakarta:
Berawan
31°C
Terasa: 35°C
Lembab: 50%
Angin: 9 km/h
/
/
E-Media DPR RI – Referensi Berita Parlemen Terkini
BerandaBeritaBukuBuletinMajalahTVR ParlemenMedia Sosial DPRAgenda DPRWebsite DPRMagang di DPR
SEKRETARIAT JENDERAL DPR RI
PPID DPR RI
TRENDING:
Baleg|RUU Satu Data|RUU SDI|Komisi IV|Komisi V|RUU Satu Data Indonesia|Edhie Baskoro Yudhoyono|Komisi III|Komisi XII|Komisi II|RUU Perampasan Aset|petani|Petani Tebu
Jakarta:
Berawan
31°C
Terasa: 35°C
Lembab: 50%
Angin: 9 km/h
/
/
Berita/Kesejahteraan Rakyat

Puluhan Ribu Balita Terpapar ISPA Akibat Karhutla, Legislator Minta Wilayah Terdampak Ditetapkan KLB

Diterbitkan
Kamis, 24 Sep 2026 08.27 WIB
Bagikan:
Puluhan Ribu Balita Terpapar ISPA Akibat Karhutla, Legislator Minta Wilayah Terdampak Ditetapkan KLB

Anggota Komisi IX DPR Irma Suryani Chaniago.|Foto: Jaka/jk

PARLEMENTARIA, Jakarta — Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani Chaniago meminta Pemerintah menetapkan wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Hal ini menyusul puluhan ribu anak balita yang terpapar infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kabut asap Karhutla. 

 

“Akibat Karhutla ini, ISPA membayangi masyarakat terdampak dan Pemerintah c/q Kemenkes harus segera menetapkan wilayah terdampak sebagai KLB karena jangkauan Karhutla semakin luas dan korban ISPA semakin banyak,” kata Irma Suryani dalam keterangan persnya, Rabu (23/9/2026). 

Lihat Juga :

Pemerintah Diminta Tetapkan KLB di Wilayah Terdampak Kabut Asap, Antisipasi Lonjakan ISPA

Pemerintah Diminta Tetapkan KLB di Wilayah Terdampak Kabut Asap, Antisipasi Lonjakan ISPA

Martin Manurung Minta Kebijakan Tegas untuk Wilayah Paling Parah Terdampak Bencana

Martin Manurung Minta Kebijakan Tegas untuk Wilayah Paling Parah Terdampak Bencana

 

Sebagai informasi, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat ada sebanyak 174.694 kasus ISPA Karhutla sejak Agustus hingga September 2026. Data tersebut dihimpun dari 63 kabupaten/kota di 7 provinsi terdampak yakni di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. 

 

Dari total ratusan ribu kasus tersebut, sebanyak 40.363 pasien di antaranya merupakan balita atau anak 0-5 tahun. Selain itu, Kemenkes juga menyoroti adanya tren peningkatan kasus ISPA akibat Karhutla jika dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya. 

 

Terkait hal ini, Irma mendorong Kemenkes untuk lebih mengoptimalkan penyaluran tenaga medis di daerah terdampak Karhutla. “Mengingat dampak Karhutla terhadap masyarakat, terutama bayi dan balita saya minta Kementerian Kesehatan wajib segera turun kan tim medis agar masyarakat terhindar dari sakit mata dan ISPA,” tuturnya. 

 

Irma pun menilai, laporan sedikitnya 40 ribu balita terinfeksi ISPA di wilayah terdampak Karhutla menunjukkan bahwa

kabut asap telah berkembang menjadi kedaruratan kesehatan anak. Apalagi selain ISPA, kabut asap Karhutla juga menyebabkan iritasi mata, hingga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. 

 

“Kandungan partikel pada kabut asap Karhutla sangat membahayakan kesehatan. Khususnya bagi balita dan warga dari kelompok rentan,” ungkap Irma. 

 

Di media sosial, banyak masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak Karhutla mengeluhkan kualitas udara buruk menyebabkan anak-anak mereka, termasuk yang masih bayi mengalami sesak, pneumonia, hingga membutuhkan perawatan rumah sakit. Bahkan ada anak yang sampai mengeluarkan darah ketika batuk. 

 

Menurut Irma, kesaksian para orang tua tersebut memperlihatkan bahwa penanganan masalah kesehatan buntut Karhutla tidak dapat menunggu anak datang dalam kondisi berat. “Bayi dan balita menghadapi risiko lebih tinggi karena sistem pernapasan dan daya tahan tubuh mereka masih berkembang. Paparan yang berlangsung berhari-hari juga dapat memperberat pneumonia, asma, serta penyakit bawaan,” sebutnya. 

 

"Ketika puluhan ribu balita mulai mengalami gangguan pernapasan, Negara tidak cukup hanya mengimbau mereka tetap berada di rumah. Banyak keluarga bahkan tidak mempunyai ruang dengan udara yang aman. Perlindungan harus mendatangi anak-anak sebelum sesaknya memburuk,” sambung Irma. 

 

Anggota Komisi Kesehatan DPR ini pun mendorong Kemenkes untuk menetapkan respons kesehatan khusus anak di seluruh kabupaten dan kota dengan kualitas udara berbahaya. Irma menegaskan, harus ada intervensi kesehatan terhadap korban kabut asap Karhutla. 

 

“Puskesmas, posyandu, dan rumah sakit harus secara aktif mendata bayi, balita, ibu hamil, anak dengan asma, pneumonia, penyakit jantung, serta kelompok berisiko lain untuk memperoleh pemantauan berkala, pemeriksaan dini, dan rujukan tanpa menunggu kondisi gawat,” paparnya. 

 

Lebih lanjut, Irma meminta Pemerintah agar menjamin kesiapan layanan anak berupa dokter, ruang perawatan, oksigen, nebulizer, obat saluran pernapasan, ambulans, dan kapasitas rujukan. “Ketersediaannya harus dipetakan setiap hari agar kekurangan di satu daerah segera dipenuhi dari daerah penyangga sebelum rumah sakit mengalami kepadatan,” ucap Irma. 

 

Irma juga menyoroti laporan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) di mana disampaikan bahwa 7 provinsi terdampak Karhutla yang kualitas udaranya berada pada 'status tidak sehat', 'sangat tidak sehat', dan 'berbahaya'. Ada dua provinsi yang masuk dalam status berbahaya yakni Kalteng dan Kalsel. 

 

Banyak daerah terdampak Karhutla yang tercatat memiliki partikel debu berdiameter 10 mikrometer (PM10) hingga lebih dari 1.000 mikrogram per meter kubik. Padahal, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), udara dikatakan baik jika kandungan PM10 maksimal 45 mikrogram per meter kubik dalam 24 jam. 

 

Dengan masih ‘pekat’ nya kabut asap di sejumlah wilayah, Irma menilai potensi krisis kesehatan masih akan terus terjadi sehingga Pemerintah perlu memberikan bantuan terhadap biaya pemeriksaan, pengobatan, dan rawat inap warga terdampak Karhutla. “Termasuk tindak lanjut bagi anak yang terdampak kabut asap Karhutla, harus dijamin sepenuhnya oleh Pemerintah,” tegas Anggota Fraksi NasDem itu. 

 

Menurut Irma, persoalan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), tunggakan iuran, maupun administrasi kependudukan tidak boleh menghambat penanganan kegawatdaruratan. 

 

“Pemerintah selanjutnya perlu membuka mekanisme klaim dan pembiayaan khusus agar fasilitas kesehatan tidak menunda pelayanan karena ketidakpastian pembayaran. Setiap anak yang sesak harus memperoleh pelayanan segera, tanpa hambatan biaya maupun administrasi,” lanjut Irma. 

 

Di sisi lain, Irma mengingatkan agar data kesehatan harus diumumkan secara berkala menurut wilayah dan kelompok usia. “Pemerintah perlu menjelaskan jumlah anak yang sakit, kebutuhan perawatan, kapasitas rumah sakit, dan tindakan yang telah dilakukan,” tukas Legislator dari Dapil Sumatera Selatan II tersebut. 

 

Irma memandang, keterbukaan diperlukan agar keluarga dapat mengambil keputusan yang aman sekaligus memungkinkan bantuan nasional diarahkan ke wilayah yang paling membutuhkan. “Anak yang mengalami pneumonia atau paparan berat perlu dipantau lebih lanjut untuk mencegah gangguan pernapasan berkepanjangan,” jelas Irma. 

 

Tak hanya itu, Irma juga mendorong Kemenkes untuk menyampaikan rencana pengendalian dampak hingga setelah kabut asap mereda. "Ukuran keberhasilan respons kesehatan bukan banyaknya masker yang dibagikan, melainkan berkurangnya anak yang sesak, tertanganinya pasien sebelum kondisinya berat, dan terjaminnya pemulihan setiap anak yang terdampak,” pungkasnya. (aha)

Berita terkait

Pemerintah Diminta Tetapkan KLB di Wilayah Terdampak Kabut Asap, Antisipasi Lonjakan ISPA
Kesejahteraan Rakyat
Pemerintah Diminta Tetapkan KLB di Wilayah Terdampak Kabut Asap, Antisipasi Lonjakan ISPA
Martin Manurung Minta Kebijakan Tegas untuk Wilayah Paling Parah Terdampak Bencana
Ekonomi dan Keuangan
Martin Manurung Minta Kebijakan Tegas untuk Wilayah Paling Parah Terdampak Bencana
Legislator Minta Pemerintah Antisipasi Meluasnya Karhutla, Dorong Bantuan Warga Terdampak
Industri dan Pembangunan
Legislator Minta Pemerintah Antisipasi Meluasnya Karhutla, Dorong Bantuan Warga Terdampak
Tags:#Komisi IX#karhutla#ISPA#Irma Suryani
Sebelumnya

11 Pekerja PLN Sumsel yang Di-PHK Akan Kembali Bekerja

Selanjutnya

Lasarus Desak Pemerintah Tetapkan Target Nasional Layanan Air Bersih

Kembali ke Berita

TAUTAN CEPAT

Berita Populer
Pencarian Lanjutan

KATEGORI

  • Semua Kategori
  • Buletin Parlementaria(5)
  • Ekonomi dan Keuangan(1197)
  • Industri dan Pembangunan(4121)
  • Isu Lainnya(1093)
  • Kesejahteraan Rakyat(4108)
  • Majalah Parlementaria(5)
  • Politik dan Keamanan(4985)
  • Populer(418)
  • Uncategorized(4)

TAG POPULER

#Seputar Parlemen#Berita Utama#Komisi X#Komisi III#Komisi VIII#Komisi IV#Komisi IX#BKSAP#Komisi II#Komisi VII

ARSIP BERITA

INFOGRAFIS

Laporan Kinerja DPR RI Tahun Sidang 2025-2026 DPR RI Berdampak : Wujudkan Daulat Rakyat Melalui Parlemen Modern, Demokratis, dan Responsif

Full Akses : https://anyflip.com/fhwbw/tjuv

Parlemen Remaja 2026
Majalah Parlementaria Edisi 259

Link: https://online.anyflip.com/fhwbw/eljp/mobile/index.html

Magang PPID Setjen DPR RI

Link: https://magang.dpr.go.id/register?lowongan=84

Turut berduka cita atas musibah tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa, Minggu (13/9/2026).

Turut berduka cita atas musibah tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa, Minggu (13/9/2026).

Lomba Orasi Bintang Orator
Lomba Orasi Bintang Orator

PODCAST

IKUTI KAMI

E-Media DPR RI – Referensi Berita Parlemen Terkini
BerandaBeritaBukuBuletinMajalahTVR ParlemenMedia Sosial DPRAgenda DPRWebsite DPRMagang di DPR
SEKRETARIAT JENDERAL DPR RI
PPID DPR RI
TRENDING:
Baleg|RUU Satu Data|RUU SDI|Komisi IV|Komisi V|RUU Satu Data Indonesia|Edhie Baskoro Yudhoyono|Komisi III|Komisi XII|Komisi II|RUU Perampasan Aset|petani|Petani Tebu
Jakarta:
Berawan
31°C
Terasa: 35°C
Lembab: 50%
Angin: 9 km/h