
Ketua MPR RI, Ahmad Muzani.|Foto: Munchen/Karisma
PARLEMENTARIA, Jakarta — Di antara para pejabat negara yang memenuhi Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026), sosok Muhammad Risky Pratama tampak mencuri perhatian. Mengenakan pakaian daerah, bocah 12 tahun itu duduk di tengah forum kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2026.
Tidak banyak yang menyangka, anak yang hari itu hadir di hadapan Presiden Prabowo Subianto, pimpinan lembaga negara, serta para anggota DPR dan DPD RI tersebut pernah mengalami masa ketika sekolah bukan menjadi bagian dari kesehariannya.
Risky, siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan, pernah putus sekolah. Dalam kondisi tersebut, ia bahkan harus mengayuh sepeda puluhan kilometer sambil membawa sekitar 30 kilogram ikan untuk dijual. Ketika kembali memperoleh kesempatan bersekolah, kemampuan membaca dan berhitungnya pun masih perlu dikejar.
Namun, perjalanan Risky kemudian berubah.
Ia kembali duduk di bangku sekolah melalui Sekolah Rakyat. Di sekolah yang menerapkan sistem pendidikan berasrama itu, Risky memperoleh kesempatan untuk kembali belajar, mendapatkan fasilitas pendidikan, serta menata kembali cita-citanya.
Kisah Risky menjadi salah satu cerita yang hadir dalam Sidang Tahunan MPR RI 2026. Presiden Prabowo Subianto memperkenalkan Risky sebagai gambaran bahwa investasi pendidikan dapat berarti mengembalikan masa depan seorang anak.
Bagi Ketua MPR RI Ahmad Muzani, kisah semacam itu sejalan dengan tanggung jawab negara untuk memastikan setiap anak mendapatkan hak pendidikan.
Dalam pidatonya, Muzani mengatakan konstitusi melalui Pasal 31 UUD NRI Tahun 1945 telah mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Menurutnya, kehadiran Sekolah Rakyat merupakan bentuk kesungguhan pemerintah dalam menjamin akses pendidikan, termasuk bagi masyarakat kurang mampu.
“Sekolah Rakyat hadir sebagai bentuk kesungguhan pemerintah menjamin akses pendidikan bagi masyarakat, termasuk masyarakat kurang mampu,” ujar Muzani. Ia juga menyinggung kehadiran Sekolah Unggul Garuda yang diarahkan untuk mencetak talenta unggul di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).
Pesan tersebut selaras ketika melihat perjalanan Risky. Anak yang sebelumnya harus membantu ekonomi keluarga dengan berjualan ikan kini kembali memiliki ruang untuk belajar dan membangun cita-cita.
Kisah Risky juga memperlihatkan bagaimana kebijakan pendidikan tidak berhenti pada angka pembangunan sekolah atau jumlah peserta didik. Di baliknya terdapat anak-anak yang membutuhkan kesempatan kedua untuk kembali belajar dan berkembang.
Presiden Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR RI menyampaikan bahwa pemerintah telah membangun 182 Sekolah Rakyat di berbagai wilayah Indonesia. Sekolah tersebut mengusung konsep asrama dengan fasilitas pendidikan, komputer, guru, makanan bergizi, serta lingkungan yang aman. Pendidikan diberikan secara gratis bagi siswa dari keluarga kurang mampu.
Adapun bagi Muzani, pembangunan sumber daya manusia juga tidak dapat dilepaskan dari upaya mengatasi persoalan gizi dan kesejahteraan masyarakat. Ia menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan bagian dari investasi jangka panjang untuk mewujudkan Generasi Emas 2045.
“Pemenuhan gizi anak-anak, ibu hamil, dan kelompok yang membutuhkan merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa,” kata Muzani.
Menurutnya, masih terdapat anak-anak yang berangkat ke sekolah tanpa sarapan dan keluarga yang harus dihadapkan pada pilihan sulit antara membeli makanan atau membayar pengobatan. Karena itu, Muzani menekankan bahwa berbagai program pemerintah yang menyentuh kehidupan masyarakat harus dijalankan dengan tata kelola yang baik.
“Tugas kita bersama adalah memastikan bahwa tujuan yang baik itu dilaksanakan dengan tata kelola yang baik: tepat sasaran, dan akuntabel,” tegasnya.
Di tengah forum kenegaraan yang biasanya dipenuhi angka, kebijakan, dan agenda besar pembangunan, cerita Risky menghadirkan wajah lain dari perjalanan Indonesia. Seorang calon penerus bangsa yang menyaksikan langsung para pemimpinnya berbicara tentang masa depan Indonesia. (aha)