
Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena saat RDPU Komisi VII DPR RI bersama mahasiswa Manajemen dan Kebijakan Publik FISIPOL Universitas Gadjah Mada (GAMAPI UGM), di Senayan, Jakarta.|Foto : Munchen/Andri
PARLEMENTARIA, Jakarta — Pendekatan pengembangan pariwisata yang mendorong setiap daerah meniru model Bali dan Yogyakarta dinilai keliru arah dan justru memperparah penumpukan wisatawan. Solusi atas overtourism sesungguhnya sudah ada, yakni kekayaan keragaman budaya, gaya hidup, dan kearifan lokal Nusantara yang selama ini belum dikelola serius.
Hal itu disampaikan Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena usai Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi VII DPR RI bersama mahasiswa Manajemen dan Kebijakan Publik FISIPOL Universitas Gadjah Mada (GAMAPI UGM), di Senayan, Jakarta, Rabu (24/6/2026).
"Di Kalimantan harus menjadi Kalimantan. Di Sumatera harus menjadi Sumatera. Kalau semua berusaha memberikan service dan wawasan seperti Bali dan Jogja, kenapa jauh-jauh harus ke tempat itu?" ujar Samuel.
Ia menegaskan bahwa selama ini respons terhadap overtourism cenderung reaktif, hanya menanggapi masalah yang sudah terjadi tanpa menyentuh akar solusinya. Ia juga mendorong generasi muda untuk mengubah cara pandang, dari sekadar merespons masalah menuju kesadaran aktif menggali dan mempromosikan potensi daerah masing-masing.
"Yang saya harapkan adalah mereka bisa membuka wawasan akan kekayaan negeri ini. Kalau kita bicara overtourism, kita sifatnya hanya reaktif terhadap apa yang sudah terjadi. Tapi apa solusinya?" katanya.
Menurut Samuel, keunikan lokal seperti perbedaan kuliner, tradisi, hingga karakteristik fisik masyarakat antardaerah justru merupakan daya tarik wisata yang autentik dan tidak tertandingi oleh destinasi buatan. Ia mengingatkan bahwa setiap pulau di Indonesia secara historis telah memiliki kearifan lokal yang tumbuh dari lingkungan dan cara bertahan hidup masyarakatnya sendiri dan itulah yang harus dijadikan andalan, bukan disamakan satu sama lain.
"Yang kita punya dengan keragaman Nusantara ini, munculkan dulu keunikan ini yang akan memonetisasi kita," tegasnya.
Samuel secara khusus menyampaikan harapannya agar mahasiswa GAMAPI yang hadir dalam RDPU ini tidak berhenti pada tataran analisis akademis semata. Ia mengajak mereka untuk terlibat langsung dalam membangun narasi pariwisata daerah, sebuah peran yang menurutnya sangat strategis di tangan generasi muda yang melek teknologi.
"Saya ingin mengajak mereka, bukan menugaskan, tapi mengajak mereka untuk lihat kekayaan ini, kita kelola kekayaan ini. Narasi menjadi penting dan ini harus dilakukan oleh generasi muda. Karena kalau narasi tidak dilakukan, maka objek-objek buatan itu jauh lebih mudah membuat narasi," ujarnya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak semata mendekati pariwisata dari sisi ekonomi. Menurutnya, jika orientasi dimulai dari keuntungan ekonomi, segala sesuatu akan ditata hanya untuk kepentingan itu, sementara keunikan yang sesungguhnya justru akan terkorbankan.
"Jangan fokus hanya pada masalah ekonomi. Ekonomi akan mengikuti kalau kita punya objek yang kuat untuk kita tampilkan," katanya.
Dalam forum yang sama, mahasiswa GAMAPI FISIPOL UGM turut menyuarakan kekhawatiran soal tergerusnya budaya lokal akibat tekanan wisata massal. Termasuk munculnya atraksi-atraksi kreasi yang hanya bertahan satu hingga dua tahun karena tidak berakar pada kearifan setempat, sebuah kekhawatiran yang diamini Samuel sebagai bagian dari persoalan yang harus segera dibenahi.
Fakta bahwa pertemuan ini justru diminta langsung oleh mahasiswa, menurut Samuel, menjadi sinyal positif bahwa generasi muda sudah siap untuk ikut andil dalam pengembangan pariwisata Indonesia ke depan. (ndy/aha)