
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Adisatrya Suryo Sulisto dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI ke fasilitas operasi PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) di Minas, Riau, Kamis (18/6/2026). |Foto : Hal/Andri
PARLEMENTARIA, Pekanbaru – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Adisatrya Suryo Sulisto mendorong optimalisasi produksi minyak di Blok Rokan guna memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak. Menurutnya, Blok Rokan memiliki peran strategis karena menyumbang sekitar 25 persen produksi minyak nasional.
“Ini lapangan onshore terbesar dari Pertamina dengan kontribusi kepada produksi nasional sekitar 25 persen. Ini aset Pertamina dan aset nasional yang mesti dijaga dan dirawat terus supaya berkontribusi besar terhadap ketahanan energi nasional,” ujar Adisatrya kepada Parlementaria dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI ke fasilitas operasi PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) di Minas, Riau, Kamis (18/6/2026).
Diketahui, dalam kunjungan tersebut, Komisi VI DPR RI meninjau langsung perkembangan proyek Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) yang tengah dikembangkan PHR untuk meningkatkan produksi minyak dari lapangan yang telah lama beroperasi.
Adisatrya menjelaskan, Komisi VI DPR RI melihat perkembangan program CEOR di Lapangan Minas berjalan cukup baik. Fasilitas pendukung telah ditingkatkan dan proses injeksi bahan kimia untuk meningkatkan perolehan minyak juga sudah berlangsung.
“Progresnya tadi cukup baik. Kami melihat fasilitasnya sudah banyak di-upgrade oleh Pertamina dan tahapan untuk menginjeksi kemikal untuk meningkatkan produksinya juga sudah berjalan,” katanya.
Adisatrya menilai, program tersebut mulai menunjukkan hasil awal berupa peningkatan produksi. Meski demikian, peningkatan yang lebih signifikan diperkirakan membutuhkan waktu karena proses pengembangan lapangan dilakukan secara bertahap.
“Kami harapkan dalam beberapa bulan dan tahun ke depan ini bisa naik, memenuhi target sehingga bisa memperkuat dan menaikkan lifting minyak, khususnya Pertamina secara keseluruhan,” ujarnya.
Adisatrya juga menyoroti target peningkatan produksi Blok Rokan yang dalam jangka panjang diproyeksikan mencapai 400 ribu barel per hari. Menurutnya, peningkatan produksi minyak nasional menjadi sangat penting mengingat Indonesia masih berstatus sebagai pengimpor bersih (net importer) minyak. Adapun saat ini, produksi wilayah tersebut diketahui berada di kisaran 150 ribu barel per hari.
Maka dari itu, ia menilai bahwa setiap tambahan produksi dari dalam negeri akan memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional dan ketahanan energi.
“Kalau bisa ditingkatkan terus sampai ke 400 ribu, ini luar biasa sekali. Karena tentunya kita sekarang masih menjadi net importer minyak dan segala tambahan dari produksi nasional tentunya akan positif bagi keuangan negara, akan mengurangi impor,” jelasnya.
Terkait target lifting minyak nasional tahun 2027 yang berada pada kisaran 605 ribu hingga 620 ribu barel per hari, Adisatrya menilai kontribusi Pertamina akan sangat menentukan karena perusahaan tersebut merupakan produsen minyak terbesar di Indonesia.
Ia berharap tidak hanya Pertamina, tetapi juga seluruh kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), baik perusahaan nasional maupun asing, dapat terus menjaga dan meningkatkan produksinya agar target lifting nasional dapat tercapai.
Menurut Adisatrya, manajemen PHR telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam menjaga tingkat produksi melalui berbagai inovasi dan pengembangan teknologi. Oleh karena itu, Ia mengungkapkan bahwa Komisi VI DPR RI akan terus mengawal upaya-upaya tersebut agar target peningkatan produksi migas nasional dapat terealisasi.
“Harapan kami dari lapangan seperti di Minas tadi dan lainnya di sini itu bisa dijaga dan program CEOR bisa sukses ke depan serta meningkatkan lifting minyak secara keseluruhan,” pungkasnya. (hal/we)