E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Kesehatan|Bencana|SPMB|PTN|Anggaran|Perguruan Tinggi|PTS|Backlog|Pendidikan|WNI|Infrastruktur|layanan kesehatan|OJK
Jakarta:
Berawan
30°C
Terasa: 33°C
Lembab: 65%
Angin: 15 km/h
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Partner 1Partner 2

E-Media DPR RI

Gedung Nusantara II Lt.3 Jl. Jend. Gatot Subroto – Senayan Jakarta – 10270

© 2026 E-Media DPR RI. All rights reserved.

E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Kesehatan|Bencana|SPMB|PTN|Anggaran|Perguruan Tinggi|PTS|Backlog|Pendidikan|WNI|Infrastruktur|layanan kesehatan|OJK
Jakarta:
Berawan
30°C
Terasa: 33°C
Lembab: 65%
Angin: 15 km/h
/
/
E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Kesehatan|Bencana|SPMB|PTN|Anggaran|Perguruan Tinggi|PTS|Backlog|Pendidikan|WNI|Infrastruktur|layanan kesehatan|OJK
Jakarta:
Berawan
30°C
Terasa: 33°C
Lembab: 65%
Angin: 15 km/h
/
/
E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Kesehatan|Bencana|SPMB|PTN|Anggaran|Perguruan Tinggi|PTS|Backlog|Pendidikan|WNI|Infrastruktur|layanan kesehatan|OJK
Jakarta:
Berawan
30°C
Terasa: 33°C
Lembab: 65%
Angin: 15 km/h
Berita/Kesejahteraan Rakyat

Komisi X: APK Pendidikan Tinggi Indonesia Masih Tertinggal Jauh

Diterbitkan
Jumat, 21 Feb 2025 17.12 WIB
Bagikan:
Komisi X: APK Pendidikan Tinggi Indonesia Masih Tertinggal Jauh
PARLEMENTARIA, Surabaya – Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Himmatul Aliyah, menyoroti rendahnya angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia dalam kunjungan kerja spesifik ke Universitas Airlangga, Surabaya. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya peningkatan akses dan kualitas pendidikan tinggi guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

“Indonesia sedang melamar menjadi anggota OECD. Namun, jika kita melihat data pendidikan tinggi, tantangan kita masih sangat besar. Jumlah penduduk berpendidikan tinggi di Indonesia masih relatif sedikit dibandingkan dengan negara-negara anggota OECD,” ujarnya, Kamis (20/2/2025).

Menurut data BPS 2024, diketahui hanya 6,68% dari total populasi Indonesia yang mengenyam pendidikan tinggi, sementara rata-rata negara OECD mencapai 47,42%. Bahkan di tingkat ASEAN, APK pendidikan tinggi Indonesia pada 2022 hanya 31,45%, jauh tertinggal dari Malaysia (43%), Thailand (49,29%), dan Singapura (91,09%).

Himmatul Aliyah mengungkapkan bahwa pemerintah menargetkan APK pendidikan tinggi mencapai 43,87% pada 2035 dan 60% pada 2045. Untuk mencapai target ini, berbagai kebijakan afirmasi, subsidi, serta bantuan pendidikan tinggi yang berkeadilan terus dikembangkan.

“Investasi pendidikan harus difokuskan pada pemerataan akses, peningkatan kualitas, serta relevansi dengan perkembangan zaman. Akses pendidikan tinggi masih terkendala faktor ekonomi, sosial, dan geografis, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah,” jelasnya.

Politisi Fraksi Gerindra ini juga mengungkapkan bahwa hingga 2024, total penerima KIP Kuliah telah mencapai 985.577 mahasiswa dari total lebih dari 9,32 juta mahasiswa yang sedang berkuliah di Indonesia.

Lebih lanjut, Himmatul Aliyah pun menyoroti peran perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) dalam peningkatan APK. Berdasarkan data APTISI, sekitar 75% mahasiswa Indonesia berkuliah di PTS, namun alokasi anggaran pendidikan tinggi masih timpang, dengan PTN menerima 94% dan PTS hanya 6%.

“DPR RI terus mendorong agar ada peningkatan anggaran bagi PTS, karena mereka memiliki tanggung jawab besar dalam meningkatkan akses pendidikan tinggi,” kata Legislator Dapil DKI Jakarta II ini.

Selain itu, ia menekankan pentingnya sistem penerimaan mahasiswa baru yang adil, transparan, dan akuntabel. PTN diharapkan lebih mengutamakan jalur seleksi berbasis prestasi dan tes yang terjangkau, sementara PTS memiliki fleksibilitas dalam menjaring mahasiswa sesuai kebutuhan pasar dan keahlian spesifik. •we/aha

Berita terkait

Komisi X Tinjau SPMB di Palembang, Tekankan Pemerataan Akses Pendidikan Tinggi
Kesejahteraan Rakyat
Komisi X Tinjau SPMB di Palembang, Tekankan Pemerataan Akses Pendidikan Tinggi
Komisi X Setujui Tambahan Anggaran Kemdiktisaintek untuk Perkuat Beasiswa dan Mutu Perguruan Tinggi
Kesejahteraan Rakyat
Komisi X Setujui Tambahan Anggaran Kemdiktisaintek untuk Perkuat Beasiswa dan Mutu Perguruan Tinggi
Perlu Hapus Dikotomi PTN dan PTS dalam Sistem Pendidikan Tinggi
Kesejahteraan Rakyat
Perlu Hapus Dikotomi PTN dan PTS dalam Sistem Pendidikan Tinggi
Tags:#Seputar Parlemen#Komisi X
Sebelumnya

DPR RI Komitmen Optimal Bekerja untuk Rakyat di Tengah Efisiensi Anggaran

Selanjutnya

Komisi XIII Dorong Peningkatan Pengawasan Keimigrasian di Jawa Barat

Kembali ke Berita

TAUTAN CEPAT

Berita Populer
Pencarian Lanjutan

KATEGORI

  • Semua Kategori
  • Buletin Parlementaria(5)
  • Ekonomi dan Keuangan(935)
  • Industri dan Pembangunan(3349)
  • Isu Lainnya(1025)
  • Kesejahteraan Rakyat(3350)
  • Majalah Parlementaria(5)
  • Politik dan Keamanan(4083)
  • Populer(418)
  • Uncategorized(4)

TAG POPULER

#Seputar Parlemen#Berita Utama#Komisi X#Komisi III#Komisi IV#BKSAP#Komisi VIII#Komisi IX#Komisi II#Komisi VII

ARSIP BERITA

INFOGRAFIS

DPR RI Buka Pendaftaran, Seleksi, dan Pemilihan Anggota Badan Supervisi OJK
Parlemen Remaja

Parlemen Remaja

Syarat dan Ketentuan Umum

PODCAST

IKUTI KAMI