
Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI Rizki Natakusumah saat berdiskusi bersama peserta Parlemen Remaja 2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.|Foto: Mario/jk
PARLEMENTARIA, Jakarta — Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI Rizki Natakusumah menegaskan, isu perundungan (bullying) perlu direspons melalui gagasan dan kebijakan yang konkret. Menurutnya, Parlemen Remaja 2026 menjadi ruang bagi generasi muda untuk tidak hanya memahami persoalan perundungan, tetapi juga merumuskan solusi melalui proses legislasi.
Hal itu disampaikan Rizki saat berdiskusi bersama peserta Parlemen Remaja 2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Rizki menilai tema “Generasi Cerdas, Aksi Remaja Stop Perundungan, Ciptakan Sekolah Ramah dan Bermartabat” relevan dengan kehidupan generasi muda. Terlebih, perundungan tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, tetapi juga dapat berkembang di ruang digital.
“Saya rasa ini tema yang sangat berkaitan dengan kehidupan para peserta sehari-hari. Berkaitan dengan generasi muda Indonesia ke depan,” ujar Rizki.
Ia mengatakan, peserta Parlemen Remaja memiliki pemahaman dan pengalaman terhadap persoalan perundungan. Karena itu, mereka didorong untuk mengolah keresahan dan gagasan tersebut menjadi pembahasan yang konstruktif serta dapat diterjemahkan ke dalam kebijakan.
“Bagaimana caranya menuangkan ide-ide tersebut di dalam legislasi, di dalam undang-undang, itu yang mereka akan kerjakan,” tegasnya.
Rizki berharap pembahasan yang dilakukan peserta dapat menghasilkan gagasan yang menjadi masukan bagi upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, ramah, dan bermartabat.
“Kita semangat untuk melihat nanti hasil dari diskusi pembahasannya,” katanya.
Menurut Rizki, pengalaman mengikuti Parlemen Remaja penting untuk memperkenalkan kepada generasi muda bagaimana persoalan di masyarakat dapat dibawa ke ruang kebijakan dan legislasi. Dengan demikian, peserta tidak hanya memahami persoalan publik, tetapi juga proses merumuskan solusi secara terstruktur dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam kegiatan tersebut, sekitar 200 peserta terpilih dari berbagai wilayah Indonesia mendapatkan pembekalan mengenai persidangan, pembentukan undang-undang dan fraksi, serta praktik berdebat dan berdiskusi secara sehat.
Rizki berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bekal bagi peserta untuk memahami tugas dan fungsi DPR RI sekaligus mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan.
“Saya yakin, jika nanti suatu saat mereka nasibnya jadi anggota DPR, sudah jauh lebih siap, sudah jauh lebih mengerti, sudah mengerti lingkup kerja dari DPR RI,” pungkasnya. (mro/ssb)