Anggota Komisi IV DPR RI Darori Wonodipuro dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI ke Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Banten, Satuan Pelayanan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten.|Foto: UC/Mahendra
PARLEMENTARIA, Tangerang - Anggota Komisi IV DPR RI Darori Wonodipuro menyatakan Badan Karantina Indonesia (Barantin) memegang peran penting sebagai garda terdepan dalam melindungi Indonesia dari ancaman masuknya hama dan penyakit. Ancaman tersebut dapat datang melalui lalu lintas komoditas antarnegara yang keluar maupun masuk wilayah Indonesia.
Hal tersebut dikatakannya usai Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI ke Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Banten, Satuan Pelayanan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten, Jumat (17/7/2026). Menurutnya, pengawasan yang kuat di setiap pintu masuk dan keluar negara menjadi bagian penting dalam menjaga sumber daya hayati sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.
"Kita tahu Indonesia ini pelabuhannya sangat banyak, bisa saja berbagai cara untuk mengeluarkan barang-barang keluar negeri tanpa seleksi atau masuk, sehingga kita khawatirkan adanya hama dan penyakit dibawa ke Indonesia," ujar Darori.
Kunjungan tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut rapat kerja Komisi IV DPR RI bersama Kepala Badan Karantina Indonesia. Melalui peninjauan lapangan itu, Komisi IV ingin melihat secara langsung kesiapan fasilitas sekaligus mengidentifikasi kebutuhan penguatan layanan karantina di salah satu pintu masuk utama negara.
Penguatan fungsi tersebut sejalan dengan mandat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan yang mengatur pemasukan, pengeluaran, dan transit komoditas, sekaligus memperkuat pengawasan karantina untuk melindungi sumber daya hayati dan keamanan pangan.
Menurut politisi Fraksi Gerindra itu, penguatan fasilitas laboratorium menjadi salah satu kebutuhan yang perlu mendapat perhatian. Kemampuan pengujian yang memadai akan mendukung proses pemeriksaan komoditas sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan internasional.
Ia mencontohkan persoalan ekspor sarang burung walet yang pernah menghadapi hambatan di pasar Tiongkok. Saat itu, Indonesia belum memiliki fasilitas pengujian yang dapat memastikan secara cepat kandungan yang dipersoalkan oleh negara tujuan ekspor.
"Kita perlu, karena kita belum punya alatnya untuk memeriksa apa betul sarang burung Indonesia itu mengandung aluminium," ujar pungkas Dapil Jawa tengah VII tersebut. (uc/we)