
Ketua Komisi VI DPR RI, Anggia Ermarini.|Foto : Farhan/Andri
PARLEMENTARIA, Jakarta — Ketua Komisi VI DPR RI, Anggia Ermarini, menegaskan bahwa efektivitas holdingisasi BUMN. Sebab keberhasilan program restrukturisasi perusahaan pelat merah itu menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan industri kesehatan nasional.
“Bio Farma Group sebagai Holding BUMN Farmasi memiliki peran strategis yang tidak hanya berorientasi pada aspek bisnis, tetapi juga mengemban tanggung jawab besar dalam menjaga ketahanan kesehatan nasional,” ujar Anggia saat membuka Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI dengan Bio Farma Group di ruang rapat Komisi VI DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Dijelaskannya, tantangan yang dihadapi sektor kesehatan semakin kompleks akibat dinamika geopolitik global, gangguan rantai pasok internasional, perkembangan teknologi kesehatan yang berlangsung sangat cepat, serta meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau.
Komisi VI, lanjut Anggia, mengapresiasi berbagai langkah transformasi yang telah dijalankan Bio Farma Group dalam beberapa tahun terakhir, termasuk penguatan holdingisasi, restrukturisasi keuangan, penataan tata kelola perusahaan, serta penguatan fokus bisnis pada sektor kesehatan yang menjadi kompetensi inti perusahaan.
“Perbaikan kinerja keuangan yang mulai terlihat sepanjang tahun 2025 dan berlanjut pada Triwulan I Tahun 2026 dinilai sebagai sinyal positif atas berbagai langkah pembenahan yang telah dilakukan. Namun, capaian tersebut harus menjadi fondasi bagi transformasi yang lebih mendasar dan berkelanjutan,” jelasnya.
Menurut Anggia, tantangan Bio Farma Group ke depan tidak lagi hanya berkaitan dengan pemulihan kinerja korporasi, tetapi juga bagaimana membangun daya tahan industri kesehatan nasional dalam jangka panjang. Ia menyoroti masih tingginya ketergantungan terhadap bahan baku farmasi, bahan kemasan, serta mesin produksi impor.
Selain itu, kebutuhan penguatan riset dan pengembangan produk, investasi fasilitas biologik, serta percepatan adaptasi terhadap teknologi kesehatan global seperti biologics, platform mRNA, dan teknologi rekombinan lainnya juga menjadi perhatian penting yang harus diantisipasi.
Tidak hanya itu, Politisi Fraksi PKB ini juga menilai efektivitas holdingisasi yang telah berjalan sejak tahun 2020 tidak boleh berhenti pada penyatuan struktur organisasi semata. Melainkan harus mampu menciptakan sinergi yang memberikan dampak nyata terhadap kinerja perusahaan dan kontribusinya bagi negara.
“Holdingisasi harus mampu menghasilkan sinergi yang nyata, memperkuat struktur permodalan, meningkatkan efisiensi operasional, mengoptimalkan kapasitas produksi yang tersedia, serta menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi negara. Transformasi kelembagaan harus diikuti dengan transformasi bisnis yang terukur, sehingga setiap entitas dalam Bio Farma Group memiliki arah pengembangan yang jelas, saling memperkuat, dan tidak berjalan sendiri-sendiri,” tegas Anggia.
Dalam kesempatan itu Komisi VI juga menaruh perhatian besar terhadap keberlanjutan program restrukturisasi dan penyehatan anak perusahaan yang saat ini masih berlangsung. Menurutnya, proses restrukturisasi harus mampu menghasilkan perbaikan fundamental yang berkelanjutan agar setiap entitas dalam Bio Farma Group memiliki daya tahan usaha yang kuat di tengah persaingan industri kesehatan yang semakin dinamis.
Ia menegaskan bahwa upaya penyehatan perusahaan harus diarahkan pada penguatan modal kerja, perbaikan tata kelola, peningkatan produktivitas, serta pengembangan model bisnis yang adaptif terhadap kebutuhan pasar kesehatan nasional di masa depan. Lebih lanjut, Anggia menegaskan bahwa keberhasilan transformasi Bio Farma Group pada akhirnya harus tercermin pada semakin kuatnya kemandirian farmasi nasional.
Hal tersebut dapat diwujudkan melalui peningkatan produksi dalam negeri, berkembangnya industri bahan baku obat nasional, meningkatnya kapasitas riset dan inovasi, bertambahnya produk-produk bernilai tambah tinggi, perluasan pasar ekspor, serta semakin terjangkaunya akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang berkualitas.
“Kami berharap berbagai langkah transformasi yang tengah dijalankan tidak hanya menghasilkan perbaikan kinerja jangka pendek, tetapi juga mampu melahirkan ekosistem industri kesehatan nasional yang tangguh, berdaya saing global, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Indonesia,” pungkasnya. (ayu/aha)