
Anggota Komisi VI DPR RI, Nasim Khan.|Foto : Farhan/Andri
PARLEMENTARIA, Jakarta - Anggota Komisi VI DPR RI, Nasim Khan, mengapresiasi perbaikan kinerja yang ditunjukkan Bio Farma Group sejak terbentuk sebagai Holding BUMN Farmasi. Menurutnya, kondisi Bio Farma saat ini jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu, meskipun masih terdapat sejumlah tantangan strategis yang perlu mendapat perhatian serius.
"Saya mengapresiasi jajaran direksi karena tidak mudah mengelola industri farmasi di Indonesia. Sejak menjadi holding, Bio Farma sudah menunjukkan kondisi yang lebih baik dan mampu mencatatkan perbaikan kinerja," ujar Nasim dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR RI dengan Bio Farma Group di ruang rapat Komisi VI DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Meski demikian, pihaknya juga menyoroti sejumlah permasalahan dan tantangan PT Kimia Farma. Salah satunya terkait belum optimalnya kinerja perusahaan. Sehingga perlu ada strategi yang jelas mengenai produk-produk unggulan yang dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi Kimia Farma. Selain itu, kualitas layanan kesehatan yang diberikan melalui klinik-klinik Kimia Farma juga harus menjadi perhatian utama perusahaan.
"Saya ingin tahu apa penyebabnya dan apa solusi yang akan dilakukan. Produk apa yang bisa menjadi andalan agar Kimia Farma lebih baik ke depan. Klinik-klinik Kimia Farma juga harus menjadi perhatian karena seharusnya mampu memberikan pelayanan yang lebih baik dan menjadi contoh bagi masyarakat," tegas legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Timur III tersebut.
Lebih lanjut, Naseem menyoroti masih tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku obat. Ia menyebut sekitar 80 hingga 95 persen bahan baku farmasi nasional masih berasal dari luar negeri, kondisi yang menurutnya perlu segera diatasi untuk memperkuat kemandirian kesehatan nasional.
"Kita masih lemah dalam kemandirian obat nasional. Sebagian besar bahan baku farmasi masih impor. Padahal Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam dan tanaman herbal yang sangat besar yang seharusnya bisa dikembangkan menjadi bahan baku farmasi nasional,"tambahnya.
Politisi Fraksi PKB ini mencontohkan potensi tanaman herbal di daerah pemilihannya yang meliputi Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso. Berbagai komoditas seperti jahe merah dan tanaman obat lainnya dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari rantai pasok industri farmasi nasional.
Karena itu, ia meminta Bio Farma, termasuk di dalamnya PT Kimia Farma, memaparkan target dan strategi pengurangan ketergantungan impor bahan baku obat hingga tahun 2030, termasuk pengembangan produk-produk strategis yang dapat diproduksi di dalam negeri.
"Saya ingin mengetahui target penurunan impor bahan baku obat sampai tahun 2030. Bagaimana strategi menekannya dan produk-produk strategis apa saja yang bisa diproduksi di dalam negeri sehingga kita semakin mandiri di sektor kesehatan," kata Nasem.
Selain itu, ia juga mendorong Bio Farma untuk lebih aktif menjalin kemitraan dengan petani dan pelaku usaha di daerah dalam pengembangan bahan baku farmasi berbasis tanaman herbal. Menurutnya, hingga saat ini masyarakat dan petani di berbagai daerah belum merasakan secara langsung kehadiran Bio Farma dalam pengembangan potensi herbal nasional.
Pihaknya mengusulkan pembentukan sentra bahan baku farmasi berbasis tanaman herbal serta program pendampingan bagi UMKM dan kelompok tani yang bergerak di sektor tersebut. Ia bahkan menyatakan siap menjadi jembatan antara Bio Farma dengan masyarakat di daerah pemilihannya untuk memperkuat kolaborasi tersebut.
"Saya ingin ada kemitraan yang nyata antara Bio Farma dengan petani. Pembentukan sentra bahan baku farmasi berbasis tanaman herbal penting dilakukan. Begitu juga pendampingan UMKM agar potensi herbal yang kita miliki dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung kemandirian farmasi nasional," pungkasnya. (ayu/rdn)