E-Media DPR RI – Referensi Berita Parlemen Terkini
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
sekolah rakyat|Basarnas|hutan|Bencana|Banjir|TPA|perlintasan sebidang|Jalan Tol|Jamkestama|Perdagangan Karbon|KKP|Konservasi Terumbu Karang|Petani Tebu
Jakarta:
Sebagian Cerah
28°C
Terasa: 33°C
Lembab: 71%
Angin: 7 km/h
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Partner 1Partner 2

E-Media DPR RI

Gedung Nusantara II Lt.3 Jl. Jend. Gatot Subroto – Senayan Jakarta – 10270

© 2026 E-Media DPR RI. All rights reserved.

E-Media DPR RI – Referensi Berita Parlemen Terkini
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
sekolah rakyat|Basarnas|hutan|Bencana|Banjir|TPA|perlintasan sebidang|Jalan Tol|Jamkestama|Perdagangan Karbon|KKP|Konservasi Terumbu Karang|Petani Tebu
Jakarta:
Sebagian Cerah
28°C
Terasa: 33°C
Lembab: 71%
Angin: 7 km/h
/
/
/
/
E-Media DPR RI – Referensi Berita Parlemen Terkini
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
sekolah rakyat|Basarnas|hutan|Bencana|Banjir|TPA|perlintasan sebidang|Jalan Tol|Jamkestama|Perdagangan Karbon|KKP|Konservasi Terumbu Karang|Petani Tebu
Jakarta:
Sebagian Cerah
28°C
Terasa: 33°C
Lembab: 71%
Angin: 7 km/h
Berita/Industri dan Pembangunan

Rajiv Sesalkan Ada Temuan Beras Tak Layak di Bangkalan, Telusuri Penyebab Seluruhnya!

Diterbitkan
Selasa, 9 Jun 2026 19.24 WIB
Bagikan:
Rajiv Sesalkan Ada Temuan Beras Tak Layak di Bangkalan, Telusuri Penyebab Seluruhnya!

Anggota Komisi IV DPR RI Rajiv.|Foto : Dok/Andri

PARLEMENTARIA, Jakarta - Anggota Komisi IV DPR RI Rajiv menyampaikan keprihatinan dengan temuan beras bantuan pangan yang dinilai tidak layak konsumsi di Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Ia pun menyesalkan kejadian tersebut. Menurutnya, bantuan pangan seharusnya menjadi bentuk kehadiran negara untuk melindungi masyarakat, bukan justru menimbulkan keresahan di tingkat penerima maupun perangkat desa.

 

"Saya menyampaikan teguran keras atas kejadian ini. Bantuan pangan adalah hak masyarakat yang harus diterima dalam kondisi layak, aman, dan bermutu. Tidak boleh ada toleransi terhadap beras bantuan yang kualitasnya buruk, apalagi jika sampai dinilai tidak layak konsumsi," tegas Rajiv sebagaimana dikutip Parlementaria,  di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Lihat Juga :

Komisi VII Imbau: Tak Boleh Ada PHK di Lembaga Penyiaran

Komisi VII Imbau: Tak Boleh Ada PHK di Lembaga Penyiaran

Komisi I Tekankan Pemerataan Akses Internet di NTT: Tak Boleh Ada Daerah Blank Spot

Komisi I Tekankan Pemerataan Akses Internet di NTT: Tak Boleh Ada Daerah Blank Spot

 

Ia menilai, kejadian di Bangkalan harus menjadi perhatian serius bagi Bulog, Badan Pangan Nasional, pemerintah daerah, serta seluruh pihak yang terlibat dalam rantai penyimpanan dan distribusi bantuan pangan. Menurutnya, persoalan ini tidak cukup hanya diselesaikan dengan penggantian beras, tetapi harus ditelusuri penyebabnya secara menyeluruh.

 

"Penggantian beras memang wajib dilakukan segera. Namun itu belum cukup. Harus ada evaluasi total dari kondisi gudang, proses penyimpanan, quality control, sampai distribusi ke titik penerima. Jangan sampai masyarakat kecil menjadi korban akibat lemahnya pengawasan," tuturnya.

 

Rajiv pun meminta agar distribusi beras pengganti kepada penerima bantuan pangan di Bangkalan dan seluruh wilayah Indonesia dipercepat, tanpa mengurangi standar pemeriksaan mutu. Menurutnya, masyarakat penerima tidak boleh dirugikan atau menunggu terlalu lama akibat kelalaian dalam proses penyimpanan maupun distribusi.

 

"Saya minta distribusi beras pengganti dipercepat. Hak masyarakat harus segera dipenuhi. Tetapi percepatan ini tetap harus disertai pengecekan kualitas yang ketat, jangan sampai masalah yang sama terulang," ungkap Legislator Fraksi Partai NasDem asal Dapil Jabar II.

 

Selain itu, Politisi Fraksi Partai Nasdem ini mendorong Bulog untuk segera melakukan perbaikan gudang simpan, terutama pada aspek kebersihan, kelembaban, ventilasi, pengendalian hama, sistem rotasi stok, serta standar pemeriksaan sebelum beras keluar dari gudang.

 

"Kalau masalahnya ada pada gudang simpan, maka gudang harus segera diperbaiki. Kalau masalahnya ada pada pengawasan, maka SOP dan petugasnya harus dievaluasi. Kalau terbukti ada kelalaian, pimpinan BULOG setempat harus bertanggung jawab," tuturnya.

 

Dia menambahkan kejadian di Bangkalan harus menjadi pelajaran nasional agar kasus serupa tidak terjadi di wilayah lain di Indonesia. Oleh karena itu, dia meminta BULOG dan Badan Pangan Nasional melakukan audit kualitas bantuan pangan secara menyeluruh di daerah-daerah lain, khususnya wilayah yang sedang atau akan menerima distribusi bantuan pangan.

 

"Kasus Bangkalan ini harus menjadi alarm. Jangan menunggu ada keluhan baru bergerak. Pemeriksaan mutu harus dilakukan sebelum bantuan dikirim, bukan setelah masyarakat atau perangkat desa menemukan masalah," jelasnya.

 

Dia menegaskan akan mendorong pengawasan lebih ketat terhadap tata kelola cadangan beras pemerintah, termasuk penyimpanan, pengeluaran stok, dan distribusi bantuan pangan kepada masyarakat.

 

"Bantuan pangan menyangkut kebutuhan dasar rakyat. Karena itu, pengelolaannya harus transparan, profesional, dan akuntabel. Negara tidak boleh hadir dengan bantuan yang asal sampai, tetapi harus benar-benar layak diterima masyarakat," tutupnya.(hal/rdn)

Berita terkait

Komisi VII Imbau: Tak Boleh Ada PHK di Lembaga Penyiaran
Industri dan Pembangunan
Komisi VII Imbau: Tak Boleh Ada PHK di Lembaga Penyiaran
Komisi I Tekankan Pemerataan Akses Internet di NTT: Tak Boleh Ada Daerah Blank Spot
Politik dan Keamanan
Komisi I Tekankan Pemerataan Akses Internet di NTT: Tak Boleh Ada Daerah Blank Spot
Sigit Karyawan Yunianto Pertanyakan PLN Klaim Tak Ada Pemadaman Listrik di Indonesia
Industri dan Pembangunan
Sigit Karyawan Yunianto Pertanyakan PLN Klaim Tak Ada Pemadaman Listrik di Indonesia
Tags:#pangan#beras#Bulog
Sebelumnya

Nasim Khan Soroti Kemandirian Obat Nasional dan Efektivitas Pembentukan Holding Bio Farma

Selanjutnya

El Nino 2026 Bukan Sekadar Peringatan Ilmiah, tetapi Alarm Nyata bagi Jutaan Petani Indonesia

Kembali ke Berita

TAUTAN CEPAT

Berita Populer
Pencarian Lanjutan

KATEGORI

  • Semua Kategori
  • Buletin Parlementaria(5)
  • Ekonomi dan Keuangan(1021)
  • Industri dan Pembangunan(3568)
  • Isu Lainnya(1033)
  • Kesejahteraan Rakyat(3561)
  • Majalah Parlementaria(5)
  • Politik dan Keamanan(4342)
  • Populer(418)
  • Uncategorized(4)

TAG POPULER

#Seputar Parlemen#Berita Utama#Komisi X#Komisi III#Komisi IV#BKSAP#Komisi VIII#Komisi IX#Komisi II#Komisi VII

ARSIP BERITA

INFOGRAFIS

Syarat dan Ketentuan Umum

PODCAST

IKUTI KAMI

E-Media DPR RI – Referensi Berita Parlemen Terkini
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
sekolah rakyat|Basarnas|hutan|Bencana|Banjir|TPA|perlintasan sebidang|Jalan Tol|Jamkestama|Perdagangan Karbon|KKP|Konservasi Terumbu Karang|Petani Tebu
Jakarta:
Sebagian Cerah
28°C
Terasa: 33°C
Lembab: 71%
Angin: 7 km/h