
Anggota DPR RI Ateng Sutisna. |Foto: Jaka/Karisma
PARLEMENTARIA, Jakarta - Pemulihan Bendung Cariang di Kecamatan Ujung Jaya, Sumedang, Jawa Barat, diharapkan dapat mengembalikan pasokan air bagi sekitar 2.000 hingga 3.000 hektare lahan pertanian yang terdampak sejak bendungan mengalami kerusakan pada 2021. Selama beberapa tahun terakhir, terganggunya jaringan irigasi disebut memengaruhi produktivitas pertanian dan menambah beban biaya petani di sejumlah wilayah.
Harapan tersebut mengemuka saat Anggota DPR RI Ateng Sutisna melakukan kunjungan daerah pemilihan (kundapil) ke lokasi pembangunan Bendung Cariang dan Sungai Cipelang di Desa Sakurjaya, Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang pada Sabtu (31/5/2026). Dalam peninjauan tersebut, Ateng menegaskan pentingnya percepatan pembangunan bendung guna mendukung keberlangsungan sektor pertanian masyarakat.
Menurut Ateng, keberadaan Bendung Cariang memiliki peran penting dalam menopang aktivitas pertanian di wilayah Ujungjaya dan sekitarnya. Kerusakan bendung sejak beberapa tahun lalu dinilai telah menghambat distribusi air menuju jaringan irigasi yang selama ini menjadi tumpuan petani.
“Persoalan Bendung Cariang bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan menyangkut kehidupan ribuan petani dan ketahanan pangan daerah. Karena itu, saya ingin memastikan pembangunan berjalan sesuai target agar kebutuhan masyarakat dapat segera teratasi,” ujar Ateng dalam keterangan tertulis yang diterima Parlementaria pada Kamis (4/6/2026).
Bendung Cariang sebelumnya diketahui mengairi sekitar 2.000 hingga 3.000 hektare lahan pertanian di sejumlah desa, antara lain Ujungjaya, Kudangwangi, Sakurjaya, Keboncau, dan wilayah sekitarnya. Akibat kerusakan bendungan, sebagian petani disebut mengalami gagal tanam, sementara sebagian lainnya harus mengeluarkan biaya tambahan untuk melakukan pemompaan air secara mandiri.
Kondisi tersebut dinilai tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga memengaruhi perekonomian masyarakat yang sebagian besar menggantungkan mata pencaharian pada aktivitas pertanian. Menurunnya produktivitas sawah turut berpengaruh terhadap daya beli masyarakat dan peluang kerja bagi buruh tani.
Selain menopang kebutuhan irigasi, Ateng juga menyoroti peran Bendung Cariang dalam menjaga stabilitas produksi pangan di wilayah Sumedang. Menurutnya, gangguan pasokan air yang berkepanjangan dapat berdampak pada ketersediaan hasil pertanian di tingkat regional.
“Ujung Jaya merupakan salah satu lumbung pangan yang harus kita jaga bersama. Ketika produksi pertanian terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh petani, tetapi juga masyarakat luas yang bergantung pada ketersediaan pangan,” kata legislator dapil Jawa Barat IX itu.
Dalam pertemuan tersebut, pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) bersama kontraktor pelaksana menyampaikan komitmennya untuk menyelesaikan pembangunan Bendung Cariang sesuai target, yakni sebelum November 2027. Selama proses pembangunan berlangsung, juga tengah disiapkan sistem pipanisasi sementara guna menjaga pasokan air bagi lahan pertanian masyarakat.
Selain itu, koordinasi dengan Kementerian Pertanian dan Dinas Pekerjaan Umum disebut akan dilakukan untuk menangani sedimentasi di wilayah hilir Sungai Cipelang agar distribusi air menuju lahan pertanian menjadi lebih optimal.
Politisi Fraksi PKS itu berharap pembangunan Bendung Cariang dapat berjalan sesuai rencana sehingga manfaatnya segera dirasakan masyarakat. Menurutnya, normalisasi pasokan air akan membuka peluang peningkatan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat kesejahteraan petani.
“Dengan pasokan air yang kembali normal dan stabil, petani memiliki peluang untuk meningkatkan intensitas tanam hingga tiga kali dalam setahun. Ini bukan hanya soal panen yang lebih baik, melainkan juga tentang kesejahteraan petani dan masa depan pertanian di Sumedang,” pungkas Ateng menutup pernyataan resminya. (uc/rdn)