Anggota Komisi V DPR RI Teguh Iswara Suardi, saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi V DPR RI ke Stasiun Geofisika Bandung, Jawa Barat, Kamis (1/4/2026).
PARLEMENTARIA, Bandung – Anggota Komisi V DPR RI Teguh Iswara Suardi menilai, inovasi dalam komunikasi kebencanaan menjadi faktor penting selain akurasi data. Menurutnya, dari sisi teknologi, peralatan, dan tingkat akurasi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menunjukkan kinerja yang baik.
Sementara, tantangan utama terletak pada penyampaian informasi kepada masyarakat. “Secara teknologi dan akurasi, BMKG sudah cukup baik. Namun, persoalannya adalah bagaimana informasi tersebut dapat sampai kepada masyarakat agar mereka dapat melakukan langkah antisipasi,” kata Teguh kepada Parlementaria usai Kunjungan Kerja Spesifik Komisi V DPR RI ke Stasiun Geofisika Bandung, Jawa Barat, Kamis (1/4/2026).
Ia menuturkan bahwa Komisi V DPR RI juga telah meninjau ruang operasional BMKG serta mempelajari sejumlah kejadian bencana, termasuk gempa besar di Cianjur pada 2022 yang menelan korban jiwa hingga ratusan orang. Peristiwa tersebut dinilai harus menjadi pembelajaran penting (lesson learned) dalam memperkuat mitigasi bencana.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa meskipun gempa bumi sulit diprediksi, ketersediaan data yang semakin banyak dapat dimanfaatkan untuk membaca pola aktivitas. Dengan demikian, BMKG dapat melakukan sosialisasi lebih dini kepada pemerintah daerah, pemangku kepentingan, dan masyarakat apabila terdapat potensi risiko.
“Dengan data yang ada, kita bisa mulai membaca pola. Jika terdapat indikasi potensi, BMKG dapat lebih awal melakukan sosialisasi agar masyarakat siap menghadapi kemungkinan terburuk,” jelasnya.
Namun demikian, Teguh menyoroti masih rendahnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap urgensi risiko bencana. Ia membandingkan kondisi tersebut dengan Jepang yang memiliki tingkat kesiapsiagaan jauh lebih tinggi.
“Literasi bencana kita masih rendah. Masyarakat sering kali belum memahami informasi yang disampaikan sehingga cenderung tidak siap menghadapi bencana,” tegasnya.
Untuk itu, ia mendorong adanya inovasi dalam penyampaian informasi, termasuk penyederhanaan bahasa agar lebih mudah dipahami masyarakat. Selain itu, pemanfaatan media sosial serta pelibatan generasi muda di lingkungan BMKG dinilai penting untuk memperluas jangkauan informasi.
“SDM muda di BMKG dapat dilatih menjadi penyampai informasi yang efektif, bahkan menjadi semacam influencer internal untuk menyebarluaskan edukasi kebencanaan,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan literasi bencana sejak dini melalui berbagai program edukasi, termasuk pengembangan program sekolah lapang yang tidak hanya menyasar masyarakat, tetapi juga para guru sebagai ujung tombak pendidikan.
“Edukasi sejak dini menjadi kunci agar masyarakat lebih sadar dan siap menghadapi bencana. Kita tidak boleh hanya ‘berdamai’ dengan bencana, tetapi harus terus meningkatkan kesiapsiagaan,” tutupnya. (mun/aha)