Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Aimah Nurul Anam, dalam rapat kerja dengan Pelindo di Ruang Rapat Komisi VI DPR RI, Kamis (2/4/2026).
PARLEMENTARIA, Jakarta — Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Aimah Nurul Anam menilai produk-produk asal Indonesia seringkali kalah bersaing di pasar global bukan karena kualitasnya yang rendah, melainkan akibat tingginya biaya logistik di dalam negeri. Ia menyoroti anomali di mana ongkos kirim justru membengkak drastis, menggerus potensi keuntungan eksportir.
Ia menyebutkan seringkali biaya pengiriman (logistik) justru lebih tinggi daripada nilai barang yang akan dijual itu sendiri. Akibatnya, barang produksi Indonesia yang sebenarnya murah menjadi mahal ketika sampai di negara tujuan. Hal ini sangat merugikan, bahkan ketika Indonesia sebenarnya mendapatkan fasilitas keringanan pajak dari negara pembeli.
“Berdasarkan info yang beredar katanya biaya pengiriman laut dari Belawan ke Jakarta jauh lebih mahal dibandingkan dari Singapura ke Amerika, apabila ini benar kami minta Pelindo segera memperbaiki masalah ini,” tuturnya dalam rapat kerja dengan Pelindo di Ruang Rapat Komisi VI DPR RI, Kamis (2/4/2026).
Ia mencontohkan kasus ekspor ke Amerika Serikat. Meskipun produk Indonesia mendapatkan tarif pajak yang kompetitif (lebih rendah) dibandingkan negara ASEAN lain, namun harga akhir produk tetap kalah bersaing. Hal ini disebabkan biaya pelabuhan dan logistik yang sudah membengkak sejak dari dalam negeri sebelum barang tersebut berangkat.
Di sisi lain, ia membeberkan data yang memperlihatkan ketimpangan harga layanan pelabuhan Indonesia dibandingkan negara tetangga. Struktur tarif pelabuhan di Indonesia saat ini membuat harga jual produk menjadi tidak kompetitif di kawasan Asia Tenggara. Selisih harganya bahkan mencapai angka yang cukup signifikan.
“Data yang berbicara faktanya memang tarif pelabuhan di Indonesia yang termahal se ASEAN, Harapan saya dengan terpilihnya direktur yang baru optimalisasi pelayanan dapat berjalan maksimal,” imbuhnya. (tn/aha)