
Ketua Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI, Ahmad Heryawan, usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) BAM DPR RI bersama Forum Warga Kota Indonesia (FAKTA) dan CISDI di Ruang Rapat BAM, Kompleks.
Hal itu disampaikan Ahmad Heryawan usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) BAM DPR RI bersama Forum Warga Kota Indonesia (FAKTA) dan CISDI di Ruang Rapat BAM, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (11/2/2026). “Kita sangat menghargai kepedulian FAKTA dan CISDI yang datang ke BAM mengadukan pentingnya percepatan regulasi cukai minuman berpemanis dalam kemasan. Dampaknya sudah sangat luar biasa dan membahayakan keberlangsungan generasi kita,” ujar Aher, sapaan akrabnya.
Ia menjelaskan, dahulu diabetes tipe 2 identik dengan kelompok usia lanjut, umumnya di atas 50 atau 60 tahun. Namun kini, penyakit tersebut mulai menyerang anak-anak. “Sekarang jangan 50–60 tahun, usia 10 tahun sudah ada yang menderita diabetes. Bahkan yang sangat mengkhawatirkan, anak di bawah 10 tahun sudah ada yang mengalami gagal ginjal. Bayangkan anak usia 6 tahun harus menjalani cuci darah selama berjam-jam untuk menyambung hidupnya,” tegas Legislator Fraksi PKS itu.
Menurutnya, kondisi ini menjadi alarm keras bahwa konsumsi gula berlebih, khususnya dari minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK), perlu segera dikendalikan melalui regulasi yang efektif dan menyeluruh. BAM DPR RI, lanjutnya, memandang penerapan cukai MBDK sebagai salah satu instrumen paling efektif untuk menekan konsumsi gula berlebih di masyarakat.
“Regulasi adalah penyelesaian yang paling efektif. Dengan cukai, harga minuman berpemanis akan naik sehingga konsumsi bisa lebih terkendali. Pada saat yang sama, industri juga terdorong untuk mengurangi kadar gula dalam produknya,” jelasnya.
Ia menambahkan, penerimaan dari cukai tersebut juga berpotensi dialokasikan untuk penguatan program kesehatan masyarakat, termasuk upaya pencegahan penyakit tidak menular seperti diabetes, obesitas, dan penyakit jantung. Selain cukai, Politisi asal dapil Jawa Barat II itu juga membuka kemungkinan pengaturan kadar gula secara lebih ketat melalui pengawasan pemerintah dan lembaga terkait. Namun ia menegaskan, langkah fiskal melalui cukai dinilai sebagai pendekatan yang paling cepat dan berdampak luas.
“Yang tidak boleh itu berlebihan. Selama ini konsumsi gula kita sudah sangat berlebihan. Karena itu harus segera dikendalikan,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Aher mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan pola konsumsi yang lebih sehat. Menurutnya, masyarakat yang sehat dan terdidik merupakan kunci utama menuju kesejahteraan bangsa.
“Kunci sejahtera ke depan adalah masyarakat yang terdidik dan sehat. Salah satu langkah konkretnya, kurangi gula,” pungkasnya. •fa/um