
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Andreas Hugo Pareira, saat meninjau sarana dan prasarana Kanwil Ditjen Imigrasi Bali, Jum'at, (09/10/2026). |Foto: Karisma/mrs
PARLEMENTARIA, Denpasar — Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Andreas Hugo Pareira mengingatkan bahwa peningkatan jumlah wisatawan ke Bali perlu diimbangi dengan pengawasan keimigrasian, keamanan, serta kenyamanan masyarakat lokal. Menurutnya, orientasi pada peningkatan kunjungan wisatawan tidak boleh mengabaikan dampak yang berpotensi mengancam keberlanjutan pariwisata.
Hal tersebut disampaikan Andreas saat ditemui Parlementaria seusai kunjungan kerja reses Komisi XIII DPR RI di Denpasar, Bali, Jumat (9/10/2026). Ia menilai tingginya mobilitas orang di Bali, termasuk wisatawan asing, perlu diikuti pengawasan yang memadai untuk mencegah potensi tindak kriminalitas.
Dirinya menekankan pentingnya pengawasan keimigrasian sejak pintu masuk Indonesia. Rekam jejak orang asing, menurutnya, perlu menjadi perhatian agar Bali tidak dimanfaatkan oleh pihak yang berpotensi melakukan tindak kriminal.
“Pintu masuk ini harus menjadi perhatian kita, sehingga mereka-mereka yang punya record buruk di luar negeri jangan sampai masuk ke sini untuk menggunakan kenyamanan Bali untuk tinggal, dan kemudian melakukan tindakan-tindakan kriminal di sini,” jelasnya.
Cegah Overtourism
Andreas juga mengingatkan risiko overtourism atau kunjungan wisatawan yang berlebihan sehingga menimbulkan tekanan terhadap lingkungan, kehidupan sosial, dan kenyamanan masyarakat setempat. Ia menilai, kondisi tersebut dapat memicu penolakan warga terhadap aktivitas pariwisata, sebagaimana terjadi di sejumlah destinasi di Eropa.
Sebab, jelasnya, peningkatan jumlah wisatawan tidak serta-merta menjamin keberlanjutan sektor pariwisata apabila pengelolaannya mengabaikan kepentingan masyarakat lokal.
“Itu sudah terjadi di banyak negara, gitu. Bahwa di Eropa banyak kota, tempat-tempat wisata justru menolak turisme sekarang. Itu yang saya maksudkan dengan tourism kills tourism, atau the death of tourism,” ungkap Andreas.
Ia berharap fenomena serupa tidak terjadi di Bali. Karena itu, pengembangan pariwisata perlu memperhatikan keseimbangan antara kunjungan wisatawan, keamanan, dan kenyamanan warga setempat agar sektor tersebut dapat terus berkembang secara berkelanjutan.
“Itu yang terjadi di beberapa negara. Dan kita tidak berharap itu terjadi di Bali,” pungkas Politisi Fraksi PDI Perjuangan tersebut. (Krs/um)