
Anggota komisi IV Ketut Suwendra saat mengikuti kunjungan kerja reses Komisi IV DPR RI ke PT SOW di Likupang, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Jumat (9/10/2026). |Foto: Bita/mrs
PARLEMENTARIA, Minahasa Utara – Anggota Komisi IV DPR RI I Ketut Suwendra menegaskan pengembangan pembibitan babi melalui PT Sulawesi Optima Wirakarya (SOW) harus memberikan manfaat bagi peternak rakyat. Penyediaan bibit unggul diharapkan dapat meningkatkan produktivitas peternakan lokal, tanpa menggeser peran peternak rakyat dalam kegiatan budi daya dan penggemukan.
Hal tersebut disampaikan Ketut Suwendra saat mengikuti kunjungan kerja reses Komisi IV DPR RI ke PT SOW di Likupang, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Jumat (9/10/2026).
PT SOW merupakan perusahaan peternakan babi modern yang mengembangkan pembibitan berbasis genetika unggul dari Denmark. Salah satu produk utamanya adalah DanBred Hybrid F1, yakni indukan betina hasil persilangan terkontrol antara DanBred Landrace dan DanBred Yorkshire. Indukan tersebut dikembangkan untuk mendukung performa reproduksi dan kualitas bibit ternak. Selain menyediakan indukan siap dikembangbiakkan, perusahaan juga menyediakan semen pejantan untuk program inseminasi buatan.
Menurut Suwendra, keberadaan perusahaan tersebut diharapkan dapat mendukung penyediaan calon indukan berkualitas bagi peternak di Sulawesi Utara. Dengan akses terhadap bibit unggul, peternak rakyat diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
“Kita ingin melihat, karena ini adalah pengimpor breeding (pembibitan) babi yang ada di Indonesia. Niat dari pengimpor PT SOW ini adalah menyiapkan calon-calon indukan yang berkualitas,” ujar Suwendra.
Legislator Fraksi PDI Perjuangan tersebut menjelaskan, ketersediaan indukan unggul dan sperman semen beku pejantan dapat mendukung peningkatan kualitas genetik ternak serta produktivitas peternakan. Namun, ia mengingatkan agar pelaksanaan usaha perusahaan tetap sesuai dengan tujuan awal, yakni memperkuat sektor pembibitan untuk mendukung peternak rakyat.
“Kita berharap niat yang awalnya menyiapkan bibit calon indukan, baik indukan maupun sperma semen beku dari PT SOW ini betul-betul terlaksana. Jangan sampai ini hanya casing-nya saja,” tegasnya.
Suwendra menekankan, peternak rakyat harus tetap menjadi pelaku utama dalam kegiatan budi daya dan penggemukan babi. Karena itu, pengembangan industri peternakan modern perlu diarahkan untuk memperkuat kapasitas peternak lokal melalui akses terhadap bibit berkualitas, bukan justru menimbulkan persaingan yang merugikan mereka.
“Kita berpihak ke peternak rakyat. Sehingga yang melakukan penggemukan, melakukan pembudidayaan adalah peternak rakyat. Sehingga tetap rakyat yang menikmati daripada indukan-indukan bagus ini,” katanya.
Ia menambahkan, penyediaan bibit berkualitas juga penting untuk mendukung pemenuhan kebutuhan daging babi di Sulawesi Utara, khususnya Manado. Menurutnya, pengembangan pembibitan perlu dikawal agar dapat terhubung dengan kegiatan peternakan masyarakat dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan produksi daerah.
“Bibit yang bagus ini akan disiapkan oleh PT SOW. Itu niat awalnya. Maka kita kawal. Sehingga niat awal ini betul-betul tercapai ke depannya. Bahwa budi daya daripada babinya ada di rakyat, sehingga mencukupi kebutuhan kita yang ada di Sulawesi Utara, Manado ini,” pungkas Suwendra.
Melalui kunjungan kerja tersebut, Komisi IV DPR RI mendorong penguatan sistem pembibitan dan kemitraan dengan peternak rakyat agar pengembangan industri peternakan babi di Sulawesi Utara dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan usaha peternak lokal. (bit/rdn)