
Anggota Komisi X DPR RI La Tinro La Tunrung saat mengikuti Kunjungan Kerja Reses Komisi X DPR RI Ke Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan.|Foto : Anju/Alma
PARLEMENTARIA, Maros – Anggota Komisi X DPR RI La Tinro La Tunrung menilai alokasi anggaran untuk sektor riset masih perlu diperkuat, khususnya bagi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Menurutnya, penguatan pendanaan riset merupakan investasi strategis karena hasil penelitian mampu memberikan solusi nyata bagi berbagai persoalan masyarakat, termasuk di sektor pertanian.
Hal tersebut disampaikan La Tinro kepada Parlementaria usai mengikuti Kunjungan Kerja Reses Komisi X DPR RI ke Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, Sabtu (25/7/2026).
Ia mengungkapkan, BRIN telah menunjukkan respons cepat dalam membantu daerah yang menghadapi serangan hama tanaman. Salah satu contohnya terjadi di daerah pemilihannya di Sulawesi Selatan, ketika tim BRIN segera turun ke lapangan setelah menerima laporan sehingga persoalan yang dihadapi petani dapat segera ditangani.
"Misalnya ada terjadi sesuatu di suatu kabupaten, khususnya yang terkena serangan hama. Kami sampaikan kepada BRIN, dengan cepat BRIN menurunkan tim dan mengatasi persoalan itu. Jadi benar-benar mengatasi persoalan dengan baik," ujar Politisi Fraksi Partai Gerindra tersebut.
Meski demikian, La Tinro menilai keterbatasan anggaran masih menjadi kendala bagi BRIN untuk memperluas jangkauan layanan riset kepada masyarakat. Karena itu, ia mendorong pemerintah memberikan dukungan anggaran yang lebih memadai agar BRIN dapat semakin optimal membantu daerah dalam menyelesaikan berbagai persoalan, termasuk menjaga produktivitas sektor pertanian.
Selain BRIN, Legislator Dapil Sulawesi Selatan III itu juga menyoroti minimnya anggaran riset di lingkungan Kemdiktisaintek. Menurutnya, penguatan inovasi nasional tidak akan tercapai tanpa investasi yang memadai di bidang penelitian dan pengembangan.
Ia mengutip data yang menunjukkan bahwa belanja riset Indonesia baru sekitar 0,2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), sehingga masih perlu ditingkatkan untuk memperkuat daya saing bangsa.
"Dana riset ini sangat kurang dan memang dirasakan kurang, padahal sangat dibutuhkan. Bagaimana kita bisa mendapatkan sesuatu yang terbaik tanpa riset. Oleh karena itu, kami juga mendorong Kemdiktisaintek agar anggaran riset mendapat perhatian yang lebih besar ke depan," tegasnya.
La Tinro berharap pemerintah menjadikan penguatan anggaran riset sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional. Menurutnya, investasi di bidang riset tidak hanya akan melahirkan inovasi, tetapi juga menghasilkan solusi bagi berbagai tantangan di sektor pertanian, pendidikan, kesehatan, hingga pengembangan teknologi nasional yang berdaya saing. (aas/ssb)