
Samuel Wattimena menyampaikan pandangannya dalam Kunjungan Kerja Reses Komisi VII DPR RI ke Kantor Gubernur Provinsi Jawa Timur di Kota Surabaya.|Foto: Nadhen/Karisma
PARLEMENTARIA, Surabaya – Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena menilai potensi pariwisata Jawa Timur yang sangat beragam belum dikelola secara fokus dan terintegrasi. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab rendahnya rata-rata lama tinggal (length of stay) wisatawan sehingga dampak ekonomi yang dihasilkan belum optimal.
Hal itu disampaikan Samuel usai mengikuti pertemuan Komisi VII DPR RI dengan jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam Kunjungan Kerja Reses di Surabaya, Jumat (24/7/2026).
"Kalau soal pariwisata, ini sama dengan beberapa daerah wisata di Indonesia yang objeknya sangat banyak sehingga praktis menjadi tidak fokus. Kemampuan kita melihat, mengolah, dan mengelola berbagai objek tersebut, berdasarkan paparan Pak Wakil Gubernur, masih perlu ditingkatkan," ujarnya.
Menurut Samuel, rata-rata lama tinggal wisatawan di Jawa Timur yang masih sekitar satu setengah hari menunjukkan perlunya pembenahan dalam pengemasan destinasi wisata. Ia menilai berbagai potensi yang dimiliki daerah perlu dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang mampu membuat wisatawan bertahan lebih lama.
Ia mencontohkan sejumlah destinasi di luar negeri yang mampu menarik wisatawan meski hanya mengandalkan objek sederhana karena dikemas secara menarik dan memiliki nilai cerita yang kuat.
"Orang bisa pergi ke Jepang untuk melihat patung anjing di stasiun kereta, orang bisa pergi ke Belgia untuk melihat Manneken Pis. Mereka tinggal lebih dari satu setengah hari. Ini menunjukkan kemasan pariwisata kita masih sangat bisa ditingkatkan," katanya.
Samuel juga menilai penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor penting dalam pengembangan sektor pariwisata. Menurutnya, transformasi digital dalam pengelolaan destinasi dan promosi wisata perlu terus diperkuat agar mampu mengikuti perkembangan kebutuhan wisatawan.
Selain persoalan tata kelola, ia mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi potensi fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Menurutnya, dampak kekeringan berkepanjangan tidak hanya berpengaruh terhadap sektor pertanian, tetapi juga dapat memengaruhi aktivitas pariwisata dan pelaku UMKM.
"Bagaimana kalau ada El Nino? Musim panas berkepanjangan, air akan sulit, panen terganggu. Ini tentu berdampak pada pariwisata dan UMKM. Karena itu masyarakat perlu dipersiapkan sejak dini melalui sosialisasi yang masif," jelas Legislator Fraksi PDI-Perjuangan tersebut.
Samuel juga menyoroti tantangan sektor ekonomi kreatif di Jawa Timur di tengah meningkatnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) pada industri padat karya. Menurutnya, pemerintah perlu menyiapkan program pelatihan dan peningkatan keterampilan (reskilling) agar para pekerja terdampak memiliki kesempatan beradaptasi dengan kebutuhan sektor ekonomi kreatif.
"Mantan buruh yang terkena PHK memiliki keahlian yang sangat spesifik. Harus ada pelatihan untuk menghadapi kondisi baru, dan itu harus menjadi fokus pembiayaan pemerintah daerah. Pada akhirnya, pengembangan ekonomi kreatif juga harus diikuti dengan penciptaan pasar yang mampu menyerap produk-produk mereka," pungkasnya. (ndn/we)