
Anggota Komisi XII DPR RI Syarif Fasha, saat mengikuti Kunker Reses Komisi XII DPR Raker dengan jajaran Dirjen Migas, Pertamina serta PGN di Kuta, Bali.|Foto: Jaka/Karisma
PARLEMENTARIA, Bali – Anggota Komisi XII DPR RI Syarif Fasha mengatakan, pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara bukan lagi pilihan yang tepat buat Bali. Sebagai daerah tujuan wisata internasional, Bali perlu mengembangkan sumber energi yang lebih ramah lingkungan, seperti energi surya, angin, maupun gas alam yang dinilai paling realistis.
"Kita ini memiliki sumber pasokan yang relatif dekat dan cadangan Sumber Daya Alam (SDA) yang memadai, untuk itu kami mendorong agar adanya percepatan tambahan sumber energi EBT di Bali. Mengingat margin cadangan daya (reserve margin) sistem kelistrikan Bali tersisa sekitar 1,5 persen," ujar Fasha, usai mengikuti Kunker Reses Komisi XII DPR Raker dengan jajaran Dirjen Migas, Pertamina serta PGN di Kuta, Bali, Rabu (22/6/2026).
Terkait ketahanan listrik di Bali, Fasha mengungkapkan bahwa pertumbuhan kebutuhan listrik di Pulau Dewata merupakan yang tertinggi secara nasional, yakni sekitar 7,5 hingga 7,6 persen per tahun. Sementara itu, cadangan daya listrik di Bali saat ini dinilai masih sangat terbatas sehingga perlu diantisipasi sejak dini.
Selain itu, Legislator Dapil Jambi ini menjelaskan, saat ini terjadi pergeseran pola konsumsi bahan bakar minyak (BBM) akibat tingginya disparitas harga antara BBM subsidi dan non-subsidi. Kondisi tersebut membuat masyarakat beralih menggunakan BBM bersubsidi sehingga berpotensi meningkatkan beban subsidi energi.
"Saya berpandangan, pemerintah tidak dapat terus bergantung pada energi fosil. Karena itu, percepatan ekosistem kendaraan listrik perlu dilakukan agar konsumsi BBM impor dapat ditekan dalam jangka panjang. Menurutnya, kolaborasi antara PLN dan Pertamina dapat dilakukan dengan memanfaatkan jaringan SPBU yang sudah ada untuk memperluas pembangunan SPKLU," ungkapnya.
Politisi Fraksi Partai NasDem ini menilai, penguatan infrastruktur kendaraan listrik menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga ketahanan energi nasional. Menurutnya, peningkatan jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) harus berjalan seiring dengan pertumbuhan penggunaan kendaraan listrik di masyarakat.
"Saya juga menekankan pentingnya kesiapan layanan purnajual kendaraan listrik. Ia menilai ketersediaan suku cadang, jaringan bengkel, serta layanan perawatan menjadi faktor yang akan meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk beralih menggunakan kendaraan listrik,"tutupnya. (jka/aha)