
Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya, saat diwawancarai Parlementaria usai agenda Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.|Foto: Mentari/Karisma
PARLEMENTARIA, Jakarta - Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya menegaskan risiko kerugian bisnis akibat gangguan operasional smelter menjadi tanggung jawab PT Freeport Indonesia dan PT AMMAN Mineral Nusa Tenggara, bukan ditanggung negara. Pernyataan itu disampaikannya usai agenda Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (14/7/2026).
"Itu kan sebetulnya bagian daripada proses bisnis yang dilakukan oleh perusahaan. Yang rugi ya mereka lah. Iya dong, karena omsetnya menurun," ujar Bambang.
Pun, ia menegaskan bahwa dampak finansial dari kegagalan mencapai target produksi akan langsung dirasakan perusahaan melalui penurunan pendapatan, bukan dibebankan kepada negara atau daerah. Bagi perusahaan tambang berskala nasional seperti Freeport dan AMMAN Mineral, Komisi XII DPR RI berharap manajemen kedua perusahaan terus diperbaiki agar operasional dapat berjalan lebih baik ke depan.
"Maka ingat, bagi perusahaan-perusahaan dengan memiliki dampak skala nasional, itu kita berharap bahwa mereka lebih baik lagi dalam manajemen, lebih bagus lagi di dalam pengoperasiannya," katanya.
Menurutnya, apabila kedua smelter mampu beroperasi pada kapasitas penuh, manfaatnya akan dirasakan seluruh pihak secara bersamaan, mulai dari perusahaan, negara, hingga masyarakat sekitar wilayah tambang. "Sehingga dengan demikian, kalau mereka beroperasi full capacity, everybody happy. Perusahaannya happy, negara mendapat pemasukan, masyarakat dalam circular ekonominya mendapatkan manfaat," ujarnya.
Menutup pernyataannya, ia menegaskan harapan Komisi XII DPR RI supaya investasi-investasi besar di sektor pertambangan, termasuk yang dijalankan Freeport dan AMMAN Mineral, benar-benar dapat beroperasi pada kapasitas penuh sehingga memberikan manfaat optimal bagi lingkungan sekitar. "Nah jadi dengan demikian kita berharap semua investasi-investasi besar itu betul-betul dapat full capacity dan memberikan manfaat bagi sekitar," katanya.
Dalam paparannya, PT AMMAN Mineral Nusa Tenggara melaporkan realisasi produksi katoda tembaga pada 2025 sebesar 79.848 DMT (dry metric ton), jauh di bawah target Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 yang dipatok 162.662 DMT. Realisasi produksi kuartal II 2026 tercatat baru mencapai 48.756 DMT, sementara realisasi produksi konsentrat tembaga dari sisi tambang pada 2025 mencapai 453.428 DMT, juga di bawah target RKAB 2026 sebesar 1.296.265 DMT. (Ndy/um)