Anggota Komisi XII DPR RI Ratna Juwita, dalam agenda Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI dengan PT Freeport Indonesia dan PT AMMAN Mineral di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.|Foto: Mentari/Karisma
PARLEMENTARIA, Jakarta - Anggota Komisi XII DPR RI Ratna Juwita mempertanyakan jaminan keandalan operasional smelter PT AMMAN Mineral Nusa Tenggara selama masa tunggu perbaikan permanen tungku Flash Converting Furnace (FCF) yang direncanakan pada Juni 2027. Hal itu disampaikannya dalam agenda Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI dengan PT Freeport Indonesia dan PT AMMAN Mineral di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Ratna mengawali pandangannya dengan merujuk pada penjelasan manajemen AMMAN Mineral soal kondisi kahar akibat kebocoran tungku pada April 2025, yang menyebabkan sejumlah permasalahan operasional. Pun, ia mencermati bahwa meski dalam paparan disebutkan smelter telah beroperasi penuh sejak April 2026, perbaikan permanen pada area yang mengalami retakan justru baru direncanakan lebih dari setahun kemudian.
"Tapi ternyata disebutkan juga di halaman 7 bahwa smelter sudah beroperasi penuh di bulan April 2026. Tapi di sini kok saya membaca perbaikan permanen pada area tersebut saya membacanya direncanakan pada plan shutdown di bulan Juni 2027," ujar Ratna.
Lebih lanjut, ia menyampaikan kekhawatirannya soal ketiadaan jaminan keandalan operasional smelter selama periode tersebut, sekaligus menanyakan sejauh mana mitigasi yang telah disiapkan manajemen AMMAN Mineral agar insiden kebocoran tidak terulang. "Saya hanya khawatir, Pak, ada nggak jaminan keandalan untuk operasional dari smelter selama satu tahun ke depan ini sambil menunggu sampai di bulan Juni 2027, dan sejauh mana mitigasi yang sudah dipersiapkan oleh operasional dari manajemen PT AMMAN," katanya.
Apalagi, dirinya menegaskan risiko yang dimaksud bukan hanya menyangkut kerusakan fasilitas atau lingkungan, melainkan juga menyangkut keselamatan manusia yang terlibat dalam operasional smelter. "Maksudnya ini kan tidak hanya membahayakan alamnya atau utility-nya, tapi juga manusianya," ujarnya.
Tidak henti, Ratna turut menyinggung insiden serupa yang pernah terjadi di smelter milik Freeport di Gresik, sembari mengingatkan bahwa isu keselamatan smelter merupakan hal yang sensitif dan berdampak langsung pada kepercayaan publik. "Itu isunya sangat sensitif, Pak Tony. Kita kalau mau memberikan kepercayaan ke masyarakat itu butuh waktu yang cukup lama juga," katanya.
Maka dari itu, menutup pernyataannya, ia berharap manajemen AMMAN Mineral telah menyiapkan langkah mitigasi khusus untuk memastikan keandalan operasional smelter, guna mencegah berulangnya insiden serupa di masa mendatang. "Sehingga kami berharap PT AMMAN juga sudah mempersiapkan mitigasi khusus terkait keandalan dari operasional tersebut," pungkas Ratna.
Sebagai informasi, PT AMMAN Mineral Nusa Tenggara menjelaskan kebocoran tungku FCF pada April 2025 terjadi akibat terbentuknya retakan antara bata tahan api di posisi tap hole, sementara kebocoran Acid Cooler berlangsung sepanjang Februari hingga Agustus 2025 akibat retakan pada sambungan antara tube dan tubesheet dalam skala besar. Perusahaan melaporkan telah memasang Acid Cooler sementara serta melakukan penutupan tap hole pada area retakan guna menghentikan pelebaran kerusakan, dengan unit Acid Cooler pengganti permanen baru tiba pada Juli 2026 dan perbaikan permanen tungku FCF dijadwalkan pada planned shutdown Juni 2027. (Ndy/um)