
Ketua Komisi I DPR RI, Utut Adianto saat Courtesy Call Komisi I DPR RI dengan Assistant Minister for Foreign Affairs and Trade sekaligus Assistant Minister for Immigration Australia, Matt Thistlethwaite MP, di Ruang Delegasi, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.|Foto : Arief/Alma
PARLEMENTARIA, Jakarta – Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto mendorong penguatan investasi Australia di Indonesia sebagai upaya menciptakan lebih banyak lapangan kerja formal. Menurutnya, hubungan bilateral kedua negara yang selama ini terjalin baik masih menyimpan potensi besar yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Hal itu disampaikan Utut usai Courtesy Call Komisi I DPR RI dengan Assistant Minister for Foreign Affairs and Trade sekaligus Assistant Minister for Immigration Australia, Matt Thistlethwaite MP, di Ruang Delegasi, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (14/7/2026)
Utut mengatakan pertemuan tersebut tidak membahas isu secara rinci satu per satu, melainkan memfokuskan pembahasan pada upaya memperkuat hubungan Indonesia dan Australia di berbagai sektor strategis. Ia menilai peluang kerja sama ekonomi kedua negara masih jauh lebih besar dibandingkan capaian yang telah diraih saat ini.
"Hubungan baik kedua negara menurut saya inilah yang pernah kita capai. Tetapi ini masih jauh dari potensi yang sesungguhnya bisa kita kerjakan," ujarnya.
Menurut Utut, salah satu kebutuhan mendesak Indonesia saat ini ialah menciptakan lebih banyak lapangan kerja formal. Untuk itu, peningkatan investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI), termasuk dari Australia, dinilai menjadi salah satu solusi yang perlu terus didorong.
"Kita terlalu banyak butuh lapangan kerja formal. Lapangan kerja formal ini akan tumbuh otomatis apabila foreign direct investment banyak ada di Indonesia," tegas Politisi Fraksi PDI-Perjuangan tersebut.
Ia menambahkan, kerja sama ekonomi Indonesia dan Australia tidak seharusnya hanya bertumpu pada perdagangan komoditas yang selama ini telah berjalan, seperti ekspor pupuk urea. Menurutnya, masih banyak sektor lain yang dapat dikembangkan bersama untuk memberikan nilai tambah bagi kedua negara.
Selain investasi, Komisi I juga menyoroti pentingnya peningkatan kerja sama di bidang pendidikan. Utut menyebut saat ini sekitar 25 ribu mahasiswa Indonesia menempuh pendidikan di Australia. Ia berharap peluang tersebut dapat terus diperluas, termasuk melalui penambahan akses beasiswa.
Tak hanya itu, pembahasan juga mencakup kemudahan mobilitas masyarakat, khususnya bagi mahasiswa Indonesia yang mengalami kendala dalam memperoleh visa. Menurut Utut, delegasi Australia menyatakan kesiapan membantu apabila terdapat proses penerbitan visa yang dinilai tidak berjalan secara adil.
Di sektor pariwisata, Utut juga melihat peluang besar untuk meningkatkan kunjungan wisatawan Australia ke berbagai destinasi di Indonesia. Menurutnya, wisatawan Australia tidak hanya dapat diarahkan berkunjung ke Bali, tetapi juga ke destinasi lain yang memiliki potensi besar seperti Yogyakarta.
Ia berharap penguatan hubungan ekonomi Indonesia-Australia dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara, terutama melalui peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif. (fa/aha)