Anggota Komisi VII DPR RI Rico Sia saat mengikuti Kunjungan Kerja Panitia Kerja (Panja) Kreativitas dan Distribusi Film Nasional Komisi VII DPR RI ke Ayena Studio di Kota Cimahi, Jawa Barat.|Foto: Yhusanti/Arifman
PARLEMENTARIA, Cimahi - Penguatan sumber daya manusia (SDM) dinilai menjadi faktor penting agar industri animasi nasional mampu tumbuh lebih luas hingga ke daerah-daerah. Di tengah berkembangnya ekonomi kreatif berbasis digital, peningkatan kapasitas talenta muda dinilai perlu diperkuat melalui pelatihan yang lebih terarah dan dukungan ekosistem yang memadai.
Anggota Komisi VII DPR RI Rico Sia menilai sektor ekonomi kreatif termasuk animasi memiliki prospek besar sebagai sumber pertumbuhan ekonomi masa depan. Karena itu, menurutnya, dukungan pemerintah terhadap pengembangan SDM kreatif perlu diperkuat agar industri ini tidak hanya berkembang di kota-kota besar.
Hal ini mencuat saat Panitia Kerja Kreativitas dan Distribusi Film Nasional (KDFN) Komisi VII DPR RI mendengar langsung tantangan pengembangan industri animasi nasional, mulai dari pembiayaan, pengembangan SDM, hingga penguatan kekayaan intelektual (intellectual property/IP) lokal.
“Ekonomi kreatif ini tentunya bertumbuh sampai dengan ke daerah-daerah terpencil. Nah, apa yang kemudian menjadi perhatian kita adalah bagaimana peningkatan sumber daya manusianya sendiri melalui pelatihan-pelatihan yang diberikan,” disampaikan Rico usai mengikuti Kunjungan Kerja Panitia Kerja (Panja) Kreativitas dan Distribusi Film Nasional Komisi VII DPR RI ke Ayena Studio di Kota Cimahi, Jawa Barat, Jumat (5/6/2026).
Menurut Rico, penguatan SDM menjadi penting agar industri animasi tidak hanya berkembang di pusat-pusat ekonomi, tetapi juga dapat tumbuh di berbagai wilayah. Ia menilai, keberhasilan animator Indonesia yang mulai berkompetisi di tingkat internasional dapat menjadi pemantik minat generasi muda untuk masuk ke industri kreatif.
Dalam pemaparannya kepada Panja, Ayena Studio mengungkap keterlibatan perusahaan dalam sejumlah proyek animasi nasional maupun internasional, termasuk co-production dengan rumah produksi asal Rumania untuk proyek animasi Gladiator, dengan sekitar 90 persen proses pengerjaan dilakukan di Indonesia. Ayena juga telah terlibat dalam berbagai proyek global, termasuk sebagai kolaborator serial dari jaringan internasional seperti Nickelodeon, yang menunjukkan bahwa talenta animator Indonesia semakin diperhitungkan.
“Saya sangat optimistis dunia ekonomi kreatif ini tidak terbatas dengan ruang. Oleh karenanya ekonomi kreatif ini tentunya sangat bisa berkembang juga di daerah-daerah,” kata Politisi Fraksi Partai NasDem itu kepada Parlementaria.
Rico mencontohkan, salah satu pendiri Ayena Studio telah menekuni dunia gambar sejak usia sekolah. Menurutnya, potensi serupa juga banyak ditemukan di berbagai daerah, di mana anak-anak sejak usia dini memiliki daya imajinasi tinggi yang dapat diarahkan menjadi talenta kreatif apabila memperoleh ruang belajar yang tepat.
“Di daerah-daerah terpencil pun sudah banyak anak-anak kecil yang sejak SD, SMP punya daya khayal (imajinasi,red) yang cukup tinggi untuk kemudian dituangkan dalam bentuk gambar atau bentuk video,” jelasnya.
Kunjungan Panja Kreativitas dan Distribusi Film Nasional ke Ayena Studio sendiri dilakukan untuk memetakan berbagai tantangan industri animasi nasional, mulai dari pembiayaan, pengembangan SDM, distribusi, hingga penguatan IP lokal sebagai bahan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah. (uc/rdn)