
Anggota Komisi VII DPR RI, Eva Monalisa saat mengikuti kunjungan kerja spesifik Komisi VII di Bandung, Jawa Barat, Kamis (29/1/2026). Foto: NAP/Mahendra.
Hal itu disampaikannya usai menghadiri rapat Komisi VII DPR dengan Dirjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kemenperin, Direktur Utama Bio Farma, Direktur Utama Kimia Farma, dan Direktur Utama Indofarma di PT Biro Farma, Bandung, Jawa Barat, Kamis (29/1/2026).
“Ini kan Indofarma, Bio Farma. Kalau kita lihat, dari tadi seperti Pak Dirjen Kemenperin juga bilang, ini sebagai perusahaan yang bisa naik dari minus 53 miliar ini, jadi mendapat laba di 76 miliar kurang lebih. Ini satu hal yang mungkin kita bisa apresiasi, cuman yang saya menjadi prihatin adalah bahan baku,” ujar Eva kepada Parlementaria usai pertemuan.
Menurut Eva, penguatan industri farmasi nasional tidak bisa dilepaskan dari pembenahan rantai industri dari hulu ke hilir. Ia menilai integrasi industri kimia dasar, petrokimia, dan bahan baku farmasi dengan Bio Farma belum berjalan maksimal dan perlu segera diperkuat melalui kebijakan yang terarah.
“Jadi dari hulu ke hilirnya ini belum maksimal juga. Jadi ini masukkan untuk Kemenperin, mungkin kita bisa bangun dulu untuk hulu industrinya Bio Farma ini dengan integrasi dengan industri kimia dasar, petrokimia, bahan baku farmasinya ini mungkin bisa diintegrasikan dulu,” katanya.
Eva menegaskan bahwa industri farmasi merupakan industri strategis nasional yang menyangkut keamanan negara, bukan semata sektor ekonomi biasa. Ia mengingatkan bahwa pengalaman pandemi COVID-19 menjadi bukti pentingnya kemandirian industri kesehatan nasional.
“Ini industri strategis nasionalnya ini untuk keamanan negara. Ini bukan cuma sekadar sektor farmasi. Kalau kita lihat dari pengalaman kita COVID kemarin, kalau kita tidak cepat-cepat vaksin itu mungkin ekonomi kita juga sudah hancur, masyarakat banyak yang meninggal, dan negara bisa seperti negara-negara miskin yang lain, sudah porak-poranda ekonominya,” tegas Politisi Fraksi PKB ini.
Oleh karena itu, Eva mendorong pemerintah agar memberikan insentif yang lebih agresif dan tepat sasaran bagi industri farmasi nasional, terutama untuk bahan baku yang belum dapat diproduksi di dalam negeri. Ia juga menekankan pentingnya transfer teknologi dan kepastian pasar dari negara. •nap/rdn