
Anggota Komisi X DPR RI Furtasan Ali Yusuf, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panja SNPMB Komisi X DPR RI bersama Kemdiktisaintek dan Panitia SNPMB di Gedung Nusantara I DPR RI, Senayan, Jakarta, kamis (4/6/2026).| Foto: Mahendra/Karisma
PARLEMENTARIA, Jakarta – Anggota Komisi X DPR RI Furtasan Ali Yusuf mendorong penguatan sistem Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) melalui integrasi perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS), serta peningkatan keterbukaan data daya tampung melalui sistem dashboard nasional.
Furtasan menilai sistem penerimaan mahasiswa baru perlu dirancang secara lebih terintegrasi agar tidak menimbulkan kesenjangan antara PTN dan PTS dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Ia menilai sejumlah perguruan tinggi swasta saat ini memiliki kualitas yang kompetitif dan tidak kalah dengan sebagian perguruan tinggi negeri, terutama PTN baru.
“Membangun sistem penerimaan mahasiswa baru bagaimana caranya nih antara PTN dan PTS ini secara terintegrasi memungkinkan enggak kira-kira begitu?” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panja SNPMB Komisi X DPR RI bersama Kemdiktisaintek dan Panitia SNPMB di Gedung Nusantara I DPR RI, Senayan, Jakarta, kamis (4/6/2026)
Selain integrasi sistem, Furtasan juga mendorong pemerintah menghadirkan sistem data terbuka berbentuk dashboard nasional yang memuat informasi daya tampung, kuota, serta hasil penerimaan mahasiswa baru di seluruh perguruan tinggi. Menurutnya, keterbukaan data tersebut penting agar masyarakat dapat mengetahui secara jelas tingkat keketatan dan kapasitas masing-masing perguruan tinggi dalam proses seleksi.
“Saya ingin bagaimana caranya mempunyai bank data berapa yang sudah diterima, berapa yang belum diterima dan dimunculkan dalam dashboard,” kata Politisi Fraksi Partai NasDem ini.
Ia menambahkan, publik selama ini belum mendapatkan gambaran utuh terkait daya tampung dan tingkat persaingan antarperguruan tinggi, sehingga diperlukan sistem informasi yang lebih transparan dan mudah diakses.
“Berapa kuotanya masing-masing peluang tinggi yang A, yang B, yang C ini supaya ini bisa dilihat secara transparan,” ujarnya. (hal/rdn)