Anggota Komisi XII DPR RI, Gulam Mohamad Sharon dalam Kunjungan Kerja Masa Reses (Kunres) Komisi XII DPR RI ke Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
PARLEMENTARIA, Yogyakarta – Anggota Komisi XII DPR RI, Gulam Mohamad Sharon, mendorong pemanfaatan biomassa sebagai solusi energi alternatif sekaligus peluang ekonomi bagi masyarakat daerah, khususnya melalui keterlibatan pelaku usaha lokal dan UMKM di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ia menekankan bahwa biomassa tidak harus selalu berasal dari kayu, melainkan dapat memanfaatkan limbah pertanian dan perkebunan yang selama ini belum dioptimalkan.
“Menurut saya begini, kita harus ramah dan bijak dalam menanggapi isu ini. Jadi, kalau untuk biomasa ini tidak semuanya dari kayu, bisa pakai sekam padi, bisa pakai cangkang sawit, cangkang kelapa,” ujarnya dalam Kunjungan Kerja Masa Reses (Kunres) Komisi XII DPR RI ke Kota Yogyakarta, Kamis (23/4/2026).
Ia menjelaskan, biomassa juga dapat berasal dari pengelolaan hutan tanaman industri (HTI) yang diolah menjadi bahan bakar seperti wood pellet dan sekam kayu untuk pembangkit listrik biomassa.
Menurutnya, potensi ini tidak hanya mendukung ketahanan energi nasional, tetapi juga membuka peluang usaha baru di daerah. “Harapan saya Kunjungan Kerja Masa Reses kali ini bisa banyak bermanfaat, terutama untuk pengusaha-pengusaha daerah yang bisa mensupply sesuai dengan yang kita bahas terkait biomasa,” lanjutnya.
Lebih jauh, Politisi Fraksi Partai NasDem tersebut menekankan pentingnya peran UMKM dalam rantai pasok energi berbasis lokal. Ia menilai, pengembangan energi skala kecil berbasis biomassa dapat menjadi pintu masuk bagi pelaku usaha daerah untuk tumbuh dan naik kelas.
“Kami Komisi XII sedang melakukan Kunjungan Kerja Masa Reses di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terkait dengan lingkungan dan energi. Menurut saya, itu sangat penting sekali. Sesuai dengan visi dan misi Bapak Presiden, untuk meningkatkan perekonomian di daerah lokal,” ujarnya.
Menurutnya, model bisnis energi berbasis lokal dapat dimulai dari skala kecil, seperti suplai 100 hingga 200 ton bahan baku biomassa, yang dinilai realistis dijalankan oleh pengusaha daerah dan berdampak signifikan terhadap ekonomi lokal.
“Pada saat pengusaha itu berbisnis di daerahnya, 70% sampai 80% hasilnya akan digunakan dan dikembalikan lagi ke daerahnya masing-masing. Ini yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.
Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa jika peluang usaha tersebut dikuasai oleh pihak luar daerah, maka manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat menjadi lebih kecil. “Kalau bisnis kecil ini diambil oleh pengusaha luar daerah, uang yang tinggal hanya untuk biaya operasional. Sekitar 70% akan dibawa ke luar, sehingga ekonomi daerah tidak berkembang optimal,” tambahnya.
Sharon juga menyoroti pentingnya mengubah limbah menjadi produk bernilai guna. Limbah seperti sekam padi, cangkang kelapa, hingga produk turunan biomassa lainnya dinilai memiliki nilai tambah tinggi apabila dikelola dengan baik. “Ini bisa menjadi added value buat limbah yang tadinya dibuang, bisa menjadi bernilai dan bermanfaat untuk masyarakat yang ada di daerah tersebut,” tegasnya.
Ia berharap kunjungan kerja ini mampu membuka peluang lebih luas bagi pengusaha lokal untuk terlibat dalam sektor energi sekaligus meningkatkan kapasitas usaha mereka. “Yang tadinya omzetnya Rp5 miliar bisa naik menjadi Rp10 hingga Rp15 miliar karena adanya investasi dan peluang baru,” tutupnya. (aas/aha)