
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh dalam Raker Komisi IX DPR RI bersama Menteri Kesehatan di Nusantara I, Senayan, Jakarta.
PARLEMENTARIA, Jakarta – Rendahnya cakupan imunisasi nasional kembali menjadi sorotan. Tren penurunan mulai terjadi pascapandemi Covid-19. Kondisi ini dinilai berpotensi meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular seperti campak jika tidak segera ditangani dengan pendekatan yang lebih komprehensif.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh, menilai persoalan imunisasi di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan aspek layanan kesehatan, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor sosial dan persepsi masyarakat. Karena itu, ia menekankan perlunya pendekatan yang lebih luas dalam meningkatkan partisipasi vaksinasi.
“Cakupan imunisasi kita tidak pernah mencapai 100 persen, bahkan 90 persen saja sangat jarang. Apalagi setelah pandemi Covid-19, angkanya semakin menurun. Karena itu, diperlukan berbagai pendekatan untuk meningkatkan imunisasi,” ujar Nihayatul dalam Raker Komisi IX DPR RI bersama Menteri Kesehatan di Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin (20/4/2026).
Fenomena penolakan vaksin di masyarakat juga dinilai masih menjadi tantangan besar dalam meningkatkan cakupan imunisasi. Berbagai alasan non-medis, mulai dari keyakinan hingga kekhawatiran yang tidak berdasar, kerap memengaruhi keputusan orang tua dalam memberikan vaksin kepada anak.
Legislator dari Fraksi PKB ini pun menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa edukasi kepada masyarakat belum berjalan optimal. Tanpa pemahaman yang memadai, masyarakat berisiko mengambil keputusan yang dapat berdampak serius terhadap kesehatan anak.
“Jadi intinya, sosialisasi itu penting. Namun, pendekatannya kepada masyarakat tidak bisa hanya dari sisi medis,” tegasnya.