Ketua DPR RI, Puan Maharani, dalam pidatonya pada Rapat Paripurna DPR RI pada penutupan Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2025–2026 di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
PARLEMENTARIA, Jakarta — Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan dukacita atas gugurnya tiga prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon. Ia berharap para prajurit yang gugur mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
“Atas nama Pimpinan dan Anggota DPR RI, kami menyampaikan dukacita yang mendalam atas gugurnya Kapten Inf. Zulmi Aditya, Sertu M. Nur Ichwan, dan Praka Farizal Romadhon saat menjalankan misi kemanusiaan di Lebanon,” ujar Puan dalam pidatonya pada Rapat Paripurna DPR RI pada penutupan Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2025–2026 di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Ketua DPR RI juga menekankan pentingnya investigasi yang kredibel bersama PBB guna mengungkap peristiwa tersebut secara objektif. Langkah ini dinilai harus mengedepankan prinsip transparansi, akuntabilitas, serta penghormatan terhadap hukum internasional dan hak asasi manusia.
Selain itu, ia menyampaikan bahwa DPR akan mendorong Pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penugasan prajurit TNI di wilayah konflik. Evaluasi tersebut mencakup kejelasan mandat, kesiapan operasional, serta perlindungan maksimal bagi personel, sesuai standar praktik internasional dalam operasi pemeliharaan perdamaian.
Dalam kesempatan tersebut, Puan juga menyoroti eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berdampak pada perekonomian global dan nasional. Ia menyebut konflik tersebut berpotensi memicu kenaikan harga energi, memperburuk inflasi global, serta meningkatkan ketidakpastian ekonomi.
Menurutnya, dampak tersebut mulai dirasakan di dalam negeri, antara lain melalui kenaikan harga bahan bakar minyak, pelemahan nilai tukar rupiah, gangguan rantai pasok, hingga ketidakpastian investasi. “Situasi global saat ini menunjukkan bahwa konflik di luar negeri dapat berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi nasional,” jelasnya.
DPR RI, lanjut Puan, terus mendorong Pemerintah melalui alat kelengkapan dewan untuk mengambil langkah antisipatif dalam menjaga stabilitas ekonomi serta daya beli masyarakat. Ia juga menegaskan pentingnya kebijakan fiskal dan moneter yang adaptif terhadap tekanan global.
Terkait dinamika internasional, DPR RI mengingatkan Pemerintah untuk memprioritaskan stabilitas kawasan, melindungi kepentingan nasional, serta memastikan keamanan Warga Negara Indonesia di kawasan Timur Tengah.
Dari sisi parlemen, Puan menegaskan bahwa diplomasi DPR tidak berhenti pada agenda seremonial, melainkan harus menjadi instrumen strategis dalam memperjuangkan kepentingan nasional.
Hal ini tercermin dalam partisipasi DPR RI pada Sidang Umum ke-152 Inter-Parliamentary Union (IPU) di Istanbul, Turki, yang antara lain menyampaikan sikap atas aksi militer yang menewaskan prajurit TNI dalam misi perdamaian.
Selain forum multilateral, DPR juga memperkuat hubungan bilateral melalui penerimaan kunjungan delegasi negara sahabat, termasuk dari Uni Eropa dan Korea Selatan.
Menutup pidatonya, Puan turut memperingati Hari Kartini sebagai momentum penting bagi kemajuan perempuan Indonesia. “Hari Kartini mengingatkan kita bahwa perubahan dimulai dari keberanian untuk melangkah. Perempuan Indonesia diharapkan terus berkarya dan berkontribusi bagi bangsa,” pungkasnya. (rr/aha)