
Ketua Komisi IX DPR RI Felly Estelita Runtuwene dalam kunjungan kerja Komisi IX DPR RI ke Kabupaten Badung.
PARLEMENTARIA, Badung — Ketua Komisi IX DPR RI Felly Estelita Runtuwene menyoroti lemahnya pengawasan dalam pelaksanaan program pemagangan nasional di Provinsi Bali. Ia mengungkapkan adanya ketidaksinkronan data antara instansi terkait mengenai jumlah peserta pemagangan.
“Kalau saya bandingkan dengan data dari BPJS Ketenagakerjaan, yang sebelumnya 900-an ya, sekarang jadi 700-an. Sementara data dari Kementerian Ketenagakerjaan, di sini ada sekitar 1358 orang yang magang di Provinsi Bali dengan 199 perusahaan yang terlibat,” ujarnya dalam kunjungan kerja Komisi IX DPR RI ke Kabupaten Badung, Kamis (16/4/2026).
Ia juga menyoroti minimnya informasi yang diterima pemerintah daerah terkait pelaksanaan program tersebut. “Ini minim sekali informasinya. Apa yang saya mau sampaikan perwakilan dari Kementerian Ketenagakerjaan hari ini, mana dari Kementerian Ketenagakerjaan. Mungkin Pak, ini harus juga dikoneksi ya,” tegasnya.
Menurutnya, lemahnya koordinasi turut berdampak pada fungsi pengawasan yang belum berjalan optimal, terutama di tingkat daerah. “Artinya pengawasannya memang sangat kurang. Kalau saya melihat, memang dari provinsi saja pengawasan dari jumlah perusahaan yang ada lebih dari 20 ribu perusahaan ya, yang terdaftar ya. Ini data WKP, 20 ribu perusahaan. Di sini cuma dari provinsi saja sekitar 16 orang, 16 pengawas ya. Ini betul-betul sangat kurang,” jelas Felly.
Ia menambahkan, keterbatasan jumlah pengawas tersebut perlu diatasi dengan melibatkan pemerintah daerah agar pengawasan dapat berjalan lebih efektif. Maka dari itu, Ia menegaskan koordinasi yang baik dengan pemerintah daerah menjadi hal perlu diperhatikan ke depannya.
“Jadi ada perpanjangan tangan dari pemerintah provinsi yang memang pengawasannya sangat kurang. Hanya 16 orang,” imbuhnya.
Felly berharap, dengan penguatan koordinasi dan dukungan dari pemerintah daerah, berbagai persoalan yang dihadapi peserta magang dapat lebih cepat teridentifikasi dan ditindaklanjuti. “Jadi masalah-masalah yang disampaikan anak-anak magangnya juga bisa juga cepat terinformasi dan ada respon balik,” pungkasnya. (hal/aha)