
Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Putri Zulkifli Hasan saat memimpin Kunjungan kerja spesifik ke proyek pabrik baterai kendaraan listrik milik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery di Karawang, Jawa Barat.
PARLEMENTARIA, Karawang — Komisi XII DPR RI menegaskan dukungan legislatif terhadap penguatan ekosistem industri baterai nasional sebagai bagian dari transformasi energi bersih dan hilirisasi mineral strategis. Hal itu Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Putri Zulkifli Hasan sampaikan saat kunjungan kerja spesifik ke proyek pabrik baterai kendaraan listrik milik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang, Jawa Barat.
Ia menyebut proyek CATIB sebagai terobosan penting dalam pengembangan industri baterai di Indonesia. Ia pun menilai, kehadiran pabrik ini menjadi tonggak awal terbentuknya ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) dan sistem penyimpanan energi (energy storage system) yang terintegrasi di dalam negeri.
“Ini adalah breakthrough, pabrik ekosistem baterai pertama di Indonesia. Tentu ini sangat mendukung transformasi energi bersih sekaligus proyek hilirisasi, khususnya nikel dan kobalt,” ujar Putri usai memimpin Kunjungan kerja spesifik ke proyek pabrik baterai kendaraan listrik milik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery di Karawang, Jawa Barat. Rabu (15/4/2026).
Lanjut Politisi PAN mengungkapkan, teknologi yang digunakan di pabrik tersebut tergolong modern dengan dominasi sistem robotik hingga 80 persen, sehingga mampu menghasilkan produk dengan tingkat presisi tinggi. “Kami melihat langsung, proses produksinya sudah sangat canggih dan presisi. Ini menunjukkan kesiapan Indonesia untuk masuk dalam rantai pasok global industri baterai,” tambahnya.
Komisi XII juga berharap tren penggunaan kendaraan listrik di Indonesia terus meningkat seiring hadirnya industri pendukung yang kuat. Menurut Putri, pabrik CATIB berpotensi menjadi pusat produksi (hub) baterai, tidak hanya untuk pasar domestik tetapi juga kawasan Asia hingga global.
“Kami berharap ke depan CATIB bisa menjadi salah satu penyuplai utama baterai EV dan energy storage system, bahkan menjadi pemain besar di tingkat dunia,” tegasnya.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya kebijakan pemerintah dalam mendorong konversi kendaraan berbahan bakar minyak (BBM) ke listrik. Langkah ini dinilai dapat menghemat subsidi energi dan mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak.
“Kalau program konversi motor listrik berjalan baik, ini akan menghemat subsidi BBM dan penggunaan minyak yang jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu barel,” ujarnya.
Dalam aspek sosial, Komisi XII menekankan agar keberadaan industri ini memberikan dampak langsung bagi masyarakat sekitar. Diproyeksikan menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja, perusahaan diminta memprioritaskan warga lokal, khususnya di wilayah ring satu.
“Kami minta tenaga kerja lokal harus diutamakan. Selain itu, pengelolaan limbah juga harus sesuai aturan agar industri ini benar-benar menjadi contoh green industry,” katanya.
Ia juga mengapresiasi rencana penggunaan energi terbarukan seperti panel surya dalam operasional pabrik, sebagai bagian dari komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan.
Diketahui, pabrik CATIB berkapasitas awal 6,9 GWh dengan potensi pengembangan hingga lebih dari 15 GWh. Proyek ini menelan investasi sekitar Rp7 triliun dan ditargetkan rampung pada kuartal III 2026.
CATIB merupakan perusahaan patungan antara MIND ID melalui PT Industri Baterai Indonesia (IBI) dan konsorsium CBL. Selain membangun fasilitas produksi, proyek ini juga mencakup program transfer teknologi melalui pelatihan tenaga kerja di China.
Per Januari 2026, pembangunan infrastruktur dasar telah selesai, sementara instalasi peralatan dan fasilitas pendukung masih berlangsung. Pabrik ini ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal III 2026, sekaligus menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem energi bersih nasional.
Dengan kapasitas besar dan dukungan teknologi mutakhir, Komisi XII optimistis proyek ini dapat mendorong Indonesia menjadi salah satu pusat produksi baterai kendaraan listrik terbesar di dunia. (rni/aha)