E-Media DPR RI – Referensi Berita Parlemen Terkini
BerandaBeritaBukuBuletinMajalahTVR ParlemenMedia Sosial DPRAgenda DPRWebsite DPRMagang di DPR
TRENDING:
Baleg|Komisi VII|Komisi V|Pariwisata|RUU Reforma Agraria|Boyman Harun|Komisi I|RUU Masyarakat Adat|Desa Wisata|Sukamta|Rahmawati|Martin Manurung|KKB
Jakarta:
Berawan
28°C
Terasa: 32°C
Lembab: 69%
Angin: 11 km/h
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Partner 1Partner 2

E-Media DPR RI

Biro Pemberitaan Parlemen Sekretariat Jenderal DPR RI - Gedung Nusantara II Lt.2, Kompleks Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jl. Jend. Gatot Subroto, Senayan Jakarta – Indonesia 10270

© 2026 E-Media DPR RI. All rights reserved.

E-Media DPR RI – Referensi Berita Parlemen Terkini
BerandaBeritaBukuBuletinMajalahTVR ParlemenMedia Sosial DPRAgenda DPRWebsite DPRMagang di DPR
TRENDING:
Baleg|Komisi VII|Komisi V|Pariwisata|RUU Reforma Agraria|Boyman Harun|Komisi I|RUU Masyarakat Adat|Desa Wisata|Sukamta|Rahmawati|Martin Manurung|KKB
Jakarta:
Berawan
28°C
Terasa: 32°C
Lembab: 69%
Angin: 11 km/h
/
/
E-Media DPR RI – Referensi Berita Parlemen Terkini
BerandaBeritaBukuBuletinMajalahTVR ParlemenMedia Sosial DPRAgenda DPRWebsite DPRMagang di DPR
TRENDING:
Baleg|Komisi VII|Komisi V|Pariwisata|RUU Reforma Agraria|Boyman Harun|Komisi I|RUU Masyarakat Adat|Desa Wisata|Sukamta|Rahmawati|Martin Manurung|KKB
Jakarta:
Berawan
28°C
Terasa: 32°C
Lembab: 69%
Angin: 11 km/h
/
/
Berita/Industri dan Pembangunan

120 Keluarga Menanti Air, Saan Siapkan Jalan Keluar dari Kekeringan

Diterbitkan
Sabtu, 12 Sep 2026 23.59 WIB
Bagikan:
120 Keluarga Menanti Air, Saan Siapkan Jalan Keluar dari Kekeringan

Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa saat memberikan bantuan air bersih dan meninjau lokasi sumber mata air di Desa Sukamaju, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (10/9/2026).|Foto: Oji/Karisma

PARLEMENTARIA, Sukabumi — Matahari belum sepenuhnya tegak ketika halaman Kantor Desa Sukamaju, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, mulai ramai. Deru kendaraan bercampur dengan suara langkah kaki dan percakapan orang-orang yang sejak pagi sibuk menyiapkan sebuah perhelatan sederhana.

 

Di depan kantor desa, beberapa petugas kepolisian bersama Hansip mengatur lalu lintas. Para pemuda hilir-mudik, memastikan segala sesuatu berada pada tempatnya. Sebuah spanduk bertuliskan ucapan selamat datang kepada Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa terpampang sederhana di pintu masuk aula.

Lihat Juga :

Krisis Air Berulang di Desa Sukamaju, Saan Mustopa Siapkan Solusi Permanen

Krisis Air Berulang di Desa Sukamaju, Saan Mustopa Siapkan Solusi Permanen

DPR Perkuat Penanganan Kekeringan dan Krisis Air di Jabar

DPR Perkuat Penanganan Kekeringan dan Krisis Air di Jabar

 

Di antara kesibukan itu, seorang lelaki paruh baya dengan kemeja batik, sepatu kets, dan peci hitam tampak tak kalah sibuk. Sesekali ia menengok ke halaman, kemudian kembali memastikan persiapan di dalam aula.

 

Dialah Jenal Abidin, Kepala Desa Sukamaju. Hari itu, bagi Jenal, bukan sekadar hari kerja biasa. Ada perasaan seperti hendak menyambut seorang tamu yang telah lama dinanti.

 

"Saya seperti sedang merayakan ulang tahun, antara senang sekaligus terharu karena desa kami akan dikunjungi oleh pimpinan DPR RI, Pak Saan Mustopa untuk memberikan bantuan air bersih kepada masyarakat Desa Sukamaju," ujar Jenal kepada Parlementaria.

 

Sepanjang kariernya sebagai kepala desa, baru kali ini Jenal menerima kunjungan seorang pimpinan DPR RI yang datang bukan sekadar untuk melihat wajah desa dari balik kaca kendaraan, melainkan menyaksikan sendiri persoalan yang selama bertahun-tahun menghampiri warganya setiap kali musim kemarau tiba.

 

Air, sesuatu yang bagi sebagian orang mengalir sederhana dari keran, di Sukamaju bisa menjadi perjalanan panjang. Sumber mata air berada jauh dari permukiman, sementara jumlah mata air yang tersedia tak sebanding dengan kebutuhan warga.

 

Ketika kemarau datang, air menjadi lebih dari sekadar kebutuhan. Ia menjelma menjadi penantian. "Kekeringan disertai kesulitan akses air bersih di desa kami adalah masalah rutin yang selalu muncul di saat musim kemarau melanda. Penyebabnya lantaran jauhnya lokasi sumber air dan terbatasnya mata air dari perkampungan penduduk," kata Jenal.

 

Tepat ketika matahari mulai berada di atas kepala, rombongan Saan Mustopa tiba di Kantor Desa Sukamaju, Kamis (10/9/2026). Kepala desa, camat, Wakapolres, Danramil, BPBD, serta sejumlah pemangku kepentingan Kabupaten Sukabumi hadir menyambut kedatangan politisi Partai NasDem tersebut.

 

Namun Saan tak ingin kunjungannya berhenti pada seremoni. Ia meminta satu per satu pemangku kepentingan yang hadir memaparkan kondisi sebenarnya. Berapa banyak warga terdampak? Di mana titik kekeringan? Seberapa jauh sumber air? Apa yang sudah dilakukan pemerintah dan apa yang masih menjadi kekurangan?

 

Camat Cikakak Purnama Giri menjelaskan, persoalan air di wilayahnya tak dapat dilepaskan dari bentang alam Sukamaju yang berbukit. Struktur tanah yang didominasi batuan membuat persoalan kekeringan berulang setiap musim kemarau.

 

Desa Sukamaju dihuni 7.485 jiwa dalam 2.280 kepala keluarga. Persoalan kekeringan paling terasa di Dusun 4, khususnya Kampung Kurnia dan Kampung Sawah 2.

 

Di Kampung Kurnia, terdapat 66 KK atau sekitar 205 jiwa. Sementara Kampung Sawah 2 dihuni 54 KK dengan sekitar 176 jiwa. Setidaknya 120 kepala keluarga atau 381 jiwa berada di wilayah yang secara langsung menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih. Angka-angka itu terdengar dingin ketika ditulis di atas kertas.

 

Namun di balik setiap angka, ada wajah. Ada ibu yang harus menunggu air. Ada anak yang membawa jeriken. Ada lansia yang mungkin tak lagi kuat berjalan jauh hanya untuk mendapatkan beberapa liter air untuk kebutuhan sehari-hari.

 

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukabumi Eki Radiana Rizki mengungkapkan, persoalan tersebut bukan hanya milik Sukamaju. Dari 47 kecamatan di Kabupaten Sukabumi, 22 kecamatan dilanda kekeringan. Sebanyak 45 desa telah meminta bantuan distribusi air bersih.

 

Sementara itu, BPBD Kabupaten Sukabumi hanya memiliki dua unit truk tangki air, masing-masing berkapasitas sekitar 5.000 liter. "Dari 47 kecamatan di Kabupaten Sukabumi, ada 22 kecamatan yang dilanda kekeringan dan sebanyak 45 desa yang meminta bantuan kepada kami untuk pendistribusian air bersih. Dengan luas wilayah seperti ini, BPBD Kabupaten Sukabumi hanya memiliki dua unit truk tangki dan harus melayani 47 kecamatan," jelas Eki.

 

Keterbatasan itu kemudian dijawab dengan kolaborasi. BPBD menggandeng berbagai pemangku kepentingan, termasuk PDAM dan BUMD, agar distribusi air tetap berjalan. Tetapi Saan melihat persoalan yang lebih besar. Truk tangki dapat mengantarkan air hari ini. Namun bagaimana dengan esok? Dan lusa?

 

Bagi Saan Mustopa, bantuan air bersih tidak boleh berhenti sebagai solusi sesaat. Distribusi air adalah pertolongan pertama, tetapi masyarakat membutuhkan sesuatu yang lebih permanen. Karena itu, setelah mendengar seluruh paparan, ia meminta seluruh pihak bergerak bersama membangun sistem penyediaan air yang berkelanjutan.

 

"Secepatnya kita akan bangun bak kontrol penampungan sumber mata air agar persoalan yang dihadapi masyarakat terkait dengan akses untuk mendapatkan air bersih itu bisa cepat kita tangani," kata Saan.

 

Ia bahkan mendorong agar pembangunan tersebut dapat dilakukan dalam waktu sesingkat mungkin. "Kalau bisa kita bangun dalam seminggu bisa selesai, itu akan jauh lebih baik," tegas legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Barat VII yang meliputi Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Bekasi itu.

 

Pertemuan pun usai. Namun langkah belum berhenti. Saan bersama perangkat desa, BPBD Kabupaten Sukabumi, dan sejumlah pemangku kepentingan kemudian turun langsung meninjau titik-titik permukiman warga yang mengalami kesulitan air bersih.

 

Di sana, sebuah truk tangki berkapasitas sekitar 5.000 liter telah menunggu. Air mengalir. Dan seketika suasana berubah. Nenek-nenek, ibu-ibu, dan anak-anak datang membawa jeriken dan ember. Mereka mengantre dengan sabar, menunggu giliran untuk membawa pulang sesuatu yang begitu sederhana, tetapi begitu berarti: air.

 

Saan yang berdiri di dekat selang kemudian meminta para lansia didahulukan. "Ayo nenek-nenek silakan maju lebih dulu ya, bawa sini dirigen dan embernya," selorohnya sambil menjulurkan selang air. Air pun memenuhi wadah-wadah yang dibawa warga.

 

Barangkali bagi mereka, 5.000 liter bukan sekadar angka pada badan sebuah truk. Ia adalah air untuk memasak. Air untuk mandi. Air untuk minum. Air untuk menyambung kehidupan beberapa hari ke depan.

 

Setelah membagikan air, rombongan melanjutkan perjalanan menuju sumber mata air Cirendeu. Jalan menuju lokasi itu bukan jalan yang mudah. Rombongan harus meninggalkan kendaraan dan berjalan kaki menembus lahan perkebunan. Jalan menanjak dan menurun dengan kemiringan cukup curam menjadi saksi bahwa air yang selama ini dicari warga memang tak berada dekat dari rumah mereka.

 

Keringat mulai membasahi wajah. Langkah menjadi lebih pelan. Namun di ujung perjalanan itu ada harapan: sebuah sumber mata air yang selama ini ada, tetapi belum dikelola secara optimal. Di tempat itulah gagasan tentang bak penampungan permanen akan dimulai.

 

Saan memandang sumber air tersebut sebagai titik awal untuk mengubah pola penanganan kekeringan di Sukamaju. "Sumber air ini akan kita tata, dikelola dengan baik, dan nanti kita akan membuat semacam bak penampungan dari sumber air itu. Bakpenampungan yang nanti ya sangat memadai lah ya, jadi nggak asal-asalan. Bak penampungan ini yang akan distribusi ke masyarakat di wilayah Desa Sukamaju.

 

"Mudah-mudahan sumber airnya sudah ketemu dan kita akan mulai, ini nanti Kepala Desa, Pak Camat, Pak Kadis ini semua hadir, juga ada Pak Kapolsek. Nanti mereka rundingkan dan kita ingin secepatnya bak penampungan ini akan kita bangun," pungkas Kang Saan.

 

Dari mata air yang mengalir di tanah Sukamaju, secercah harapan kembali menemukan jalannya. Kelak, ketika air itu tiba di rumah-rumah warga, yang mengalir bukan hanya kesejukan, tetapi juga cerita tentang kehidupan yang perlahan menemukan denyutnya. (oji/we)

Berita terkait

Krisis Air Berulang di Desa Sukamaju, Saan Mustopa Siapkan Solusi Permanen
Kesejahteraan Rakyat
Krisis Air Berulang di Desa Sukamaju, Saan Mustopa Siapkan Solusi Permanen
DPR Perkuat Penanganan Kekeringan dan Krisis Air di Jabar
Industri dan Pembangunan
DPR Perkuat Penanganan Kekeringan dan Krisis Air di Jabar
Legislator Dorong Investigasi Soal Dugaan Air Kemasan dari Sumur Bor
Industri dan Pembangunan
Legislator Dorong Investigasi Soal Dugaan Air Kemasan dari Sumur Bor
Tags:#Kemarau#Kekeringan#Air Bersih#Saan Mustopa#Korinbang
Sebelumnya

Serap Aspirasi Dari NTB, Pansus RUU Daerah Kepulauan Perjuangkan Keadilan Masyarakat

Selanjutnya

RUU Reforma Agraria Kaji Terbentuknya Lembaga Peradilan Khusus, Batasi Dominasi Investor

Kembali ke Berita

TAUTAN CEPAT

Berita Populer
Pencarian Lanjutan

KATEGORI

  • Semua Kategori
  • Buletin Parlementaria(5)
  • Ekonomi dan Keuangan(1166)
  • Industri dan Pembangunan(4013)
  • Isu Lainnya(1081)
  • Kesejahteraan Rakyat(3993)
  • Majalah Parlementaria(5)
  • Politik dan Keamanan(4854)
  • Populer(418)
  • Uncategorized(4)

TAG POPULER

#Seputar Parlemen#Berita Utama#Komisi X#Komisi III#Komisi VIII#Komisi IV#Komisi IX#BKSAP#Komisi II#Komisi VII

ARSIP BERITA

INFOGRAFIS

Laporan Kinerja DPR RI Tahun Sidang 2025-2026 DPR RI Berdampak : Wujudkan Daulat Rakyat Melalui Parlemen Modern, Demokratis, dan Responsif

Full Akses : https://anyflip.com/fhwbw/tjuv

Parlemen Remaja 2026
HUT DPR RI Ke-81
Majalah Parlementaria Edisi 259

Link: https://online.anyflip.com/fhwbw/eljp/mobile/index.html

Magang PPID Setjen DPR RI

Link: https://magang.dpr.go.id/register?lowongan=84

PODCAST

IKUTI KAMI

E-Media DPR RI – Referensi Berita Parlemen Terkini
BerandaBeritaBukuBuletinMajalahTVR ParlemenMedia Sosial DPRAgenda DPRWebsite DPRMagang di DPR
TRENDING:
Baleg|Komisi VII|Komisi V|Pariwisata|RUU Reforma Agraria|Boyman Harun|Komisi I|RUU Masyarakat Adat|Desa Wisata|Sukamta|Rahmawati|Martin Manurung|KKB
Jakarta:
Berawan
28°C
Terasa: 32°C
Lembab: 69%
Angin: 11 km/h