
Anggota Komisi III DPR RI, Hinca Panjaitan, dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi III DPR RI bersama Kapolri dan Kepala PPATK di Nusantara II, Senayan, Jakarta.|Foto: Devi/Karisma
PARLEMENTARIA, Jakarta – Anggota Komisi III DPR RI Hinca Panjaitan menilai pengamanan Objek Vital Nasional (Obvitnas) oleh Polri memiliki potensi besar untuk meningkatkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Potensi tersebut perlu dikaji secara lebih serius agar dapat dioptimalkan sebagai salah satu sumber penerimaan negara.
Hinca mengatakan pengamanan Obvitnas dapat menjadi salah satu penopang PNBP Polri, selain penerimaan dari sektor lalu lintas dan Badan Layanan Umum (BLU). Ia menilai penguatan kedua sumber penerimaan tersebut dapat turut menopang pelaksanaan tugas dan fungsi Polri ke depan.
“Saya membayangkan organisasi Polri ini dua pundaknya, dari sisi penerimaan negara bukan pajak dan BLU. Di sebelah kanan kokoh betul yang bersumber dari PNBP lalu lintas dan BLU kita dari rumah sakit dan surat-surat keterangan,” kata Hinca dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi III DPR RI bersama Kapolri dan Kepala PPATK di Nusantara II, Senayan, Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Menurutnya, penerimaan dari PNBP lalu lintas dan BLU telah menunjukkan perkembangan yang cukup baik dari tahun ke tahun. Namun, potensi PNBP dari pengamanan Obvitnas dinilai belum sepenuhnya tergarap sehingga perlu mendapat perhatian dalam pembahasan anggaran Polri.
Hinca menyebut penerimaan dari pengamanan Obvitnas saat ini berada di kisaran Rp700 miliar. Padahal, dengan jumlah Obvitnas yang mencapai ribuan, potensi penerimaan tersebut menurut perhitungannya dapat jauh lebih besar.
“Menurut saya ini akan menjadi bahu sebelah kiri, yang bila didorong kuat persiapannya matang gagah ini Polri ke depan. Bahu kanan dan bahu kirinya kuat untuk menopang kegiatan kita,” ujar legislator dari Fraksi Partai Demokrat tersebut.
Karena itu, Hinca meminta potensi PNBP dari pengamanan Obvitnas dikaji secara lebih mendalam, termasuk kemungkinan besaran penerimaan yang dapat diperoleh negara. Ia memperkirakan potensi tersebut bahkan dapat mencapai Rp7 triliun.
“Oleh karena itu agar ini kuat, saya ingin meminta agar objek vital nasional itu dikaji betul berapa bisa dapat PNBP kita. Dan jumlahnya ribuan yang menurut hitungan saya kalau salah nanti dikoreksi bisa menembus sampai 7 triliun. Sementara yang masuk kita catatkan baru 700 miliar,” pungkas Hinca. (ujm/rdn)