
Charles Honoris mengunjungi dan menyapa pasien RSUD Ruteng yang berada di tenda darurat dalam Kunspek Komisi IX dalam tinjauan pascagempa Ruteng, NTT, (21/08/2026).|Foto: Yohanes/Karisma
PARLEMENTARIA, Ruteng – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris menyoroti pentingnya percepatan penanganan darurat dan pemulihan pelayanan kesehatan pascagempa bumi yang melanda Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Mewakili Komisi IX, ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, tenaga kesehatan, aparat keamanan, hingga relawan yang telah bergotong royong menangani masyarakat terdampak.
"Kami menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, pemerintah kabupaten, tenaga kesehatan, BPBD, TNI, Polri, relawan, serta seluruh pihak yang telah bekerja dalam penanganan masyarakat terdampak," ujar Charles dalam Kunjungan Komisi IX DPR RI di Ruteng, Jumat (21/8/2026).
Pimpinan Komisi IX DPR RI tersebut memaparkan kondisi kerusakan fasilitas kesehatan yang cukup masif di sejumlah wilayah terdampak gempa. Dari 190 puskesmas yang beroperasi di Flores, sebanyak 68 unit mengalami kerusakan dan 19 di antaranya dilaporkan belum dapat melayani masyarakat.
"Di Kabupaten Manggarai, RSUD Ruteng mengalami kerusakan serius sehingga sebagian pelayanan harus dilakukan di luar bangunan rumah sakit, sedangkan RS Pratama Reo mengalami kerusakan sangat berat dan pelayanan harus dialihkan ke fasilitas sementara," tegasnya.
Charles menegaskan, pengawasan parlemen tidak hanya tertuju pada dua fasilitas kesehatan tersebut, tetapi juga mencakup evaluasi menyeluruh terhadap fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh kawasan terdampak. Evaluasi tersebut meliputi pemetaan status operasional dan kapasitas pelayanan rumah sakit, identifikasi kebutuhan tenaga kesehatan, obat-obatan, dan alat medis, serta penilaian kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur kesehatan.
"Kami ingin memperoleh gambaran mengenai kondisi seluruh rumah sakit, puskesmas, dan fasilitas pelayanan kesehatan di kabupaten-kabupaten terdampak di Flores untuk memetakan penanganan lebih lanjut," imbuhnya.
Selain memastikan kondisi fasilitas kesehatan, legislator tersebut mendorong optimalisasi rumah sakit rujukan di sekitar wilayah terdampak agar tetap memiliki kapasitas untuk menerima limpahan pasien. Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Kementerian Kesehatan telah menyiagakan RSUD Borong, RSUD Bajawa, RSUD Nagekeo, RSUD Ende, dan RSUD TC Hillers Sikka sebagai fasilitas pendukung utama.
"Komisi IX ingin memperoleh satu gambaran yang menyeluruh mengenai kondisi korban dan pengungsi, kerusakan dan operasional fasilitas kesehatan, sistem rujukan, pelayanan JKN, keamanan obat, serta kebutuhan pangan dan gizi," ujarnya.
Gempa bumi bermagnitudo 7,7 di Pulau Flores, NTT, pada 15 Agustus 2026 mengakibatkan kerusakan luas dan jatuhnya korban jiwa. Hingga 21 Agustus 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam konferensi persnya menyebut jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah menjadi 83 jiwa, korban luka-luka sebanyak 986 jiwa, dan 110.785 jiwa mengungsi. Bencana ini juga menyebabkan sedikitnya 44.946 rumah warga di delapan kabupaten mengalami kerusakan, dengan dampak terparah tercatat di Kabupaten Manggarai Timur. (ysw/aha)