
Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto usai memimpin RDPU Komisi XII DPR RI bersama Banggar DPRD Provinsi Jambi yang mengeluhkan dampak lalu lintas tambang batu bara di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta.|Foto : Jaka/Andri
PARLEMENTARIA, Jakarta — Komisi XII DPR RI mendesak penguatan skema Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mulut Tambang sebagai solusi permanen atas persoalan pengangkutan batu bara yang merusak jalan publik di daerah. Sikap tersebut ditegaskan Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto saat memimpin Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi XII DPR RI bersama Banggar DPRD Provinsi Jambi yang mengeluhkan dampak lalu lintas tambang batu bara di Ruang Rapat Komisi XII, Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Ia menilai pemanfaatan cadangan batu bara daerah yang dominan berkarakteristik Low Range (di bawah GAR 4.000) harus difokuskan langsung di area tambang. "Pengembangan PLTU Mulut Tambang menjadi solusi strategis untuk mengatasi masalah angkutan di Jambi. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) sudah masuk alokasi 2x600 Megawatt (1,2 Gigawatt) untuk PLTU Mulut Tambang. Dengan begitu, jarak open pit ke pembangkit paling jauh hanya 5 kilometer, sehingga batu bara tidak perlu diangkut melintasi jalan umum yang merusak infrastruktur warga," ujar Sugeng.
Langkah ini diambil Komisi XII DPR RI agar potensi SDA daerah memberikan nilai tambah ekonomi tanpa membebani fasilitas umum maupun memicu konflik sosial. Sebagai penopang distribusi energinya, Sugeng menjelaskan bahwa listrik hasil PLTU Mulut Tambang akan disalurkan melalui transmisi interkoneksi Nusantara Grid (green and smart grid) yang diperkirakan membutuhkan investasi nasional sekitar 115 miliar Dolar AS.
Lebih jauh, dirinya memaparkan bahwa Nusantara Grid berbasis smart grid dirancang untuk menampung integrasi energi terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas potensial 400 Gigawatt yang bersifat intermittent. Sistem ini dilengkapi konverter pengatur frekuensi serta disokong Battery Energy Storage System (BESS) melalui pengembangan Indonesia Battery Corporation (IBC).
"Yang kita alirkan dan distribusikan adalah energi listriknya ke sistem nasional lewat Nusantara Grid, bukan lagi lalu lalang truknya di jalanan. Listrik kini sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat. Melalui integrasi jaringan kelistrikan pintar ini, Indonesia tidak hanya menyelesaikan persoalan angkutan tambang daerah seperti di Jambi, tetapi juga siap menuju kemandirian transisi energi nasional," pungkas Sugeng. (Ndy/um)