
Teladan dari Kalimantan Barat, Marselus Yokos, saat berbagi cerita Nusantara IV, Senayan, Jakarta.|Foto: Ucha/Karisma
PARLEMENTARIA, Jakarta – Bentang alam kekayaan Indonesia tak sekadar terbentang dalam hamparan hutan dan segala kekayaan yang tumbuh di dalamnya. Di balik rimbunnya pepohonan, di antara hijau yang membentang sejauh mata memandang, tersimpan jejak sejarah, identitas, serta kisah kehidupan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bagi Marselus Yokos, warisan itu bukan sekadar cerita yang dituturkan dari masa lalu, melainkan sesuatu yang terus hidup di dalam hutan adat yang dijaga bersama masyarakat di Ketemenggungan Tae, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.
Menjadi satu dari 262 penerima Teladan, Marselus Yokos diundang dan datang untuk hadir langsung dalam agenda kenegaraan menjelang HUT ke-81 Republik Indonesia. Pria yang karib disapa Yokos itu adalah Temenggung: pemangku tertinggi adat di wilayahnya. Bersama masyarakat adat, ia merawat hamparan hutan yang membentang di delapan kampung di Ketemenggungan Tae, Kabupaten Sanggau. Di sana, hutan bukan sekadar tempat berpijak dan menggantungkan hidup, melainkan ruang tempat jejak leluhur, sejarah, dan nilai-nilai adat terus berdenyut, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Salah satu bagian penting dari kawasan tersebut adalah Tembawang. Di Kalimantan Barat, Tembawang adalah sistem pengelolaan lahan tradisional atau wanatani (agroforestry) asli dari Suku Dayak. Area ini terbentuk dari bekas ladang berpindah yang ditanami pohon buah, tanaman obat, dan pohon berumur panjang secara turun-temurun. Bagi masyarakat setempat, tembawang merupakan peninggalan para leluhur yang memiliki nilai sejarah sekaligus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Oleh masyarakat setempat, tembawang tak sekadar dijaga sebagai warisan leluhur, tetapi juga mulai dikembangkan menjadi ruang yang menyimpan potensi ekonomi. Salah satunya melalui tanaman durian lokal yang kini tumbuh sebagai komoditas unggulan di tanah leluhur tersebut.
“Bagi kami, Tembawang itu bukan hanya tempat tumbuhnya pohon. Di sana ada peninggalan leluhur, ada sejarah, dan ada kehidupan yang terus kami wariskan. Salah satunya Tembawang durian yang sampai sekarang masih kami jaga,” cerita Yokos kepada Parlementaria di Gedung Nusantara IV, Senayan, Jakarta, Jumat silam (14/8/2026).
Dari ruang adat tersebut, masyarakat kemudian berupaya mengembangkan potensi yang tersedia agar hutan tidak hanya dijaga, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi. Melalui Kelompok Perhutanan Sosial (KPS) dan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), berbagai usaha mulai dibangun, di antaranya rumah produksi, pengolahan air minum, serta pengembangan produk durian dan lempok.
Saat ini, perhatian masyarakat juga diarahkan pada pengembangan rumah bibit. Budidaya bibit dan durian unggulan lokal menjadi salah satu ikhtiar untuk memastikan kekayaan hayati yang tumbuh di wilayah adat dapat terus dikembangkan. Bagi Yokos, menjaga hutan dan mengembangkan ekonomi masyarakat bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan.
Perjalanan tersebut kemudian membawa Yokos dan masyarakat adat di wilayahnya memperoleh penghargaan Teladan. Penghargaan itu menjadi bentuk apresiasi atas upaya menjaga wilayah hutan sekaligus menghadirkan inovasi dalam pengelolaan potensi yang dimiliki masyarakat. Namun, bagi Marselus, penghargaan tersebut bukanlah tujuan akhir.
“Dari kami khususnya, Teladan menjadi penghargaan yang kedepannya harus menjadi pengingat dari usaha serius dalam mendampingi masyarakat hukum adat yang di wilayah hutan adat,” katanya.
Di balik penghargaan tersebut, masih terdapat pekerjaan besar yang harus dilakukan. Masyarakat adat menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ancaman terhadap wilayah adat hingga persoalan tumpang tindih kebijakan dan perizinan. Bagi masyarakat yang telah menjaga wilayah tersebut secara turun-temurun, kepastian terhadap hutan adat menjadi bagian penting dari keberlangsungan kehidupan mereka.
Yokos mengungkapkan, persoalan kerap bermula ketika wilayah adat telah ditetapkan, tetapi kemudian izin konsesi atau kepentingan lain datang memasuki ruang yang selama ini menjadi tempat hidup masyarakat. Di titik itulah gesekan dapat tumbuh, sebab bagi masyarakat adat, tanah bukan sekadar hamparan yang memiliki batas di atas peta, melainkan ruang hidup yang menyimpan sejarah, penghidupan, dan jejak leluhur. Ketika keputusan menyangkut ruang itu dibuat tanpa melibatkan mereka, rasa memiliki pun mudah berubah menjadi kegelisahan.
Meski demikian, masyarakat adat di wilayahnya memilih jalan musyawarah. Ketika perusahaan hendak masuk, pintu komunikasi terlebih dahulu dibuka untuk mencari titik temu dan bentuk kerja sama yang tidak meninggalkan salah satu pihak dalam kerugian. Bagi mereka, menjaga tanah adat bukan berarti menutup diri dari dunia luar. Musyawarah dan mufakat menjadi jalan untuk mempertemukan kepentingan, sekaligus menjaga agar hubungan antara masyarakat adat dan pihak luar tetap tumbuh dalam keseimbangan.
“Kalau mereka mau masuk itu sebagai mitra. Yang penting kita ajak berbicara dengan baik. Karena sifat dari kelembagaan kita, kita musyawarah mufakat. Nah begitu mereka, kami mendapat dan perusahaan pun juga tidak rugi, nah kita jadi kerja sama yang baik,” tutur Yokos.
Di titik inilah peran negara menjadi penting. Menurut dia, masyarakat adat tidak hanya membutuhkan pengakuan, tetapi juga pendampingan yang berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas mereka. Potensi sumber daya alam yang dimiliki cukup besar, tetapi belum seluruhnya mampu dikelola menjadi produk yang memiliki daya saing di pasar yang lebih luas.
Harapan tersebut juga menjadi bagian dari asa peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Marselus Yokos dan masyarakat adat Kalimantan Barat menghadirkan makna lain tentang kemerdekaan. Kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui upacara dan simbol kenegaraan, tetapi juga ketika masyarakat di pelosok negeri memiliki ruang untuk menjaga warisan leluhurnya, mengembangkan potensi alamnya, dan menentukan masa depannya. Dari hutan adat, sebuah keteladanan tumbuh dengan merawat masa lalu sekaligus menyiapkan masa depan Indonesia. (ujm/aha)