
Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR RI dengan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta.|Foto : Mares/Andri
PARLEMENTARIA, Jakarta – Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani meminta Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) memastikan program Gerakan Orang Tua Asuh Stunting (GENTING) tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata terhadap penurunan angka stunting di Indonesia.
Hal itu disampaikannya dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR RI dengan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Netty mempertanyakan praktik-praktik terbaik pelaksanaan program Orang Tua Asuh Stunting yang selama ini dijalankan di berbagai daerah. Menurutnya, keberhasilan program tidak cukup diukur dari banyaknya pihak yang terlibat, melainkan dari sejauh mana program tersebut mampu mendampingi keluarga berisiko stunting secara berkelanjutan.
"Saya masih menyimpan pertanyaan apakah kemudian program ini masih didominasi oleh selebrasi yang berlebihan ketimbang kemudian program pendampingannya," ujar Netty.
Ia mencontohkan program Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang telah banyak memiliki regulasi di daerah, namun dalam implementasinya belum sepenuhnya menunjukkan hasil yang signifikan. Karena itu, ia mengingatkan agar Gerakan Orang Tua Asuh Stunting tidak mengalami hal serupa. "Jadi ini menurut saya perlu juga disampaikan seperti apa pola-pola best practice dari orang tua asuh stunting," katanya.
Politisi Fraksi PKS itu menilai perlu ada penjelasan yang lebih rinci mengenai bentuk pendampingan yang dilakukan para orang tua asuh kepada keluarga sasaran. Menurutnya, efektivitas program harus dapat diukur dari kontribusinya dalam memenuhi kebutuhan gizi dan pendampingan keluarga berisiko stunting.
"Apakah kemudian orang tua asuh stunting ini secara rutin memberikan asupan bergizi buat keluarga berisiko stunting atau kemudian sebagiannya memang memelihara secara khusus, merawat secara khusus seperti itu. Nah ini penting untuk diperjelas gerakan orang tua asuh stunting," tegasnya.
Netty juga mengingatkan bahwa keberhasilan program tidak bisa hanya diukur dari banyaknya orang tua asuh stunting yang terlibat. Menurutnya, program tersebut harus mampu menunjukkan hasil nyata melalui penurunan angka stunting di lapangan. "Jangan sampai kita euforia bahwa ada sekian orang tua asuh stunting tapi kemudian tidak berbanding lurus dengan penyelesaian stunting itu sendiri," pungkasnya. (als/ssb)