
Anggota Timwas Haji DPR RI 2026, Nasir Djamil saat melakukan peninjauan di Sektor 6 Makkah.|Foto: Andri/Sari
PARLEMENTARIA, Makkah — Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI 2026, Nasir Djamil menyoroti persoalan transportasi jemaah haji asal Aceh saat melakukan peninjauan di Sektor 6, Makkah, Jumat (22/5/2026). Meski fasilitas penginapan dan konsumsi dinilai memadai, akses transportasi menuju tempat ibadah disebut masih menjadi persoalan utama yang kerap dikeluhkan jemaah.
Anggota Komisi III DPR RI mengatakan, mayoritas jemaah haji asal Aceh ditempatkan di Sektor 6 dengan fasilitas hotel yang dinilai cukup baik. Namun, kondisi tersebut tidak diimbangi dengan layanan transportasi yang memadai.
“Fasilitas yang diberikan itu sangat bagus. Air bagus, katering juga bagus. Cuma memang tidak diikuti dengan transportasi yang memadai,” kata Nasir saat ditemui Parlementaria usai peninjauan.
Menurutnya, jarak antara penginapan dengan lokasi ibadah menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah, terutama lanjut usia. Keterbatasan armada membuat sebagian jemaah harus menggunakan kendaraan umum atau taksi untuk menuju Masjidil Haram.
“Kalau tempatnya agak jauh sebenarnya tidak masalah, asalkan tersedia transportasi yang pasti. Tapi kalau tidak tersedia, itu membuat jemaah berada dalam ketidakpastian,” ujarnya.
Nasir mengaku menerima laporan bahwa bus Shalawat belum sepenuhnya mampu mengakomodasi kebutuhan mobilitas jemaah. Situasi itu, kata dia, perlu menjadi bahan evaluasi bagi Kementerian Haji Arab Saudi maupun penyelenggara haji Indonesia.
Ia menyebut jemaah Aceh berharap tetap ditempatkan di Sektor 6 pada musim haji mendatang karena fasilitas hotel dinilai nyaman. Namun, perbaikan sistem transportasi menjadi tuntutan utama yang harus segera dibenahi.
“Ke depan mereka berharap tempatnya masih di Sektor 6, tapi transportasinya dievaluasi agar lebih baik,” kata Politisi Fraksi PKS ini.
Selain menyoroti transportasi, Nasir juga melihat perlunya penguatan pengawasan dan pengendalian aktivitas jemaah menjelang puncak ibadah haji. Ia menilai banyak jemaah masih bebas beraktivitas tanpa kontrol yang cukup sehingga kondisi fisik dan mental mereka kurang terjaga.
“Persiapan menuju pelaksanaan ibadah haji itu penting. Jemaah harus dipersiapkan lahir dan batin sebelum masuk fase puncak di Arafah, Muzdalifah, dan Mina,” ujarnya.
Nasir mengusulkan agar tiga hingga tujuh hari menjelang puncak haji, jemaah mulai diarahkan mengikuti kegiatan pembinaan fisik dan mental seperti senam ringan, bimbingan ibadah, hingga penguatan spiritual agar lebih fokus menjalani rangkaian ibadah.
“Paling tidak tiga hari sebelum pelaksanaan haji mereka sudah benar-benar menyiapkan hati dan fisiknya,” katanya. (man/rdn)