
Ketua GKSB Indonesia - Meksiko Herman Khaeron beserta delegasi Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) DPR RI-Parlemen Meksiko menerima kunjungan Duta Besar Meksiko di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.|Foto : Jaka/Andri
PARLEMENTARIA, Jakarta - Delegasi Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) DPR RI-Parlemen Meksiko menerima kunjungan Duta Besar Meksiko di Ruang Delegasi, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Pertemuan tersebut membahas upaya mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Meksiko di berbagai sektor strategis.
Ketua GKSB Indonesia - Meksiko Herman Khaeron mengatakan, salah satu isu penting yang dibahas ialah hambatan perdagangan udang Indonesia ke Meksiko. Selain itu, kedua pihak turut membahas peluang kerja sama pengadaan daging sapi dari Meksiko ke Indonesia yang saat ini masih terkendala persoalan sertifikasi halal.
Ia pun menilai, kerja sama ekonomi tersebut berpotensi memberi manfaat bagi kedua negara. Di bidang budaya, pertemuan juga menyoroti potensi kolaborasi industri perfilman.
Lebih lanjut, Herman menyebut Indonesia dan Meksiko memiliki kesamaan tren penonton, mulai dari film horor, komedi hingga drama, sehingga peluang pertukaran karya sinema dinilai cukup besar. “Ke depan film Indonesia bisa masuk ke Meksiko, begitu juga sebaliknya. Tadi Duta Besar juga membuka ruang kerja sama perfilman antara Indonesia dan Meksiko,” ujarnya.
Selain perdagangan dan budaya, kedua pihak juga membicarakan peningkatan kerja sama di sektor pertanian dan pendidikan. Herman mengatakan, program pertukaran petani antara Indonesia dan Meksiko sebelumnya telah mulai dijalankan melalui nota kesepahaman yang disepakati pada 2018. Ke depan, harapnya, kerja sama tersebut diharapkan dapat diperluas, termasuk melalui pertukaran mahasiswa.
Menurutnya, peningkatan pertukaran mahasiswa penting untuk mempererat hubungan antarmasyarakat kedua negara sekaligus membuka peluang transfer pengetahuan dan pengalaman di berbagai bidang. Terkait perjanjian perdagangan komprehensif atau CEPA Indonesia–Meksiko, Herman menjelaskan proses pembahasan dan ratifikasi masih berjalan di tingkat komisi DPR RI.
Ia menegaskan substansi utama dalam perjanjian tersebut pada dasarnya tidak memiliki hambatan berarti dan tinggal menunggu tahapan lanjutan. Oleh karena itu, Herman optimistis pertemuan ini akan menjadi bagian penting dalam memperkuat hubungan dagang kedua negara meski secara geografis terpisah jarak yang cukup jauh. (bit/um)