E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Bencana|SPMB|PTN|Kesehatan|Perguruan Tinggi|PTS|Pendidikan|WNI|layanan kesehatan|OJK|sekolah|Kekerasan Seksual|UU TPKS
Jakarta:
Berawan sebagian
31°C
Terasa: 36°C
Lembab: 64%
Angin: 10 km/h
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Partner 1Partner 2

E-Media DPR RI

Gedung Nusantara II Lt.3 Jl. Jend. Gatot Subroto – Senayan Jakarta – 10270

© 2026 E-Media DPR RI. All rights reserved.

E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Bencana|SPMB|PTN|Kesehatan|Perguruan Tinggi|PTS|Pendidikan|WNI|layanan kesehatan|OJK|sekolah|Kekerasan Seksual|UU TPKS
Jakarta:
Berawan sebagian
31°C
Terasa: 36°C
Lembab: 64%
Angin: 10 km/h
/
/
E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Bencana|SPMB|PTN|Kesehatan|Perguruan Tinggi|PTS|Pendidikan|WNI|layanan kesehatan|OJK|sekolah|Kekerasan Seksual|UU TPKS
Jakarta:
Berawan sebagian
31°C
Terasa: 36°C
Lembab: 64%
Angin: 10 km/h
/
/
Berita/Industri dan Pembangunan

Soroti Pembangunan PIK 2, Legislator: Jangan Sampai Hanya Jadi Kawasan Elit

Diterbitkan
Jumat, 6 Feb 2026 09.40 WIB
Bagikan:
Soroti Pembangunan PIK 2, Legislator: Jangan Sampai Hanya Jadi Kawasan Elit

Anggota Komisi VII DPR RI, Mujakkir Zuhri, Dalam kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR RI ke Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Tangerang, Banten, Kamis (5/2/2026). Foto: Nap/Karisma.

PARLEMENTARIA, Tangerang — Pembangunan kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 mendapat sorotan dari Anggota Komisi VII DPR RI Mujakkir Zuhri. Dalam kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR RI ke kawasan tersebut, Mujakkir yang merupakan putra daerah asli pesisir Tangerang mengungkapkan kegelisahannya terkait dampak sosial dan lingkungan yang dirasakan langsung oleh warga sekitar.

Ia mengenang masa lalunya di wilayah tersebut yang kini telah berubah total akibat pembangunan. Bahkan pihaknya menilai, banyak warga lokal kehilangan akses dan tempat mata pencaharian yang mayoritas adalah nelayan akibat dari pembangunan yang masif di daerah tersebut.

“Saya tahu persis wilayah pantai, mulai dari Dadap sampai ke Rambu Betis. Persis, karena memang itu tadi apa yang disampaikan tuh, kayak sungai Lurus, sungai Tahang, itu tempat saya mancing semua. Tempat saya main, sekarang hilang,” terang Mujakkir saat pertemuan dengan pengelola kawasan PIK 2, perwakilan Kementerian Pariwisata, Kementerian UMKM, dan Kementerian Ekraf di Tangerang, Banten, Kamis (5/2/2026).

Meski mengapresiasi kemajuan fisik bangunan yang luar biasa, Mujakkir memperingatkan agar pembangunan tidak meminggirkan warga asli. Hal ini dikarenakan adanya potensi kesenjangan sosial yang sangat kontras antara kemewahan di dalam kawasan dengan kondisi di luar kawasan. Ia juga menyoroti harga-harga di kawasan PIK 2 yang dinilai tidak terjangkau bagi masyarakat lokal maupun warga dari wilayah Pantura Tangerang.

“Juga masyarakat yang datang ke sini, dari Pantura, ah mau jalan-jalan ini ke PIK, luar biasa, saya juga sering datang. Tidak ada tempat makanan yang murah. Mahal semua. Ini jangan sampai PIK 2 ini bisa dinikmati oleh orang-orang yang punya duit. Tapi tolonglah, kita sediakan tempat-tempat khusus, Pak. Minimal sepadan dengan orang Pantura,” tambahnya.

Tak hanya itu, dampak lingkungan menjadi poin krusial yang dibahas terkait pembangunan kawasan PIK 2. Mujakkir menyebut bahwa “betonisasi” telah menghilangkan daerah resapan air, sehingga banjir kini lebih sering melanda pemukiman warga. Mobilisasi kendaraan proyek yang melebihi kapasitas jalan dinilai menjadi penyebab hancurnya infrastruktur publik di sekitar proyek. Ia meminta ketegasan dari pemerintah daerah dan pengelola untuk mengawasi tonase kendaraan yang lewat.

“Kasihanlah dengan masyarakat kita yang sekarang infrastrukturnya hancur, Pak. Hancur luar biasa. Yang itu betonisasi kalau dibangun itu ukurannya minimal 5 tahun harus buat. Tapi 8 bulan, 1 tahun itu sudah hancur. Karena apa? Lalu lalang mobil yang overload, yang kekuatan jalan kamu pakai cuma 15 ton, itu dilewati oleh 40 ton. Jalan provinsi aja engga kuat, apalagi jalan kabupaten,” tegas Mujakkir. •nap/aha

Berita terkait

Revisi UU Perlindungan Konsumen, Jangan Sampai Indonesia Hanya Jadi Pasar Negara Lain
Industri dan Pembangunan
Revisi UU Perlindungan Konsumen, Jangan Sampai Indonesia Hanya Jadi Pasar Negara Lain
PLB Jangan Sampai Hanya Jadi Tempat Dumping Barang Impor
Ekonomi dan Keuangan
PLB Jangan Sampai Hanya Jadi Tempat Dumping Barang Impor
Komisi IV: Harusnya Menhut Bersikap Tegas Kawasan Hutan Lindung Jadi PSN di PIK 2
Industri dan Pembangunan
Komisi IV: Harusnya Menhut Bersikap Tegas Kawasan Hutan Lindung Jadi PSN di PIK 2
Tags:#Seputar Parlemen#Komisi VII
Sebelumnya

Jaksa Menjerit: Kesejahteraan Minim, Kontribusi Selamatkan Keuangan Negara Besar

Selanjutnya

Industri Susu Nasional Pegang Peran Strategis dalam Program MBG

Kembali ke Berita

TAUTAN CEPAT

Berita Populer
Pencarian Lanjutan

KATEGORI

  • Semua Kategori
  • Buletin Parlementaria(5)
  • Ekonomi dan Keuangan(935)
  • Industri dan Pembangunan(3345)
  • Isu Lainnya(1023)
  • Kesejahteraan Rakyat(3349)
  • Majalah Parlementaria(5)
  • Politik dan Keamanan(4081)
  • Populer(418)
  • Uncategorized(4)

TAG POPULER

#Seputar Parlemen#Berita Utama#Komisi X#Komisi III#Komisi IV#BKSAP#Komisi VIII#Komisi IX#Komisi II#Komisi VII

ARSIP BERITA

INFOGRAFIS

DPR RI Buka Pendaftaran, Seleksi, dan Pemilihan Anggota Badan Supervisi OJK
Parlemen Remaja

Parlemen Remaja

Syarat dan Ketentuan Umum

PODCAST

IKUTI KAMI

E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Bencana|SPMB|PTN|Kesehatan|Perguruan Tinggi|PTS|Pendidikan|WNI|layanan kesehatan|OJK|sekolah|Kekerasan Seksual|UU TPKS
Jakarta:
Berawan sebagian
31°C
Terasa: 36°C
Lembab: 64%
Angin: 10 km/h