E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Perempuan|KUHP|UU TPKS|Anggaran 2027|TNI|Aspirasi|Kesehatan|layanan kesehatan|HAM|RUU Kehutanan|PERTAMINA|Pendidikan|APBN
Jakarta:
Gerimis
27°C
Terasa: 32°C
Lembab: 81%
Angin: 5 km/h
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Partner 1Partner 2

E-Media DPR RI

Gedung Nusantara II Lt.3 Jl. Jend. Gatot Subroto – Senayan Jakarta – 10270

© 2026 E-Media DPR RI. All rights reserved.

E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Perempuan|KUHP|UU TPKS|Anggaran 2027|TNI|Aspirasi|Kesehatan|layanan kesehatan|HAM|RUU Kehutanan|PERTAMINA|Pendidikan|APBN
Jakarta:
Gerimis
27°C
Terasa: 32°C
Lembab: 81%
Angin: 5 km/h
/
/
E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Perempuan|KUHP|UU TPKS|Anggaran 2027|TNI|Aspirasi|Kesehatan|layanan kesehatan|HAM|RUU Kehutanan|PERTAMINA|Pendidikan|APBN
Jakarta:
Gerimis
27°C
Terasa: 32°C
Lembab: 81%
Angin: 5 km/h
/
/
Berita/Kesejahteraan Rakyat

Ironi Cagar Budaya Indonesia: Kaya Warisan, Miskin Dukungan Modal

Diterbitkan
Senin, 2 Feb 2026 18.09 WIB
Bagikan:
Ironi Cagar Budaya Indonesia: Kaya Warisan, Miskin Dukungan Modal

Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih. Foto: Tari/Karisma.

PARLEMENTARIA, Jakarta – Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih menyayangkan kekayaan cagar budaya Indonesia yang telah diakui UNESCO belum mampu menandingi popularitas destinasi wisata global lainnya. Ia menilai hal ini akibat lemahnya kekuatan narasi dan minimnya dukungan permodalan bagi pelaku ekonomi kreatif. 

Dalam Rapat Dengar Pendapat Panitia Kerja Cagar Budaya bersama jajaran Kementerian Pariwisata, Kementerian Ekonomi Kreatif, dan Kementerian Lingkungan Hidup di Jakarta, Rabu lalu (28/1/2026) Fikri mendesak pemerintah untuk segera menerapkan skema pembiayaan berbasis kekayaan intelektual. Skema bernama IP Financing Scheme itu dapat diterapkan secara konkret, agar produk budaya nasional memiliki ‘napas’ untuk bersaing di pasar global dan tidak kalah di negeri sendiri.

Menurutnya, Indonesia memiliki aset budaya yang jauh lebih beragam dan bernilai sejarah tinggi, namun gagal dikemas menjadi kekuatan ekonomi yang optimal. Ia membandingkannya dengan kesuksesan Cappadocia di Turki yang mampu menyedot wisatawan dunia, termasuk ribuan turis Indonesia, hanya bermodalkan promosi naratif melalui film dan serial drama yang digarap serius.

Legislator PKS ini juga mengungkapkan kekecewaannya karena banyak produk sub sektor unggulan seperti kuliner, kriya, dan fesyen di sekitar kawasan cagar budaya yang harus berjuang sendirian tanpa intervensi negara yang memadai. Akibatnya, produk lokal tersebut kerap kalah bersaing dengan produk impor yang masuk dengan strategi pemasaran masif. 

Fikri menilai, implementasi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2019 tentang Ekonomi Kreatif belum dirasakan dampaknya dalam memberikan solusi nyata, khususnya terkait akses permodalan yang selama ini menjadi kendala klasik para seniman dan pengusaha lokal.

“Padahal kita punya banyak cagar budaya yang luar biasa, katanya menakjubkan dunia tapi tidak laku. Sementara yang tidak disebut dalam UNESCO seperti Cappadocia laku, bahkan orang Indonesia ke sana karena dia tahu pasarnya di sini dan ada yang membiayai,” kata Fikri dalam keterangan rilis yang diterima Parlementaria, Senin (2/2).

Lebih lanjut, Fikri menegaskan bahwa kunci untuk membalikkan keadaan ini adalah dengan mempermudah akses modal melalui IP Financing Scheme. Dengan skema ini, kekayaan intelektual atau karya kreatif dapat dijadikan agunan untuk mendapatkan pembiayaan bank, sehingga pelaku usaha tidak lagi terhambat masalah aset fisik. 

Tanpa terobosan ini, ia khawatir narasi kebudayaan Indonesia akan terus tenggelam, dan cagar budaya hanya akan menjadi situs mati yang tidak memberikan dampak ekonomi signifikan bagi masyarakat sekitarnya. •gal/aha

Berita terkait

Profesionalitas Tenaga Ahli Cagar Budaya Jadi Kunci Pelestarian Warisan Budaya
Kesejahteraan Rakyat
Profesionalitas Tenaga Ahli Cagar Budaya Jadi Kunci Pelestarian Warisan Budaya
Juliyatmono: Daerah Cagar Budaya Mayoritas Miskin dan Sulit Bersaing, Perlu Revisi UU
Kesejahteraan Rakyat
Juliyatmono: Daerah Cagar Budaya Mayoritas Miskin dan Sulit Bersaing, Perlu Revisi UU
Putu Supadma Rudana: Undang-Undang Permuseuman Lestarikan Warisan Budaya Indonesia
Kesejahteraan Rakyat
Putu Supadma Rudana: Undang-Undang Permuseuman Lestarikan Warisan Budaya Indonesia
Tags:#Seputar Parlemen#Komisi X
Sebelumnya

Komisi VIII Dorong Revisi UU Penanggulangan Bencana, BNPB Jadi Komando Tunggal

Selanjutnya

Musa Rajekshah: Pembangunan Infrastruktur di Sumut Harus Berbasis Perencanaan Jangka Panjang

Kembali ke Berita

TAUTAN CEPAT

Berita Populer
Pencarian Lanjutan

KATEGORI

  • Semua Kategori
  • Buletin Parlementaria(5)
  • Ekonomi dan Keuangan(891)
  • Industri dan Pembangunan(3285)
  • Isu Lainnya(1020)
  • Kesejahteraan Rakyat(3266)
  • Majalah Parlementaria(5)
  • Politik dan Keamanan(4011)
  • Populer(417)
  • Uncategorized(4)

TAG POPULER

#Seputar Parlemen#Berita Utama#Komisi X#Komisi III#Komisi IV#BKSAP#Komisi VIII#Komisi IX#Komisi II#Komisi VII

ARSIP BERITA

INFOGRAFIS

LOKAS
DPR RI Buka Pendaftaran, Seleksi, dan Pemilihan Anggota Badan Supervisi OJK

PODCAST

IKUTI KAMI

E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Perempuan|KUHP|UU TPKS|Anggaran 2027|TNI|Aspirasi|Kesehatan|layanan kesehatan|HAM|RUU Kehutanan|PERTAMINA|Pendidikan|APBN
Jakarta:
Gerimis
27°C
Terasa: 32°C
Lembab: 81%
Angin: 5 km/h