E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Kesehatan|Bencana|SPMB|PTN|Anggaran|Perguruan Tinggi|PTS|Backlog|Pendidikan|WNI|Infrastruktur|layanan kesehatan|OJK
Jakarta:
Berawan
30°C
Terasa: 33°C
Lembab: 65%
Angin: 15 km/h
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Partner 1Partner 2

E-Media DPR RI

Gedung Nusantara II Lt.3 Jl. Jend. Gatot Subroto – Senayan Jakarta – 10270

© 2026 E-Media DPR RI. All rights reserved.

E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Kesehatan|Bencana|SPMB|PTN|Anggaran|Perguruan Tinggi|PTS|Backlog|Pendidikan|WNI|Infrastruktur|layanan kesehatan|OJK
Jakarta:
Berawan
30°C
Terasa: 33°C
Lembab: 65%
Angin: 15 km/h
/
/
E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Kesehatan|Bencana|SPMB|PTN|Anggaran|Perguruan Tinggi|PTS|Backlog|Pendidikan|WNI|Infrastruktur|layanan kesehatan|OJK
Jakarta:
Berawan
30°C
Terasa: 33°C
Lembab: 65%
Angin: 15 km/h
/
/
Berita/Industri dan Pembangunan

Legislator Soroti Overlapping Kebijakan Tata Ruang dan Kriminalisasi Nelayan di Karimun

Diterbitkan
Selasa, 2 Des 2025 10.24 WIB
Bagikan:
Legislator Soroti Overlapping Kebijakan Tata Ruang dan Kriminalisasi Nelayan di Karimun

Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo saat mengikuti RDPU Komisi IV bersama Dewan Pengurus Yayasan Wahana Aksi Kritis Nusantara di ruang Komisi IV, Senin (1/12). Foto: Karisma/vel.

PARLEMENTARIA, Jakarta – Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo menyoroti berbagai persoalan yang dihadapi nelayan, khususnya di kawasan Karimun Jaya. Diketahui hingga saat ini, nelayan masih terjebak dalam konflik tata ruang dan lemahnya koordinasi antar-kementerian maupun pemerintah daerah.

Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi IV bersama Dewan Pengurus Yayasan Wahana Aksi Kritis Nusantara (Waskita) Firman menyampaikan bahwa sekitar 70 persen masyarakat Karimun menggantungkan hidup pada sektor perikanan dan pelautan tradisional. Kondisi tersebut menurutnya serupa dengan wilayah pesisir lain seperti Sarang, Juwana, Bintan, dan Rempang.

Dari situ, Firman menyebut bahwa banyak persoalan muncul akibat overlapping kebijakan daerah, terutama dalam urusan tata ruang. Ia menilai implementasi otonomi daerah kerap mendorong kepala daerah lebih fokus mengejar peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), tanpa mempertimbangkan keberlanjutan sektor perikanan maupun pertanian.

“Bupati dan kepala daerah mengejar penerimaan daerah, sehingga begitu mudah merubah tata ruang. Alih fungsi lahan terjadi karena yang dilihat hanya siapa yang bisa memberi kontribusi besar,” tegas Firman dalam RDPU di Gedung Nusantara, Jakarta, Senin (1/12). 

Ia menyebut praktik semacam itu menyebabkan kawasan pesisir dan ruang tangkap nelayan semakin tergerus oleh perizinan yang diberikan untuk kepentingan industri lain.

Masalah lain yang disoroti Firman adalah kriminalisasi terhadap nelayan, yang menurutnya terjadi di berbagai daerah. Ia mengaku baru saja menangani kasus penangkapan kapal nelayan yang diperlakukan bak pelaku kejahatan besar.

“Perlakuannya seperti kriminal besar. Syukur bisa diselesaikan lewat komunikasi dan mediasi, tapi ini tidak boleh terus terjadi,” kata Firman.

Karena persoalan tata ruang melibatkan banyak lembaga mulai dari pemerintah daerah, BPN, Kementerian Dalam Negeri, hingga Komisi II DPR RI, Firman mengusulkan rapat gabungan lintas komisi dan kementerian. Ia mengakui bahwa Komisi IV tidak dapat langsung mengundang kementerian di luar mitra kerja tanpa izin pimpinan DPR.

“Masalah ini tidak bisa ditangani Komisi IV saja. Perlu koordinasi lintas komisi. Kami berharap pimpinan DPR dapat membuka ruang untuk rapat gabungan agar solusi komprehensif bisa dirumuskan,” ungkapnya.

Terakhir, Firman mengatakan  bahwa nelayan merupakan masyarakat yang paling terdampak kebijakan tata ruang dan harus dilindungi. “Mereka adalah masyarakat yang berhadapan langsung dengan dampak kebijakan. Kita harus mencarikan solusi, bukan membiarkan masalah berlanjut,” pungkasnya. •ujm/aha

Berita terkait

Cegah Tumpang Tindih Lahan, Baleg Dorong Sinkronisasi Tata Ruang dan Kehutanan
Politik dan Keamanan
Cegah Tumpang Tindih Lahan, Baleg Dorong Sinkronisasi Tata Ruang dan Kehutanan
Sinkronisasi Regulasi Tata Ruang, Komisi II Soroti Implementasi LSD Surakarta
Politik dan Keamanan
Sinkronisasi Regulasi Tata Ruang, Komisi II Soroti Implementasi LSD Surakarta
Rp300 Miliar untuk RDTR Demi Target Benahi Tata Ruang Kepulauan di Indonesia
Politik dan Keamanan
Rp300 Miliar untuk RDTR Demi Target Benahi Tata Ruang Kepulauan di Indonesia
Tags:#Seputar Parlemen#Komisi IV
Sebelumnya

Baleg Setujui Hasil Penyusunan RUU BPIP Diproses ke Tahap Selanjutnya

Selanjutnya

Komisi XIII Soroti Pentingnya Penguatan Tata Kelola KI di Aceh Besar

Kembali ke Berita

TAUTAN CEPAT

Berita Populer
Pencarian Lanjutan

KATEGORI

  • Semua Kategori
  • Buletin Parlementaria(5)
  • Ekonomi dan Keuangan(935)
  • Industri dan Pembangunan(3349)
  • Isu Lainnya(1025)
  • Kesejahteraan Rakyat(3350)
  • Majalah Parlementaria(5)
  • Politik dan Keamanan(4083)
  • Populer(418)
  • Uncategorized(4)

TAG POPULER

#Seputar Parlemen#Berita Utama#Komisi X#Komisi III#Komisi IV#BKSAP#Komisi VIII#Komisi IX#Komisi II#Komisi VII

ARSIP BERITA

INFOGRAFIS

DPR RI Buka Pendaftaran, Seleksi, dan Pemilihan Anggota Badan Supervisi OJK
Parlemen Remaja

Parlemen Remaja

Syarat dan Ketentuan Umum

PODCAST

IKUTI KAMI

E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Kesehatan|Bencana|SPMB|PTN|Anggaran|Perguruan Tinggi|PTS|Backlog|Pendidikan|WNI|Infrastruktur|layanan kesehatan|OJK
Jakarta:
Berawan
30°C
Terasa: 33°C
Lembab: 65%
Angin: 15 km/h