E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Bencana|SPMB|PTN|Kesehatan|Anggaran|Perguruan Tinggi|PTS|Backlog|Pendidikan|WNI|Infrastruktur|layanan kesehatan|OJK
Jakarta:
Berawan
30°C
Terasa: 33°C
Lembab: 65%
Angin: 15 km/h
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Partner 1Partner 2

E-Media DPR RI

Gedung Nusantara II Lt.3 Jl. Jend. Gatot Subroto – Senayan Jakarta – 10270

© 2026 E-Media DPR RI. All rights reserved.

E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Bencana|SPMB|PTN|Kesehatan|Anggaran|Perguruan Tinggi|PTS|Backlog|Pendidikan|WNI|Infrastruktur|layanan kesehatan|OJK
Jakarta:
Berawan
30°C
Terasa: 33°C
Lembab: 65%
Angin: 15 km/h
/
/
E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Bencana|SPMB|PTN|Kesehatan|Anggaran|Perguruan Tinggi|PTS|Backlog|Pendidikan|WNI|Infrastruktur|layanan kesehatan|OJK
Jakarta:
Berawan
30°C
Terasa: 33°C
Lembab: 65%
Angin: 15 km/h
/
/
Berita/Industri dan Pembangunan

Batasi Kuota Impor, Totok Hedisantosa Ingatkan Gula Rafinasi Jangan Merembes ke Pasar Rakyat

Diterbitkan
Senin, 6 Okt 2025 09.45 WIB
Bagikan:
Batasi Kuota Impor, Totok Hedisantosa Ingatkan Gula Rafinasi Jangan Merembes ke Pasar Rakyat

Anggota Komisi VI DPR RI GM Totok Hedisantosa saat mengikuti Kunjungan Kerja dalam rangka meninjau Perkembangan Industri Gula dan Ketahanan Pangan, di Surabaya, Jawa Timur Jumat (3/10/2025). Foto: Runi/vel.

PARLEMENTARIA, Surabaya – Anggota Komisi VI DPR RI GM Totok Hedisantosa menyoroti persoalan peredaran gula rafinasi yang kerap merembes ke pasar konsumsi masyarakat. Padahal, sesuai aturan, gula rafinasi hanya diperuntukkan bagi kebutuhan industri.

Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini menegaskan bahwa kebutuhan gula nasional sebenarnya dapat tercukupi dari produksi dalam negeri. Namun, masalah utama terletak pada mekanisme pasar dan distribusi yang belum memberikan keuntungan memadai bagi petani.

“(Produksi) gula kita sebenarnya tercapai. Problemnya, petani belum mendapat benefit yang baik dari pertaniannya. Ditambah lagi, gula rafinasi yang seharusnya untuk industri malah merembes ke pasar rakyat karena lebih murah,” ujarnya saat mengikuti Kunjungan Kerja dalam rangka meninjau Perkembangan Industri Gula dan Ketahanan Pangan, di Surabaya, Jawa Timur Jumat (3/10/2025). 

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa impor gula untuk kebutuhan industri masih diperbolehkan, tetapi harus melalui asesmen data kebutuhan yang jelas agar kuotanya tidak berlebihan.

“Impor untuk industri silakan, karena kita memang belum bisa memenuhi sepenuhnya. Tetapi kuotanya harus jelas berdasarkan asesmen kebutuhan industri. Jangan kebutuhan hanya 4 ton tapi diimpor 10 ton, itu akhirnya sengaja masuk ke pasar,” tegasnya.

Selain itu, pemerintah diminta memperhatikan penggunaan anggaran peningkatan produksi gula yang nilainya cukup besar, di mana pemerintah saat ini melalui melalui Badan Pengelola Investasi Danantara menyiapkan anggaran sebesar Rp 1,5 triliun dari BUMN Pangan, untuk menyerap gula kristal putih (GKP) petani yang menumpuk di gudang akibat isu impor gula dan produk etanol.

Dana tersebut disalurkan ke BUMN pangan seperti ID Food dan Sinergi Gula Nusantara (SGN) untuk membeli gula petani, menjaga agar harga gula tetap stabil di atas Rp 14.500 per kg, dan meningkatkan semangat petani tebu. Menurutnya Totok anggaran tersebut sah-sah saja digunakan, asalkan akuntabel dan berdampak pada produktivitas.

“Apapun yang dilakukan dengan dana besar, asal bisa dipertanggungjawabkan dan produktif, tidak masalah. Jangan sampai dana besar dikeluarkan tapi tidak meningkatkan produksi,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan rendemen tebu. Rendemen yang rendah membuat hasil gula tidak optimal. Karena itu, ia mendorong PTPN dan lembaga terkait untuk aktif memberikan pelatihan serta penelitian agar petani mampu menanam tebu dengan baik di tengah perubahan iklim.

“Kalau rendemen terlalu kecil, hasilnya pasti kurang baik. Maka perlu ada litbang di PTPN dan institusi lain untuk membantu petani. Jangan semua disalahkan ke perubahan iklim, harus ada solusi konkret,” tandasnya. •rni/rdn

Berita terkait

Tidak Cukup Operasi di Lapangan, Rembesnya Gula Rafinasi ke Pasar Konsumsi Harus Diselesaikan dari Hulu
Industri dan Pembangunan
Tidak Cukup Operasi di Lapangan, Rembesnya Gula Rafinasi ke Pasar Konsumsi Harus Diselesaikan dari Hulu
Gula Impor Bocor ke Pasar Konsumsi, Komisi VI Desak Evaluasi Total Tata Niaga Gula Nasional
Industri dan Pembangunan
Gula Impor Bocor ke Pasar Konsumsi, Komisi VI Desak Evaluasi Total Tata Niaga Gula Nasional
Bentuk Panja, Komisi VI Selidiki Kebocoran Gula Rafinasi ke Pasar Konsumsi
Industri dan Pembangunan
Bentuk Panja, Komisi VI Selidiki Kebocoran Gula Rafinasi ke Pasar Konsumsi
Tags:#Seputar Parlemen#Komisi VI
Sebelumnya

Fathi: Uang Negara untuk Subsidi Listrik Harus Benar-Benar Sampai ke Rakyat

Selanjutnya

Reforma Agraria Beri Dampak Nyata bagi Rakyat

Kembali ke Berita

TAUTAN CEPAT

Berita Populer
Pencarian Lanjutan

KATEGORI

  • Semua Kategori
  • Buletin Parlementaria(5)
  • Ekonomi dan Keuangan(935)
  • Industri dan Pembangunan(3348)
  • Isu Lainnya(1025)
  • Kesejahteraan Rakyat(3349)
  • Majalah Parlementaria(5)
  • Politik dan Keamanan(4081)
  • Populer(418)
  • Uncategorized(4)

TAG POPULER

#Seputar Parlemen#Berita Utama#Komisi X#Komisi III#Komisi IV#BKSAP#Komisi VIII#Komisi IX#Komisi II#Komisi VII

ARSIP BERITA

INFOGRAFIS

DPR RI Buka Pendaftaran, Seleksi, dan Pemilihan Anggota Badan Supervisi OJK
Parlemen Remaja

Parlemen Remaja

Syarat dan Ketentuan Umum

PODCAST

IKUTI KAMI

E-Media DPR RI – Berita Resmi, Informasi Publik, dan Kegiatan Parlemen Indonesia
BerandaBeritaMedia Sosial DPRTVR ParlemenBukuMajalahBuletinAgenda Rapat DPRLainnya
TRENDING:
Bencana|SPMB|PTN|Kesehatan|Anggaran|Perguruan Tinggi|PTS|Backlog|Pendidikan|WNI|Infrastruktur|layanan kesehatan|OJK
Jakarta:
Berawan
30°C
Terasa: 33°C
Lembab: 65%
Angin: 15 km/h