
“Setiap tahun Gunung Lawu terbakar, baik di sisi Magetan di Jawa Timur maupun di sisi Jawa Tengah. Saya sudah berdiskusi dengan masyarakat penjaga hutan di lereng Lawu, bahkan ada yang sudah lanjut usia. Mereka ini hidup separuh waktunya untuk menyelamatkan hutan, tapi dengan alat yang sangat terbatas,” ungkapnya dalam forum Dialektika DPR RI di Gedung Nusantara I, DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (31/07/2025).
Ia menyoroti pentingnya deteksi dini, patroli rutin, serta penguatan peran kelompok masyarakat peduli hutan. Selain itu, alokasi anggaran untuk penanggulangan bencana juga dianggap belum proporsional.
“Jangan-jangan anggaran kita belum sampai satu persen. Kalau 13% pun, itu masih harus kita tinjau efektivitasnya. Apalagi dampaknya bukan hanya lingkungan, tapi juga ekonomi dan kesehatan,” tegas Politisi Fraksi PKS ini.
Ia mendorong pendekatan yang lebih modern dan kolaboratif, termasuk kerja sama antara DPR, pemerintah, masyarakat lokal, dan organisasi lingkungan. Penanganan kebakaran juga perlu dilengkapi dengan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran dan edukasi kepada masyarakat.
“Kalau kita ingin hutan menjadi bagian dari ketahanan pangan nasional, maka pengelolaan dan pengawasan harus betul-betul serius. Para penjaga hutan ini punya peran besar dan harus kita perhatikan,” tutupnya. •ahk, gal/rdn